20 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Daftar lengkap pemenang Pulitzer Prize 2018

...

  • ANTARA
  • 17 April 2018 14:20 WIB

Ilustrasi bentuk Penghargaan Pulitzer. Pertama kali dianugerahkan pada 4 Juni 1917, atas dana hibah penerbit Joseph Pulitzer, seorang Amerika Serikat imigran dari Hungaria. (www.jewishcurrent.com)
Ilustrasi bentuk Penghargaan Pulitzer. Pertama kali dianugerahkan pada 4 Juni 1917, atas dana hibah penerbit Joseph Pulitzer, seorang Amerika Serikat imigran dari Hungaria. (www.jewishcurrent.com)

Penghargaan yang dianggap tertinggi dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika Serikat, Pulitzer Prize, diumumkan Senin (16/4) waktu AS.

Sejumlah topik yang memenangkan penghargaan tersebut antara lain kisah pelecehan di tempat kerja, pembangunan perbatasan AS-Meksiko, dan profil Dylan Roof, yang dituduh membunuh beberapa orang di sebuah gereja di Charleston, S.C.

Pulitzer Prize ini juga diberikan untuk pencapaian dalam bidang sastra dan gubahan musik. Tahun ini, rapper Kendrick Lamar menjadi musisi non-klasik atau jazz pertama yang memenangkan penghargaan tersebut.

Berikut daftar lengkap pemenang Pulitzer Prize 2018, dilansir dari The New York Times.

1. Pelayanan publik: The New York Times, untuk pelaporan yang dipimpin oleh Jodi Kantor, Megan Twohey, Emily Steel dan Michael S. Schmidt; dan The New Yorker
Investigasi oleh The New York Times dan The New Yorker Ronan Farrow (30) yang mengungkap dugaan pelecehan seksual orang-orang kuat -- termasuk di Hollywood, politik dan Silicon Valley.

Investigasi ini melaporkan tuduhan terhadap Bill O’Reilly, mantan pembawa acara Fox News, dan Harvey Weinstein, sang maestro film, yang kemudian memicu gerakan global #MeToo yang telah membuka percakapan baru tentang gender dan dinamika kekuasaan di tempat kerja.

2. Liputan Breaking News: Staf The Press Democrat, Santa Rosa, California
Seluruh staf di The Press Democrat membantu penyelamatan kebakaran hutan pada bulan Oktober yang meluluhlantahkan Santa Rosa dan sekitar Sonoma County.

Editor ekskutif surat kabar itu mengatakan beberapa wartawan dan fotografer koran mengevakuasi keluarga mereka bahkan saat mereka meliput kebakaran.

3. Liputan investigasi: Staf The Washington Post
The Washington Post menang atas laporan kerasnya terhadap kandidat Senat Partai Republik Roy S. Moore, termasuk kasus seksual terhadap gadis di bawah umur saat dia berusia 30-an. Laporan yang dihasilkan membantu menenggakkan pemilihan khusus di Alabama, yang dimenangkan oleh lawan Moore dari Demokrat, Doug Jones.

4. Liputan penjelasan: Staf The Arizona Republic dan USA Today
Dua media tersebut dianugerahi hadiah untuk proyek multimedia yang berfokus pada "kesulitan dan konsekuensi yang tidak diinginkan dari memenuhi janji Presiden Trump untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko," kata komite Pulitzer.

Serangkaian liputan tersebut diperkuat dengan laporan digital, termasuk teks, video, podcast, dan bahkan virtual reality (VR).

5. Liputan lokal: Staf The Cincinnati Enquirer
Enquirer diakui untuk narasi multimedia selama tujuh hari untuk epidemi heroin di kota  Cincinnati, periode di mana 18 orang meninggal dan setidaknya 180 orang dilaporkan overdosis di seluruh area tersebut. Lebih dari 60 wartawan berkontribusi dalam laporan tersebut.

6. Liputan nasional: Staf The New York Times dan The Washington Post
Dua media tersebut  diakui karena laporan mereka tentang pengaruh Rusia dalam pemilu 2016, tim transisi Trump dan administrasi kepresidenan.

