19 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bea Cukai Lhokseumawe Musnahkan 70 Ton Bawang Merah Ilegal asal Thailand

...

  • Fazil
  • 15 May 2019 14:00 WIB

Foto: Fazil/portalsatu.com
Foto: Fazil/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Kota Lhokseumawe memusnahkan 70 ton bawang merah yang tidak memiliki legalitas hukum serta melanggar ketentuan karantina wilayah Indonesia.

Pemusnahan secara simbolis dilakukan di Gudang Bulog Punteut, Lhokseumawe, Rabu, 15 Mei 2019. Setelah itu, bawang tersebut dibawa menggunakan dump truck ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, untuk dimusnahkan dengan cara ditimbun. Bawang impor ilegal asal Thailand itu hasil sitaan tim patroli yang ditemukan di perairan Jambo Aye pada 15 April 2019, lalu.

Kepala Kantor Bea Cukai Lhokseumawe, Suparyanto, mengatakan, pihaknya memusnahkan sebanyak 70 ton bawang merah impor ilegal asal Thailand. Ini merupakan hasil penindakan yang ditemukan dari dua kapal yakni eks-KM. Sinar Rahmat Laot GT. 25 No. 3105/PPf dan eks-KM. Samudra Al-Mubarakah GT. 45 No. 1385/PPf. 

"Ada dua tersangka yang sudah dititipkan di Lapas Kelas II A Lhokseumawe, keduanya berinisial M dan SY warga Aceh Timur yang merupakan penanggung jawab nahkoda atas muatan bawang ilegal yang ada di dalam kapal tersebut. Jadi, sepertinya masih banyak masuk barang atau bawang ilegal dari Thailand untuk memasok kebutuhan di Provinsi Aceh," kata Suparyanto kepada para wartawan, Selasa.

Untuk itu, kata Suparyanto, tentu pihaknya selalu berkoordinasi dengan pihak Lanal Lhokseumawe, Polairud, serta membuka ruang penyampaian informasi dari masyarakat apabila adanya terjadi penyundulupan yang sama di kemudian hari.

Ia menambahkan, hasil uji laboratorium bahwa bawang itu memang tidak layak dikonsumsi karena sudah busuk. 

"Bawang merah ilegal ini sebelum dimusnahkan itu dititipkan sementara di Gudang Bulog Lhokseumawe sekitar satu bulan lalu, karena keterbatasan ruang di Kantor Bea dan Cukai," ujar Suparyanto.

Suparyanto merincikan, bawang merah ilegal impor tersebut masing-masing sebanyak 1.748 karung berukuran 20 kilogram, dan 3.872 karung ukuran 10 kilogram. Barang impor itu tanpa dilengkapi dengan dokumen kepabaenan. Kerugian yang ditimbulkan berupa kerugian materil dan imateril.

"Kerugian materil berupa potensi penerimaan negara yang tidak tertagih dari bea masuk, pajak dalam rangka impor dan cukai yaitu sebesar Rp713.924.763. Sedangkan kerugian imateril yang ditimbulkan apabila bawang merah impor ilegal yang tidak melalui proses tindakan karantina ini beredar adalah membahayakan kesehatan konsumen, dapat menyebarkan virus atau bibit penyakit juga dapat mengganggu kelangsungan produksi oleh petani bawang merah di dalam negeri," ungkap Suparyanto.

Menurut Suparyanto, tindakan pidana itu melanggar Pasal 102 huruf a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat satu tahun, dan paling lama 10 tahun.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.