27 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Abati Banda Dua Tentang Soekarno Temui Abuya Hasan Krueng Kalee

...

  • SIRAJUL MUNIR
  • 12 April 2018 22:00 WIB

Teungku Usman Abdullah (Abati Banda Dua). @Sirajul Munir
Teungku Usman Abdullah (Abati Banda Dua). @Sirajul Munir

LHOKSEUMAWE - Abuya Hasan Krueng Kalee, ulama Aceh yang gigih berjuang melawan agresi Belanda dan Jepang. Beliau tokoh Islam yang sangat dihormati oleh petinggi bangsa Indonesia saat itu termasuk Soekarno. Kedekatan Abuya Hasan Krueng Kalee dengan Presiden Soekarno disebut ibarat ayah dan anak.

Hal itu disampaikan Teungku Usman Abdullah atau Tgk. Usman Ibni Abdillah akrab disapa Abati Banda Dua, Pimpinan Dayah Darul Mukminin, Banda Dua,  Aleu Lim, Lhokseumawe, di sela-sela acara memperingati 1.235 tahun wafatnya Imam Syafi'i, di dayah itu, Rabu, 11 April 2018.

Abati Banda Dua menjelaskan, Abuya Hasan Krueng Kalee, salah satu ulama Aceh masyhur di Nusantara mengembangkan Tarbiyah Islamiyah Aceh selama hayatnya, mewarisi syiar dari Syiah Kuala.

“Beliau menjabat sebagai pembina Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i pada tahun 1920. Bahkan, di awal-awal kemerdekaan, Presiden Seokarno sepakat Tarbiyah Islamiyah menjadi pola pendidikan Islam bagi umat Islam Nusantara,” kata Abati Banda Dua.

Menurut Abati, “Kesepakatan itu tercatat dalam sejarah dari sebuah pertemuan antara Soekarno dengan Abuya Hasan Krueng Kalee di sebuah tempat di Banda Aceh beberapa hari setelah Kemerdekaan RI diproklamirkan”. Saat itu, kata Abati, seorang tentara Jepang menyaksikan Soekarno menghadap Abuya Hasan Krueng Kale.

“Seorang tentara Jepang melihat Soekarno menghadap Abuya sambil berkata, ‘guruku... guruku....’ Saat itu Soekarno meminta petunjuk menjalankan roda pemerintahan setelah proklamasi. Kemudian Abuya menitipkan Tarbiyah Islamiyah kepada presiden sebagai azas pendidikan umat. Soekarno tidak menolak karena Tarbiyah Islamiyah tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945,” ujar Abati yang juga Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh.

Jadi, Abati melanjutkan, peran ulama Aceh dalam membangun bangsa ini sangat besar. Pada era Soeharto, kata Abati, Tarbiyah Islamiyah juga didukung, karena tidak bertentangan dengan haluan bangsa, apalagi ajarannya sangat menghargai keberagaman.

“Intinya,  Tarbiyah Islamiyah adalah tuntunan dari  Allah dan Rasul-Nya agar selamat di akhirat dengan meninggalkan kepentingan duniawi. Jadi tidak bertentangan dengan kaidah bernegara. Bahkan negara harus menjalankan tarbiyah agar masyarakat tenteram, damai dan makmur. Bangsa ini terpecah belah, karena ajaran ini sudah ditinggalkan,” ujar Abati Banda Dua.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.