25 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Berbalas Pantun Pegiat Sosbud VS Senator Fachrul Razi Soal Corona

...

  • Rino
  • 25 March 2020 16:00 WIB

Nasrijal dan Fachrul Razi. Foto: Rino
Nasrijal dan Fachrul Razi. Foto: Rino

Pernyataan Wakil Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi dalam video yang diunggah di Youtube berjudul "H. Fachrul Razi MIP: Mengosongkan Masjid Akibat Corona adalah Pikiran yang Tidak Sehat" dikritik. Pengkritiknya adalah Nasrijal, orang yang menabalkan dirinya sebagai pegiat sosial dan budaya di Aceh.

Di dalam video berdurasi 01.20 menit, Fachrul terlihat bersama seorang lelaki dan keduanya duduk di lantai atas semacam kafe dengan latar gedung-gedung pencakar langit yang terlihat perkasa. Di video tersebut tertulis "Polemik Kebijakan Larangan Melaksanakan Ibadah di Masjid."

"Ini aneh ya, ini yang disebut dengan pola pikir yang tidak sehat. Mengosongkan masjid-masjid. Logikanya adalah, kenapa tempat-tempat hiburan itu masih dibuka? kenapa bandara itu masih dibuka? Kenapa tempat-tempat umum, bahkan, mohon maaf, sesuatu tempat hiburan yang itu juga banyak melanggar syariat, itu dibuka. Bukankah penyebaran virus itu berada di sana?" demikian jawaban Fachrul saat ditanya bagaimana orang muslim menanggapi imbauan bahwa masjid tidak boleh diramaikan dan tempat berkumpul untuk beribadah dibatasi.

Nasrijal mengatakan bahwa yang tidak sehat itu malah cara berpikir Fachrul. Untuk saat ini, kata Nasrijal, yang paling penting adalah tindakan pencegahan agar orang-orang dijauhkan dari infeksi virus yang awal tahun ini telah merambah dan membunuh belasan ribu orang di pelosok dunia.

Sebagai informasi, dari laman yang  resmi dikelola World Health Organization, hingga Rabu (25/03), pukul 15.04 WIB, virus Corona yang dikenal dengan Coronavirus Disease 2019, telah membunuh sebanyak 16.632 jiwa di 195 negara atau kawasan berkasus. Satu-satunya yang bisa dilakukan saat ini menurut Nasrijal ialah mencegah dengan jalan menjauh dari aktivitas-aktivitas di keramaian.

"Ajaran Islam tidak pernah memberatkan. Orang salat di masjid sudah tahu ada risiko tapi tidak menghindar, kemudian meninggal, maka itu bukanlah syahid namanya," kata Nasrijal dalam keterangan diterima portalsatu.com, Rabu siang.

Ia menambahkan, ego dengan mengatasnamakan agama sangatlah tidak tepat untuk saat ini. Nasrijal mencontohkan apa yang pernah dilakukan Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab, yang notabene sahabat Nabi dan telah diakui takaran keimanan dan ilmunya.

Nasrijal menceritakan berdasarkan apa yang dia baca, bahwa di masa Umar, pernah terjadi wabah yang dikenal dengan Tha’un ‘Awamas. Nama wabah tersebut diambil dari daerah asal lahirnya penyakit, yakni sebuah desa kecil di negeri Damaskus.

Langkah yang ditempuh oleh Umar saat itu ialah memerintahkan gubernur Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk mengisolasi rakyatnya. Umar bahkan mengurungkan perjalanannya menuju Damaskus.

"Pembatalan itu dilakukan waktu rombongan sudah sampai di Sargha, sebuah desa di wilayah Tabuk, setelah adanya kabar pandemi virus ‘Amawas di wilayah Damaskus. Ini bukti bahwa Umar mengedepankan akal sehat dengan menghindari wabah. Umar tidak mau rakyatnya terpapar oleh virus. Ini, seorang senator yang pasti kadar imannya beda jauh dari Amirul Mukminin, berpotensi mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang bisa berakibat fatal. Kita percaya soal nyawa sudah diatur, tapi, Sang Khalik juga tidak suka sama makhluknya yang berbuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan mudarat," urainya.

