26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Anggaran Semakin Besar Angka Kemiskinan Aceh Masih Tinggi, Ini Pandangan Saiful Mahdi

...

  • MUDIN PASE
  • 13 February 2019 09:40 WIB

Saiful Mahdi. Foto istimewa
Saiful Mahdi. Foto istimewa

BANDA ACEH - Ketua Pendiri Jurusan Statistika FMIPA Unsyiah, Saiful Mahdi, mengatakan, walaupun angka kemiskinan terus menurun, tapi jika dibandingkan dengan provinsi lain, Aceh masih “paling miskin” di Sumatera dan termiskin keenam di Indonesia berdasarkan persentase penduduk miskin. 

"Ada sejumlah penjelasan penyebab kemiskinan. Amartya Sen, Ekonom Harvard kelahiran India, misalnya, berargumen bahwa ada penyebab-penyebab “struktural” dan “kultural” di belakang kasus-kasus kemiskinan. Ada orang yang “dimiskinkan” oleh struktur ekonomi, politik, dan sosial dalam masyarakat," ujar Saiful Mahdi yang meraih gelar doktor dari Cornell University setelah mendapatkan master bidang Statistika di University of Vermont (UVM), Amerika Serikat.

Saiful Mahdi menyampaikan itu saat portalsatu.com,  12 Februari 2019, meminta tanggapannya tentang besarnya anggaran pemerintah dari tahun ke tahun tapi angka kemiskinan di Aceh masih tinggi.

Dia melanjutkan, mereka yang hidup miskin di perdesaan dengan infrastruktur yang buruk—tak ada jalan ke pasar, jembatan rusak, irigasi tak ada, akses permodalan terbatas, dan pasar yang buruk karena monopoli atau oligopoli, adalah mereka yang jatuh miskin, tepatnya dimiskinkan secara struktural.

"Walaupun petani dan nelayan adalah pekerja keras, tapi karena tak ada lingkungan yang memampukan (enabling environment), karena struktur ekonomi, politik, dan sosial yang tidak adil. Mereka tetap miskin, bahkan makin dimiskinkan oleh struktur tersebut," ungkap peneliti di Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah ini.

Lebih lanjut Saiful menjelaskan, ada juga kemiskinan yang disebabkan alasan-alasan kultural seperti sifat malas, tak mau bekerja keras, memilih-milih pekerjaan, dan budaya patriaki. 

"Walaupun struktur ekonomi telah terbuka, politik sudah demokratis, dan status sosial makin egaliter, tapi tetap ada warga yang miskin karena kebiasaan hidup dan sifat-sifat manusia karena adat-budaya yang dipercayainya. Ada orang, misalnya, yang lebih suka tidak bekerja ketimbang bekerja kasar dan dianggap rendah oleh orang sekitarnya," kata Saiful Mahdi.

Menurut Saiful Mahdi, di Aceh alasan struktural penyebab kemiskinan mungkin masih ada, tapi semakin berkurang karena adanya usaha untuk terus memperbaiki infrastruktur ekonomi, politik, dan sosial. Sehingga akses dan mobilitas semakin luas dan mudah.

"Kita bisa bepergian dan mencari nafkah kemana saja tanpa halangan yang berarti. Jalan, jembatan, irigasi, pasar tersedia sampai ke pelosok negeri. Lembaga keuangan ada hingga ke tingkat kecamatan bahkan desa. Maka yang dibutuhkan kini menemukan formulasi yang tepat agar kemiskinan tidak terus tinggi walau anggaran pemerintah juga makin tinggi," tandas Saiful Mahdi.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.