15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aksi Hari Tani: Ini Tuntutan Mahasiswa di Banda Aceh

...

  • Fazil
  • 24 September 2018 14:40 WIB

@Fazil/portalsatu.com
@Fazil/portalsatu.com

BANDA ACEH - Ratusan mahasiswa tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pertanian Banda Aceh dan Aceh Besar, melakukan aksi memperingati Hari Tani Nasional ke-58, di Simpang Lima, Kota Banda Aceh, Senin, 24 September 2018.

Mahasiswa tersebut dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Pertanian (BEM FTP) Universitas Serambi Mekkah, BEM Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, dan BEM Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama. Mulanya, mereka berorasi secara bergantian di Simpang Lima selama 30 menit dan membentang spanduk maupun poster bertulisakan “Selamatkan Petani Indonesia”, “Stop Impor Pangan”, “Selesaikan Konflik Agraria” dan beberapa pernyataan lainnya.

Setelah berorasi, kemudian ratusan mahasiswa menuju Gedung DPRA untuk menyampaikan aspirasi mereka. Tiba di gerbang utama Kompleks Gedung DPRA mahasiswa berorasi beberapa menit. Mereka juga meminta pihak keamanan membuka pintu gerbang. Lalu, polisi yang mengamankan aksi mahasiswa itu mempersilakan mahasiswa masuk ke halaman Gedung DPRA.

Koordinator lapangan, Aditya Siddio, mengatakan, ada beberapa tuntutan mahasiswa dan perlu evaluasi terhadap kebijakan pemerintah, salah satunya terkait impor beras. Sebagaimana diketahui, kata dia, sebanyak 15 ribu ton beras impor masuk ke Aceh. Hal ini disayangkan, karena Aceh mampu menghasilkan produksi maksimal hingga surplus.

“Kita meminta pemerintah agar menghentikan impor beras, karena dengan impor itu pemberdayaan pertanian lokal akan semakin berkurang. Dengan banyaknya masuk beras impor khususnya di Aceh maka patani bingung ingin menjual kemana, padahal kita (Aceh) akan melakukan musim panen. Jadi ketika petani sudah mulai panen padi dan beras impor itu masuk lalu beras lokal ini ingin dibawa keaman,” kata Aditya Siddio kepada para wartawan di sela-sela aksi tersebut.

Mahasiswa juga meminta harus ada tindak tegas berkenaan alih fungsi lahan pertanian menjadi tambang ataupun bangunan-bangunan. "Itu harus ada upaya tindak lanjut oleh pemerintah dan DPRA. Karena semakin berkurangnya lahan pertanian, maka semakin menurun produktivitas dari pertanian khususnya di Aceh dan Indonesia pada umumnya," ujar Aditya.

Ketua BEM Fakultas Pertanian Unsyiah, Muhammad Nizam Auza, menyebutkan, pihaknya juga menuntut pemerintah mewujudkan reforma agraria seperti budayakan petani lokal, pembentukan industri terpadu, setop alih fungsi lahan.

“Hentikan impor beras di Aceh dan mulai kedaulatan pangan. Kebijakan pemerintah harus prorakyat dan disampaikan melaui informasi sebelum dieksekusi. Kita juga menuntut pemerintah agar berkomitmen menjaga dan melindungi hutan ekosistem Leuser. Kita meminta agar pemerintah mencabut izin tambang Beutong Ateuh karena merusak lahan pertanian dan perkebunan yang menghilangkan mata pencaharian para petani tersebut,” kata Nizam Auza.

Menyangkut beras, menurut Nizam, Aceh bahkan surplus. Maka cukup memprihatinkan ketika Aceh menerima impor beras sebanyak 15 ribu ton. Sehingga harga jual padi petani akan semakin murah.

"Tentunya ini sangat merugikan bagi petani khususnya di Aceh. Untuk itu, kita menyampaikan aspirasi ini kepada DPRA untuk dapat ditindaklanjuti tuntutan para mahasiswa,” ujarnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.