20 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Meuseuraya Mapesa Diguyur Hujan

...

  • Jamaluddin
  • 25 September 2018 13:40 WIB

Mahasiswi UIN Ar-Raniry meuseuraya bersama Mapesa di Gampong Alue Deah Teungeh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, 23 September 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com
Mahasiswi UIN Ar-Raniry meuseuraya bersama Mapesa di Gampong Alue Deah Teungeh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, 23 September 2018. @Jamaluddin/portalsatu.com

Anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Hasan Basri, mengasah satu persatu cangkul berkarat menggunakan gerinda (batu asahan). Cangkul dan peralatan lainnya kemudian dibawa ke tempat meuseuraya (gotong royong) dengan becak Bang Adi, yang sudah lama bekerja sama dengan Mapesa sejak Sekretariat Mapesa masih di Gampong Bitay.

Perjalanan sampai di sebuah simpang bertuliskan ‘Makam Abu Chik Teungku Tujuh Belas Hah', Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Beberapa puluh meter dari makam tersebut, di bawah puluhan pohon 'bak beum' setinggi tiga sampai lima meter, terlihat beberapa nisan peninggalan masa Aceh Darussalam. Di sisi utara kompleks makam ini tampak satu kandang kambing dan sebuah balai pengajian.

“Makam ini berciri khas abad XVI,” kata Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, di sela-sela meuseuraya di lokasi makam itu, Minggu, 23 September 2018.

Salah seorang warga setempat yang akan membangun rumah di dekat makam itu, Tgk. Mahdani, mengatakan saat masih kecil ia melihat makam itu tertutup pepohonan dan belukar. Bahkan, dahulu ia tak mengetahui kalau di sana ada nisan Aceh Darussalam.

“Lihat ornamen batu nisan ini sangat indah,” kata Mahdani yang ikut meuseuraya bersama anggota Mapesa.

Beberapa santri cilik dari balai pengajian yang bersebelahan dengan kompleks makam itu, lewat tembok pagar, memerhatikan anggota Mapesa ber-meuseuraya.

Usai salat Zuhur, beberapa mahasiswi Jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Ar-Raniry, datang untuk meuseuraya bersama Mapesa. Mereka sering mengikuti meuseuraya yang dilakukan Mapesa di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar.

Batu-batu tertimbun di makam itu sebagiannya sudah dilingkari akar bak beum. Untuk bisa mengangkatnya harus memotong akar sebesar tangan terlebih dahulu. Seorang pemuda setempat lalu meminjamkan satu takel kotrek kepada Mapesa untuk memudahkan pengangkatan batu itu.

Satu sampai dua batu nisan yang tertimbun berhasil diangkat anggota Mapesa. Gerimis pun perlahan turun hingga hujan deras mengguyur. Meuseuraya dihentikan sejenak.

Setelah hujan reda, nisan-nisan tampak tertutup lumpur. Salah seorang mahasiswi bertanya kepada Hasan Basri, "Siapa yang bayar untuk Mapesa ber-meuseuraya?" Hasan pun menjawab bahwa itu semua mereka lakukan semata mengharap rida Allah.

Sementara itu, di badan jalan arah selatan kompleks makam, beberapa bocah terlihat bermain di 'kolam kecil' yang muncul setelah hujan deras. Mereka berguling-guling dalam air setinggi tumit orang dewasa, sampai kemudian membuarkan diri lantaran dimarahi oleh orangtuanya.

Para mahasiswi lantas membersihkan nisan-nisan yang berhasil diangkat ke permukaan. Karena kekuarangan air, mereka mengambil air dari 'kolam kecil' tempat sejumlah bocah tadi bermain. Pakaian para mahasiswi itu pun berlumpur, tapi mereka tak peduli.

“Ayo kita bersihkan batu-batu ini,” kata salah seorang mahasiswi memberi semangat kepada teman-temanya.

Hujan yang jatuh melalui celah-celah bak beum membuat lubang-lubang galian untuk mengangkat batu nisan mulai tergenang air. Kondisi itu ikut memudahkan pengangkatan batu nisan ke permukaan. Sebagian batu itu juga bersih disiram hujan.

Pihak Mapesa lalu meminta para mahasiswi pulang lebih dahulu lantaran sudah sore, tak lama lagi Magrib akan tiba. Sebentar kemudian Bang Adi datang dengan becaknya, mengumpulkan peralatan meuseuraya dan diangkut pulang.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.