Berkumpul di masjid untuk saat ini akan menyebabkan dua kemungkinan, tukas dia. Menjadi yang orang menularkan atau yang tertular, karena hingga rapid test atau tes cepat belum menyentuh seluruh masyarakat, tidak ada yang tahu apakah seseorang itu  terinfeksi atau tidak.

Lelaki yang akrab disapa Jal itu mengutip sebuah hadis yang berbunyi "Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain." Hadis tersebut, kata dia, jelas sanad dan perawinya.

"MUI melalui Sekretaris Komisi Fatwa mereka, Asrorun Niam juga sudah menekankan agar tidak menjerumuskan diri dalam kebinasaan, dan MUI telah mengeluarkan fatwa agar tidak melakukan ibadah di keramaian. Niam sudah bilang, bukan berarti meniadakan ibadah, tapi semata untuk kepentingan memberikan perlindungan agar tidak menularkan kepada yang lain," jelasnya.

"Bek pungo bak dong, ka pungo droe bek peu roh gob. Sebagai DPD, harusnya bisa lebih berpikir cerdas dan membantu komitmen pemerintah dalam penanganan Covid-19. Melakukan ibadah di rumah saya rasa dalam keadaan bencana dalam agama dibenarkan. Hal ini sebagaimana disampaikan ulama-ulama besar di negara ini. Jadi pernyataan Fachrul "tidak sehat" itu telah menyudutkan para ulama. Saya harap pemerintah bertindak tegas, diproses hukum atau ditangkap, dijebloskan ke penjara atau diperiksa kejiwaannya, karena itu menyesatkan dan melawan pemerintah," pungkasnya.

Jawaban Fachrul Razi

Portalsatu.com telah melakukan konfirmasi dan mendapat rilis balasan dari Fachrul Razi, Rabu, 25 Maret 2020. Ia menganggap hal tersebut sebagai kritik belaka, di samping menyebut Nasrijal telah gagal dalam memahami pernyataannya di dalam video tersebut.

“Itu Nasrijal gagal paham, jangan samakan Aceh seperti Jakarta, bung! Jakarta itu telah mengalami endemi Corona tinggi, di Aceh, kita wajib menjaganya agar tetap menjadi daerah biru sementara yang lain sudah merah,” tegas Fachrul.

Sebagai daerah yang diklaimnya masih aman dari paparan Covid-19, masyarakat masih dapat menjalankan ibadah tanpa harus menutup dan mengosongkan masjid. Sementara bagi daerah yang tingkat infeksinya tinggi, pemerintah boleh melakukan isolasi dan pembatasan pelbagai kegiatan.

Ia mengklaim, imbauan dari otoritas di Indonesia terkait menahan diri dari beribadah di keramaian tidak berlaku di Aceh. Karena MPU di Aceh telah mengeluarkan imbauan tetap menjadikan masjid sebagai tempat ibadah.

“Disaat MPU di Aceh mengeluarkan imbauan agar menjadikan masjid dan menasah tempat beribadah sebagaimana sependapat dengan pernyataan saya, bahkan imbauan ini diikuti dengan MPU Aceh Barat, dan kabupaten lainnya, hingga Aceh Tenggara, tapi muncul statement aneh dari seseorang yang mengklaim dirinya pegiat sosial budaya Aceh," lanjutnya.

“Saya anggap itu hal biasa kalau dia kritik saya, silakan saja berpendapat. kalau dia dukung pemerintah, ya silakan saja tapi bagi kami dan ulama serta masyarakat di Aceh biarkan tetap beribadah di masjid, jangan dipaksa tutup masjid dan kosongkan masjid, silakan pemerintah tutup saja tempat hiburan dan kafe-kafe dulu, jangan masjid dulu, ada apa ini,” tegas Fachrul.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.