12 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Disebut punah 100 tahun lalu
Benarkah 'Serigala-Jepang' yang Dianggap Suci Masih Berkeliaran di Jepang?

...

  • BBC Indonesia
  • 06 November 2019 21:30 WIB

Warga Jepang mendengar tentang serigala dari cerita-cerita lokal. @Hiroshi Yagi
Warga Jepang mendengar tentang serigala dari cerita-cerita lokal. @Hiroshi Yagi

Mungkinkah serigala Jepang, yang diperkirakan punah selama 100 tahun, masih berkeliaran di pegunungan Jepang? Sekelompok orang mencoba membuktikan keberadaan hewan yang dianggap suci itu.

Hiroshi Yagi sedang mengemudi di Taman Nasional Chichibu Tama Kai ketika hewan itu muncul dari arah sungai di sebelah kirinya, melintas di depannya dan berhenti sekitar dua meter dari mobilnya.

Binatang itu tidak menunjukkan rasa takut ketika Yagi bergerak pelan-pelan ke arahnya dan mengambil beberapa foto. Makhluk itu tampaknya tidak terpengaruh oleh kehadiran manusia.

Entah karena dia nyaman berada di sekitar manusia, atau merasa tidak terancam karena statusnya sebagai predator puncak.

"Kejadian itu berlangsung 23 tahun yang lalu, dan saya tidak tahu banyak saat itu," kata Yagi. "Tapi saya berpikir, itu pasti serigala'."

Yagi, seorang pendaki gunung, menghabiskan banyak waktu di pegunungan di sekitar Chichibu di Jepang tengah, tetapi ini adalah pertama kalinya dia berhadapan dengan seekor binatang yang ia cari hampir sepanjang hidupnya.

"Saya memutuskan untuk memberinya osenbei (makanan ringan yang terbuat dari tepung beras) dan mengulurkan tangan saya untuk menawarkannya kepadanya," kata Yagi.

"Saya menggunakan tangan kanan sehari-hari, jadi saya menawarkan makanan itu dengan tangan kiri saya. Jadi jika dia menggigit lengan kiri saya, saya akan baik-baik saja."

"Dia tepat di berada di depan saya saat itu. Saya mengarahkan makanan itu tepat di bawah mulutnya. Tapi dia tidak memakannya. Dia hanya berdiri di sana. Saya mencoba mengendus, apakah dia berbau seperti binatang buas, dan ternyata dia tidak berbau. Seperti bayi yang baru lahir, dia tidak takut akan bahaya. "

Serigala telah punah di Jepang selama setidaknya 100 tahun, menurut catatan ilmiah.

Sisa-sisa serigala Jepang terakhir dibeli oleh seorang ahli binatang pada tahun 1905 dan bulu dari serigala itu dibawanya ke museum di London.

Penemuan tulang, bulu, dan kotoran serigala, yang semuanya tampak berasal dari sebelum tahun 1905, membuat apa yang diceritakan Yagi terdengar mustahil.

Mengapa Yagi begitu yakin bahwa ia telah bertemu serigala?

Jawabannya karena dia, seperti banyak orang lain di daerah pedesaan Jepang, telah mendengar cerita lokal tentang serigala di masa lampau.
Laporan lokal

Ketertarikan Yagi terhadap serigala Jepang dimulai sekitar 20 tahun sebelum ia menjumpai binatang, yang diduganya serigala, pada tahun 1996.

Dia sedang bertugas jaga malam di sebuah pondokan di sebuah gunung, yang didirikan oleh komunitas mendaki di mana ia bergabung.

"Saat itulah saya mendengar lolongan," kata Yagi. "Saya tahu bahwa serigala Jepang telah dinyatakan punah sejak era Meji [yang berakhir pada tahun 1912], tetapi saya berpikir, 'Hewan yang tidak ada, tidak mungkin bisa melolong'."

Itu adalah awal mula pencariannya terhadap serigala yang berlangsung selama sekitar setengah abad.

Foto-foto yang dia ambil pada malam itu memicu imajinasi penduduk Chichibu setelah ahli zoologi Jepang terkemuka, yang meneliti foto-foto itu, mengatakan binatang itu sangat terlihat seperti serigala.

Namun, ia tidak menyimpulkan bahwa binatang itu adalah serigala yang sudah punah.

Sementara banyak akademisi tetap skeptis tentang keberadaan serigala, beberapa ahli menyimpulkan bahwa binatang dalam foto Yagi sangat mirip dengan serigala Jepang.

