21 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bandar Narkoba 'Dipajang', Ini Komentar Pengamat

...

  • ANTARA
  • 26 February 2019 18:00 WIB

Arsip. Tiga tersangka pengedar narkotika beserta barang bukti narkotik ditunjukkan kepada media saat rilis di Kantor Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau, di Pekanbaru, Riau, Minggu (9/4/2017). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Arsip. Tiga tersangka pengedar narkotika beserta barang bukti narkotik ditunjukkan kepada media saat rilis di Kantor Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau, di Pekanbaru, Riau, Minggu (9/4/2017). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

PEKANBARU - Pengamat Hukum Pidana Universitas Riau, Dr. Erdianto Effendi, mendukung Polresta Denpasar memajang atau mempertontonkan para bandar narkoba yang telah ditangkap pada acara "car free day" di Denpasar, Bali, sebagai upaya menimbulkan efek jera bagi pelaku dan calon pelaku.

"Sebab tujuan pemidanaan menurut undang-undang adalah mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat," kata Erdianto di Pekanbaru, Selasa, 26 Februari 2019.

Dukungan tersebut disampaikannya terkait sebanyak 23 bandar narkoba dipajang di Lapangan Puputan Renon, Denpasar, Minggu (24/2), dan warga yang lewat bisa melihat para bandar barang-barang haram tersebut.

Menurut Erdianto, tujuan pemidanaan lainnya adalah menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat.

Selain itu, katanya, pemidanaan juga bertujuan memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadikannya orang baik dan berguna, membebaskan rasa bersalah dari si terpidana.

"Karena itu tidak salah jika pemidanaan dilakukan dengan jalan terbuka agar memberikan efek jera yang lebih efektif, dan saya bahkan setuju jika ada alternatif bentuk pidana seperti pidana kerja sosial," katanya.

Sebab, katanya lagi, proses pemidanaan alternatif demikian, lebih singkat, tidak memakan biaya yang banyak tetapi memberi efek penjeraan yang cukup. Namun jangan lupa dengan prinsip pemasyarakatan bahwa tujuan pemidanaan adalah pembinaan dan harus tetap mengedepankan kemanusiaan.

Ia menjelaskan, pemidanaan harus memerhatikan prinsip-prinsip pemasyarakatan yaitu orang yang tersesat harus diayomi dengan memberi bekal hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna bagi masyarakat, sedangkan penjatuhan pidana bukan tindakan balasan dari negara.

"Apalagi rasa tobat tidak dapat dicapai dengan disiksa melainkan bimbingan, dan negara tidak boleh membuat napi lebih buruk atau lebih jahat dibanding sebelum masuk penjara. Napi harus diperkenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan," katanya.

Sedangkan pekerjaan yang diberikan harus untuk pembangunan negara, bukan sekadar mengisi waktu. Di samping itu, bimbingan dan didikan berdasar Pancasila, dimana tiap orang adalah manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia.

Reporter: Frislida.[]Sumberantaranews.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.