23 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Alkaf: Aceh dan Sejarah yang Pincang

...

  • MUDIN PASE
  • 01 February 2019 07:45 WIB

Alkaf. Foto: istimewa
Alkaf. Foto: istimewa

BANDA ACEH - Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Alkaf, mengatakan generasi baru Aceh harus kembali menulis. Bukan hanya tentang segala keilmuan praktis, tapi juga tentang sejarah.

"Menurut saya, penulisan sejarah Aceh pincang," ujar  Alkaf kepada portalsatu.com, 31 Januari 2019, terkait makalahnya disampaikan dalam Diskusi Literasi Aceh "Sejarah yang tak Tertuliskan", di Seulawah Kopi, Beurawe, Banda Aceh, 26 Januari lalu.

Dalam makalah itu, Alkaf menguliti narasi sejarah yang hanya tertumpu pada yang terkesan besar, tapi mengesampingkam hal yang juga penting. "Sejak abad yang lalu, di mana narasi besar selalu saja mendapatkan panggung, dan meminggirkan narasi kecil," jelas pria dengan nama esai Bung Alkaf.

Alkaf menilai, penulisan terutama sejarah, selama ini memberi fokus kepada hal-hal besar; tokoh-tokoh sentral, daerah dan wilayah besar, alur besar dan organisasi mainstream. Akan tetapi, abai pada kelompok sempalan, suara orang-orang kecil dan aspirasi mahasiswa. 

"Untuk hal yang disebut terakhir, saya pernah menulis satu karya akademik, berbentuk tesis, tentang Pasang Surut Gerakan Mahasiswa: Kasus Referendum Aceh. Topik itu saya pilih karena melihat, penulisan sejarah politik Aceh pasca 1998 selalu saja menghadapkan dua “hal besar,” GAM dengan militer Indonesia," ungkap pendiri Padebooks ini.

Alkaf melanjutkan, kelompok sipil, dalam hal ini mahasiswa, dijadikan sebagai sub-ordinat belaka. Beranjak dari itu, ia menulis topik gerakan mahasiswa secara khusus. "Tentang apa-apa yang tumbuh dalam pikiran mereka di masa pergolakan pascareformasi, juga mengenai ide yang kemudian mereka gerakkan," kata mantan pekerja di Aceh Institut ini.

Untuk penulisan topik tersebut, Alkaf bertemu dengan berbagai elemen mahasiswa kala itu. Baik tokoh utamanya maupun tukang pasang spanduk. Menanyakan tentang apa yang dulunya mereka perjuangkan. "Tidak sebagai sub-ordinat gerakan lain. Akan tetapi sebagai gerakan mandiri, walau kadang muncul ke permukaan sepertinya mereka menempel di gerakan lain. Padahal secara intelektual mahasiswa itu punya idealisme tersendiri," jelasnya.

Menurut Alkaf, ini hal yang luput diamati para penulis sejarah Aceh kini. "Kita takut suatu saat kekaburan sejarah ini akan mengaburkan juga sebuah episode sejarah Aceh, terutama perjuangan rakyat Aceh, khususnya mahasiswa," ungkap pengagum Bung Karno ini merasa prihatin.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.