Hewan itu dikenal sebagai "Chichibu yaken" (atau "anjing liar" Chichibu).

Tak lama kemudian, warga Jepang lainnya mulai menceritakan hal yang sama. 

"Ibu saya mengatakan kepada saya bahwa temannya di Chichibu - seorang wanita berusia 50-an - mengaku telah melihat binatang seperti serigala di kebunnya pada bulan Desember," kata Alex Martin, seorang jurnalis Amerika-Jepang yang telah memulai pencarian serigala setelah mendengar cerita Yagi.

Ada banyak laporan tentang penampakan serigala, laporan tentang suara melolong dan temuan tulang, kotoran, dan bulu, yang membuat beberapa orang percaya bahwa hewan itu mungkin masih hidup dan berkeliaran di pegunungan Jepang.

Serigala Jepang sering digambarkan dalam sastra dan cerita rakyat Jepang sebagai binatang "mistis", ujar Martin.

Serigala Jepang atau hodophilax, disebut sebagai "penjaga jalan" mengacu pada legenda Jepang "okuri-okami" atau "serigala pengawal" yang mengikuti para pemburu di gunung dan menjaga mereka selama perjalanan.

Versi lain dari cerita rakyat menceritakan tentang okuri-okami yang menyerang pelancong yang jatuh atau mereka yang bertindak tidak sopan pada serigala.

Mungkin, legenda itu terinspirasi dari perilaku serigala yang sebenarnya, di mana mereka diketahui kerap mengintai mangsa selama beberapa kilometer sebelum menyerang, memberi kesan seakan-akan mereka melindungi para pengembara, padahal sebenarnya mereka sedang berburu.

Serigala Jepang disembah di Jepang, dan sangat dihormati di Chichibu di mana banyak tempat pemujaan pada serigala.

Salah satu kuil, Mitsumine, konon didirikan oleh seorang pangeran, yang pernah dipandu ke tempat yang aman oleh serigala putih besar.

Seni dan sastra Jepang modern juga sering menggambarkan serigala.

Film animasi Princess Mononoke (1997), yang konon didasarkan pada legenda Kuil Mitsumine, menampilkan dewi serigala putih besar yang membesarkan anak manusia bernama San, dimainkan oleh Yuriko Ishida di Jepang dan Claire Danes dalam versi bahasa Inggris , yang menjadi salah satu tokoh protagonis di film tersebut.
Pencarian amatir

Karena popularitas Yagi yang meningkat, peneliti melalukan pencarian serigala didukung oleh sekitar 20 orang lainnya -semuanya amatir -dengan sekitar enam orang di antaranya mendedikasikan hampir seluruh waktu mereka untuk melakukan pencarian.

"Ketika foto-foto itu dipublikasikan, banyak orang datang untuk berbagi kisah tentang bagaimana mereka melihat atau mendengar serigala," kata Yagi. "Kami dipersatukan oleh pengalaman kami yang serupa."

Namun Yagi mengakui bahwa foto-foto yang diambilnya 23 tahun lalu bukanlah bukti pasti yang ia butuhkan.

Sekarang, pencarian beralih ke teknologi modern untuk membantu menangkap bukti lebih lanjut, termasuk sekitar 70 kamera video infra merah, yang sensitif terhadap gerakan, yang dipasang di pegunungan Okuchichibu.

Sekitar setahun yang lalu, mereka merekam tiga rusa berlari melewati salah satu kamera ini. Ketika diperiksa, suara lolongan terekam dalam video itu.

"Kami membawa rekaman lolongan itu kepada seorang spesialis, dan ia membandingkannya dengan lolongan serigala dari Timur di Kebun Binatang Asahikawa di Hokkaido," kata Yagi. "Dia menyatakan dengan jaminan 99,5% bahwa keduanya berasal dari hewan yang sama."
Spesies 'Lazarus'

Secara historis, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menggunakan "aturan 50 tahun" untuk menentukan apakah suatu spesies atau subspesies telah punah, meskipun sekarang teori itu telah digantikan oleh pendekatan yang lebih spesifik.

Untuk beberapa kasus, mungkin penampakan suatu hewan sangat jarang, membuat peraturan itu terkesan tidak adil.

"Tidak ada ilmuwan Barat yang pernah melihat saola- kijang hutan Asia bertanduk panjang, yang merupakan salah satu mamalia paling langka di dunia," kata Samuel Turvey dari Komunitas Zoologi dari Institut Zoologi London.

