12 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cegah Laju Tambang Ilegal, Polres Aceh Barat Gelar Sosialisasi

...

  • Rino
  • 09 March 2020 17:00 WIB

Polres Aceh Barat menggelar sosialisasi pencegahan pertambangan ilegal di aula polres setempat, Senin, 9 Maret 2020. Foto: Istimewa
Polres Aceh Barat menggelar sosialisasi pencegahan pertambangan ilegal di aula polres setempat, Senin, 9 Maret 2020. Foto: Istimewa

BANDA ACEH - Kepolisian Resor Kabupaten Aceh Barat menggelar sosialisasi pencegahan pertambangan ilegal di aula polres setempat, Senin, 9 Maret 2020. Kegiatan ini diiniasi polres guna mencegah potensi tumbuh suburnya pertambangan ilegal di kabupaten itu.

Dalam kegiatan yang diikuti sejumlah instansi juga lembaga nonpemerintah dari ibu kota provinsi yang bergerak di bidang lingkungan itu disinggung soal gambaran umum pertambangan ilegal yang ada di Aceh. Pun begitu dengan dampak buruk yang akan ditimbulkannya.

"Dengan maraknya pertambangan ilegal khususnya di Kabupaten Aceh Barat, dampak lingkungan hidup dapat menimbulkan dampak yang negatif dan salah satunya dapat menimbulkan kerusakan lingkungan," kata Wakapolres Aceh Barat, Kompol M. Zainuddin, di dalam sosialisasi tersebut, mengutip keterangan diterima portalsatu.com, Senin jelang sore.

Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, M. Nasir, dalam keterangan yang sama menjelaskan, pertambangan emas ilegal di Aceh menggunakan tiga pola. Yaitu, menggali lubang, menggunakan alat berat, dan menggunakan mesin sedot.

Pola menggali lubang dilakukan dengan menggali hingga kedalaman tertentu kemudian dibuat lubang secara horizontal di bawahnya. Prosesnya manual, memanfaatkan instalasi kabel listrik yang dimasukan ke dalam lubang sebagai alat penerangan, di mana pekerja menggunakan selang pernafasan yang dihasilkan oleh mesin penghasil oksigen. 

"Pola penambangan seperti ini pada umumnya menggunakan zat merkuri dalam proses pengolahan bahan tambang dengan mesin gelondongan untuk mendapatkan emas," jelas Nasir.

Pola selanjutnya lazim dilakukan di aliran sungai di kawasan hutan. Pola menggunakan ekskavator ini  ditemukan di Kabupaten Pidie, dan Nagan Raya, terutaman Kecamatan Beutong.

"Hasil galian tambang kemudian disaring menggunakan asbuk untuk mendapatkan serbuk emas," jelas Nasir.

Adapun pola menggunakan mesin sedot terjadi di aliran sungai Kabupaten Pidie, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Selatan. Setidaknya semua pola tersebut memiliki dampak merusak yang sama terhadap lingkungan.

Beberapa di antaranya, merusak kawasan hutan, koridor satwa, fisik dan kualitas air. Selain itu, juga mengakibatkan konflik tenurial dan sebagainya.

Sementara, Kasi Perizinan Dinas Penanaman modal dan Perizinan Terpadu (KTPSP) Aceh Barat, Febriyanti, menerangkan kalau perizinan untuk galian C di Aceh dikeluarkan oleh provinsi. Kabupaten hanya mengeluarkan rekomendasi via bupati.

Dalam hal ini, kecamatan mengeluarkan rekomendasi izin dari pemilik tanah, kepala desa, camat, termasuk akses jalan keluar masuk atau izin dari tetangga. Ini untuk menghindari potensi konflik sosial. 

"Selanjutnya Dinas PUPR, dinas perekonomian dan dinas lingkungan hidup akan melakukan pengecekan ke lapangan layak atau tidak untuk dikeluarkan izin usaha galian C," jelasnya.

Wakapolres berharap semua pihak mau berperan serta dalam mencegah laju pertambangan ilegal terutama di Aceh Barat. Gol yang diinginkan yakni pertambangan ilegal di kabupaten itu tidak ada lagi di kudian hari.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.