15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cisah dan Pelisa Meuseuraya di Kompleks Makam Muallem Era Samudra Pasai

...

  • PORTALSATU
  • 02 September 2018 22:40 WIB

Para pelajar tergabung dalam Pelisa meuseuraya di Kompleks Makam Muallem di perbukitan Jeulikat, Lhokseumawe, 2 September 2018. @Khairul/Cisah
Para pelajar tergabung dalam Pelisa meuseuraya di Kompleks Makam Muallem di perbukitan Jeulikat, Lhokseumawe, 2 September 2018. @Khairul/Cisah
Para pelajar tergabung dalam Pelisa meuseuraya di Kompleks Makam Muallem di perbukitan Jeulikat, Lhokseumawe, 2 September 2018. @Abel/Cisah
Relawan Cisah dan Pelisa berfoto bersama usai meuseuraya di Kompleks Makam Muallem di perbukitan Jeulikat, Lhokseumawe, 2 September 2018. @Khairul/Cisah

LHOKSEUMAWE - LSM Central Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) dan Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa) meuseuraya di Kompleks Makam Muallem, di perbukitan Gampong Jeulikat, Lhokseumawe, Ahad, 2 September 2018. Muallem tersebut merupakan navigator atau pelaut dari Teluk Samawi di Bandar Sumatra (era Kerajaan Samudra Pasai).

Dalam meuseuraya kali ini, Pelisa yang berpusat di SMAN 5 Lhokseumawe menghadirkan puluhan pelajar pecinta sejarah dari Sekolah Menengah Atas lainnya di Lhokseumawe, yaitu perwakilan SMA Modal Bangsa, SMAN 4, SMAN 6 dan SMAN 7.

Meuseuraya bertema "Peuriwang Pue nyang Ka Gadoh, Peugot Keulayi nyang Ka Reuloh," itu turut dihadiri Kepala KUA Nibong, Tgk. Andi Saputra, dan dua guru pedamping, Almuzalir dari SMAN 5 serta Zulfikar Isa (SMA MOSA).

Ketua Cisah, Abdul Hamid alias Abel Pasai, mengatakan, di atas bukit berukuran ± 43 meter persegi itu terdapat 40 makam. Sebelas di antaranya memuat inskripsi, dan lima memuat epitaf (identitas pemilik makam). Menurut Abel Pasai, di kompleks makam para pelaut era Samudra Pasai itu, terdapat sejumlah nisan terbenam dalam tanah.

“Sangat disayangkan, terdapat beberapa lubang bekas galian orang yang tidak bertanggung jawab. Nisan tampak ada yang hilang. Ketika kunjungan kami tahun 2011, nisan-nisan di sini lebih banyak dari jumlah yang masih ada sekarang,” kata Abel Pasai.

Senada dengan itu, Almuzalir juga mengungkapkan keprihatinannya. Selain tidak terdapat akses langsung ke areal makam itu, kondisi nisan-nisan pun tampak tidak lagi tertata sebagaimana mestinya. “Padahal merekalah para pendahulu kita yang memiliki semangat juang yang tinggi dan telah mewariskan Islam yang agung kepada kita,” ujar pembina Pelisa ini.

Almuzalir menambahkan, banyak pelajaran sejarah yang dapat diambil di kompleks makam di atas perbukitan Jeulikat tersebut. Itulah sebabnya, Cisah dan Pelisa menggelar meuseuraya untuk membersihkan dan menata kembali nisan-nisan yang menjadi bukti sejarah tersebut.

Cisah dan Pelisa berharap agar pemerintah maupun pihak terkait lainnya, termasuk generasi Aceh, turut memberikan perhatian untuk melestarikan makam peninggalan Samudra Pasai  itu.

“Semoga generasi kita tidak hanya terpelajar, tapi juga menjadi generasi yang tersadarkan akan semangat sejarah Islam dunia yang ada di sekitarnya,” kata Almuzalir.[](rel)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.