"Informasi tentang penyebaran saola di Vietnam dan Laos sebagian besar didasarkan pada laporan para pemburu dan penduduk desa setempat."

Dalam kasus saola, yang paling banyak dilihat oleh para ilmuwan Barat adalah foto-foto, sehingga aturan 50 tahun ini sudah usang. .

"Dalam beberapa kasus, spesies yang mungkin punah tinggal di lingkungan yang sangat terpencil dan tidak dapat ditembus, yang jarang dikunjungi oleh para peneliti, sehingga status mereka tetap tidak diketahui, tapi itu tidak berarti hewan itu punah," kata Turvey.

"Hanya karena Anda tidak menemukan spesies tertentu, ini bisa berarti Anda belum mencari cukup keras, atau Anda berada dalam waktu yang tidak tepat. Itu kan tidak berarti hewan itu sudah tidak ada?"

Turvey mengatakan keberadaan serigala Jepang mungkin sulit dipercaya, tapi tidak mustahil.

"Faktanya serigala adalah hewan sosial, yang hidup dalam kelompok dan membuat suara melolong yang keras. Hal itu seharusnya membuat mereka lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan hewan yang penyendiri," kata Turvey.

"Ini membawa kita ke masalah kuantitas versus kualitas data. Penampakan telah dilaporkan, tetapi hal itu tidak terverifikasi dan mungkin tidak dapat diverifikasi, jadi kami tidak dapat memastikan apa yang sebenarnya dilihat."

Ia mengatakan laporan yang dibuat oleh penduduk lokal, yang tinggal di lanskap yang sama dengan spesies yang mungkin punah, tidak boleh diabaikan.

"Seringkali laporan semacam itu merupakan satu-satunya sumber informasi tentang hewan langka di daerah yang luas dari habitat terpencil, yang akan membutuhkan sejumlah besar dana untuk survei menggunakan pendekatan ekologi standar."

Makhluk hidup yang tampaknya kembali dari kepunahan dijuluki spesies "Lazarus".

Mungkin contoh paling terkenal di antaranya adalah coelacanth, spesies ikan yang hingga tahun 1938 hanya diketahui dari catatan fosil, sebelum binatang itu ditemukan di lepas pantai Afrika Selatan.

Diperkirakan hanya ada beberapa ratus coelacanth yang tersisa di dunia. Tetapi habitat alami mereka, di perairan dalam mungkin menjelaskan mengapa mereka tidak terdeteksi begitu lama.

Salah satu cara yang pasti untuk menyelesaikan perdebatan tentang apakah serigala Jepang benar-benar masih berkeliaran di pegunungan Chichibu adalah dengan memeriksa DNA binatang itu.

Ini untuk membuktikan bahwa hewan itu bukan anjing peliharaan yang dilepas ke alam liar.

Tetapi ada kemungkinan lain.

Serigala dapat berkembang biak dengan anjing peliharaan dan menghasilkan keturunan yang subur, sehingga ada kemungkinan ada keturunan serigala dan anjing yang bertahan. Binatang itu yang mungkin dilihat Yagi 23 tahun yang lalu.

Meskipun, pada kenyataannya, persilangan antara serigala dan anjing peliharaan akan sangat jarang terjadi sehingga mungkin tidak akan terjadi populasi anjing-serigala yang stabil.

Sementara itu, banyak anjing peliharaan besar juga bisa menghasilkan lolongan seperti serigala - jadi, hewan peliharaan yang tersesat di pegunungan mungkin menjelaskan suara-suara yang didengar penduduk setempat.

Pengumpulan data secara sistematis dan analisis penampakan serigala yang dilaporkan para penduduk akan menjadi langkah yang sangat penting untuk melihat pola distribusi hewan yang diduga serigala Jepang itu, kata Turvey.

Yagi setuju. Jika mereka menemukan lebih banyak bukti dari kamera-kamera yang ada, mereka mungkin akan memasang perangkap yang tidak berbahaya untuk melakukan tes DNA pada hewan itu.

"Saya yakin saya telah dipilih oleh Tuhan untuk menemukan dan membuktikan keberadaan serigala Jepang. Sayangnya ada orang-orang yang pesimistis, dan saya ingin mengatakan 'Berhenti bekerja dari belakang meja! Datang dan cari mereka di gunung '."[]Sumber:bbc.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.