20 June 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


BFLF Sosialisasikan Biaya Pendamping Keluarga Pasien Kurang Mampu

...

  • SUDIRMAN
  • 12 March 2018 10:20 WIB

Ketua BFLF Kota Subulussalam, Aradhi Karim @istimewa
Ketua BFLF Kota Subulussalam, Aradhi Karim @istimewa

SUBULUSSALAM -- Blood For Life Foundation (BFLF) Kota Subulussalam menemukan banyak keluarga pasien kurang mampu yang tidak bersedia dirujuk ke Banda Aceh atau Medan lantaran tidak memiliki biaya selama mendampingi pasien berobat.

Meskipun biaya pengobatan pasien sudah ditanggung oleh BPJS, namun persoalan biaya, mulai dari  transportasi, biaya makan selama mendampingi anggota keluarga yang sedang sakit menjadi faktor utama mereka enggan dirujuk.

"Program berobat gratis sudah sangat dinikmati masyarakat Aceh, termasuk di Subulussalam. Namun ada persoalan lain di lapangan masih banyak ditemukan warga enggan membawa anggota dirujuk ke rumah sakit kabupaten/kota maupun ke provinsi—karena tidak punya kemampuan secara ekonomi," kata  Ketua Blood for Life Foundation (BFLF) Kota Subulussalam, Aradhi Karim, dalam siaran pers yang dikirim kepada portalsatu.com, Minggu, 11 Maret 2018.

BFLF, kata Aradhi Karim,  sebuah organisasi bergerak secara sukarela di bidang sosial dan kesehatan, salah satu fokus kegiatan BFLF adalah membantu masyarakat yang membutuhkan darah.

Namun organisasi ini juga aktif mendorong masyarakat, termasuk anggota  BFLF sendiri untuk berpartisipasi membantu masyarakat kurang mampu yang kesulitan ekonomi untuk biaya pengobatan.

"Ketika BFLF menemukan kasus seperti ini, kami diskusikan di tingkat pengurus. Jika diputuskan untuk pendampingan, kita sebarkan informasi melalui berbagai media. Termasuk berkoordinasi dengan dinas terkait dan pihak rumah sakit serta dokter yang menangani pasien tersebut," ungkap Radhi.

Setelah informasi disebarkan, dalam waktu yang tidak begitu lama, banyak donatur membantu keluarga pasien yang mengalami kesulitan ekonomi untuk biaya pendampingan dan pengobatan.

"Biasanya dalam waktu yang tidak begitu lama langsung terkumpul bantuan dana untuk kebutuhan pendampingan pasien,” ujarnya.

Untuk meringankan keluarga pasien, kata Radhi, BFLF pusat yang berada di Banda Aceh, juga menyediakan rumah singgah bagi keluarga pasien. Ke depan, Radhi berharap pemerintah provinsi atau kabupaten/kota dapat mengalokasikan biaya pendampingan pasien dan pengobatan gratis yang lebih maksimal.

“Saya sangat prihatin melihat kasus pasien pascaoperasi  terpaksa pulang dengan mobil L-300 dari Banda Aceh ke Subulussalam tanpa ongkos. Ini harus menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua," katanya.[]

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.