19 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Sabu di Laut Aceh Hingga Pengakuan Tersangka Raup Rp200 Juta

...

  • DETIK
  • 10 June 2018 14:00 WIB

@detik.com
@detik.com

MEDAN - Sebanyak 11 kg sabu mengambang di perairan Idi Rayeuk, Aceh Timur, sepekan lalu. Ternyata sabu itu dibuang tiga orang anggota sindikat penyelundupan 99 kg sabu Malaysia-Batam-Aceh. Ketiga orang itu adalah I alias H, M alias R dan M alias T.

"Pengakuannya mereka bawa 25 kg sabu. Yang 11 kg di satu tas, 14 kg di tas satunya. Kita berhasil amankan yang 11 kg, yang 14 kg tenggelam. Arusnya deras," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto kepada detik.com di Medan, Sumatera Utara, Minggu, 10 Juni 2018.

Eko menjelaskan, sabu yang sempat dibuang disembunyikan dalam tas hitam. Sabu itu dikemas per 1 kg dalam kemasan teh berwarna emas.

Menurut Eko, Tim Satgas Narcotic Investigation Center (NIC) di bawah pimpinan AKBP Gembong Yudha beranggotakan 10 orang saat menangkap ketiga tersangka. Melihat adanya tas hitam yang saat itu diduga sabu yang dilempar, maka dua personel NIC langsung menyeburkan diri ke laut untuk mengamankan barang bukti.

"Anggota kita ada dua orang yang berenang. Dari jauh kita sudah lihat kapal tersangka pakai teropong, mungkin dia juga sudah lihat kita. Karena panik, begitu kita dekati, dia buru-buru buang. Untung barangnya masih ngambang. Orangnya ditangkap, barangnya diambil manual, renang. Saat itu tim Satgas NIC bersepuluh," kata Eko.

Bareskrim Polri baru saja mengungkap sindikat narkoba internasional yang menyelundupkan 99 kg sabu dan 20 ribu pil Happy Five dari Penang, Malaysia ke Batam dan Aceh. Pada awal pengungkapan, polisi menangkap AW, EC dan AR dengan barang bukti 8 kg sabu di Bintan, Tanjung Pinang, Batam pada 30 Mei kemarin.

Berdasarkan hasil penyelidikan digital, polisi kembali menangkap I alias H, M alias R dan M alias T dengan 11 kilogram sabu di perairan Idi Rayeuk, Aceh Timur pada Minggu (3/6). Pengembangan kasus berlanjut keesokan harinya (4/6), di mana Satgas NIC menangkap R alias M dengan 30 kg sabu dan 20 ribu butir Happy Five di Dusun Blang Mee, Seueubok, Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Kemudian F alias A dengan barang bukti 50 kilogram sabu di perairan Idi Rayeuk pada Jumat (8/6). Hari ini polisi menangkap 3 pengendali sindikat tersebut berinisial AH alias H, RM alias Y, M alias B.

Raup Rp200 juta

Salah satu tersangka sindikat 99 kg sabu jaringan Malaysia-Batam-Aceh, A (43), mengaku diberi upah Rp 10 juta setiap kali berhasil menyelundupkan satu kg sabu ke Aceh. A berperan sebagai bos yang mengatur pengambilan narkoba dari pulau-pulau kecil di sekitar Aceh.

"(Upah) satu biji Rp 10 juta. Satu kilo satu juta," kata A di Medan, Sumatera Utara, Minggu, 10 Juni 2018.

Warga Idi Rayeuk, Aceh Timur ini bersama 8 anggota sindikat 99 kg lainnya yang ditangkap di wilayah Aceh Timur, dibawa ke Jakarta siang ini via Bandara Kualanamu, Medan.

A mengaku sudah setahun bergabung dengan sindikat ini. Sebelumnya dia bekerja sebagai nahkoda kapal jaring. "Setahunan (gabung dalam sindikat narkoba Malaysia-Batam-Aceh). Dulu saya nahkoda boat pukat langgar, itu pukat jaring," ujarnya.

"(Cara menjaring ABK) siapa saja yang mau. Mereka tahu itu barang (narkoba)," imbuh dia.

Dibanding dengan pekerjaan lamanya, A mengaku bekerja di sindikat sangat menggiurkan. Jika penghasilan sebelumnya Rp1,5 sampai 3 juta/bulan, A meraup jutaan rupiah berkali-kali lipat dari bisnis haram narkoba.
"(Penghasilan sebelum masuk sindikat) Nggak nentu. Kan tergantung ada yang order jaring atau tidak. Rata-rata sebulan bisa Rp1,5 juta, Rp2 juta, Rp3 juta. (Penghasilan saat masuk sindikat) ya Rp 200 juta sampai," jelas A.

A menjelaskan dirinya menyelundupkan narkoba dalam interval waktu tak tentu. "Kadang-kadang dua bulan sekali. Nggak nentu, tergantung orang yang nyuruh. (Lama waktu menyelundupkan) Dua hari, dua malam. Sehari ambil, sehari pulang ke Idi," sambung dia.

A bercerita tahun lalu dirinya ditawari seseorang untuk masuk sindikat. Dia mengaku tergiur upah yang menurut dia besar saat mendapat tawaran itu.

"(Awal jadi sindikat) diajak sama kawan, terpengaruh sama kawan. Diajak ayo kerja, kerja sama saya. Namanya kita bukan sekolah tinggi, cuma madrasah," terang A.

Ditanyai tentang risiko hukuman mati dalam menjalankan bisnis penyelundupan narkoba, A mengaku sebenarnya takut. "(Tahu risiko hukuman mati?) Itulah, ngerilah, tapi terpengaruh sama kawan. Takut-takut tapi kawan yakinkan yakin lolos," ucap A.

Ketika diminta tanggapannya mengenai narkoba yang dapat menghancurkan bangsa, A hanya tertunduk diam.
Saat Satgas NIC hendak menangkap A di rumahnya, tersangka sempat melarikan diri dengan membawa anaknya. A tertangkap di pom bensin dekat rumahnya.

Setelah polisi menggeledah rumah A, ditemukan sabu sebanyak 50 kilogram. "Bawa anak karena takut ada apa-apa. Waktu itu mau ke Banda (Banda Aceh)," kata A menutup pembicaraan.[] Sumber: detik.com

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.