7. Liputan internasional: Clare Baldwin, Andrew R.C. Marshall dan Manuel Mogato dari Reuters
Tiga wartawan tersebut mendapat penghargaan atas liputan mereka di Filipina yang mengekspos "kampanye pembunuhan brutal" di belakang perang melawan narkoba oleh Presiden Rodrigo Duterte.

Melalui data kejahatan dan wawancara, para wartawan menantang tentang pembunuhan tersangka narkoba di negara tersebut. "Kami pada dasarnya menggunakan data polisi itu sendiri untuk membuktikan apa yang sebenarnya mereka lakukan," kata Baldwin (34).

Dengan penghargaan ini dia berharap akan menarik lebih banyak perhatian pada pembunuhan yang sedang berlangsung.

8. Tulisan feature: Rachel Kaadzi Ghansah, reporter lepas, GQ
Tulisan profil Ghansah tentang Dylann Roof disebut "campuran unik dan kuat dari reportase, refleksi dan analisis orang pertama dari kekuatan sejarah dan budaya" di balik pembunuhan sembilan anggota paroki di Gereja Episkopal Methodist Emanuel Afrika pada bulan Juni 2015.

Ini merupakan Pulitzer pertama untuk majalah GQ. Ghansah (36) mengatakan bahwa awalnya dia berpikir karya-karyanya akan berpusat pada keluarga korban tetapi "rasanya tidak pantas untuk terus menyelidikinya sementara membiarkan Dylann Roof memiliki kesucian..."

9. Tulisan komentar: John Archibald dari Alabama Media Group, Birmingham, Ala.
Archibald (55) memenangkan penghargaan untuk "komentar liris dan berani" yang berfokus pada isu-isu di Alabama.

Dalam serangkaian kolom, ia juga bergumul dengan kampanye Senat gagal Roy S. Moore, yang dituduh melakukan pelanggaran seksual. "Meskipun itu hanya kemenangan kecil" untuk lawan Moore, Doug Jones, Archibald berkata, "itu adalah pesan kepada wanita bahwa ini tidak dapat ditoleransi lagi."

10. Tulisan kritik: Jerry Saltz dari New York magazine
Saltz (67) memenangkan penghargaan atas "perspektif cerdik terhadap seni rupa di Amerika," termasuk analisis dari arus bawah politik dalam Whitney Biennial di Whitney Museum of American Art dan pengaruh abadi Michelangelo, serta sebuah pandangan pada karirnya sendiri sebagai "seniman gagal."

Ini adalah Pulitzer pertama untuk New York magazine.

11. Tulisan editorial: Andie Dominick dari The Des Moines Register
Dominick menang untuk tulisan konsekuensi dari privatisasi Medicaid Iowa, serta tantangan perawatan kesehatan yang lebih luas yang meningkat untuk warga Iowa biasa, "dengan suara yang jelas, marah, bebas dari klise atau sentimentalitas."

12. Editorial kartun: Jake Halpern, penulis lepas, and Michael Sloan, kartunis lepas, The New York Times
Dalam "Welcome to the New World," Halpern dan Sloan menceritakan kisah keluarga dua saudara laki-laki asal Suriah, Jamil dan Ammar, datang ke Amerika Serikat pada 8 November 2016 - hari pemilihan Presiden AS.

Seri komik nonfiksi 20-bagian tersebut memberikan penggambaran yang jelas dan sering kali mengerikan tentang pengalaman pengungsi modern di Amerika Serikat. Seri ini didasarkan pada wawancara selama berbulan-bulan.

13. Foto Breaking News: Ryan Kelly dari The Daily Progress, Charlottesville, Va.
Kelly (31) diakui untuk kerjanya yang cepat dan tepat selama unjuk rasa nasionalis putih pada bulan Agustus di Charlottesville, Va., di mana dia memotret sebuah mobil yang membajak kerumunan orang yang memprotes pertemuan tersebut.

Seorang wanita meninggal dan 16 orang lainnya terluka. Ini adalah tugas akhir Kelly sebagai staf fotografer untuk The Daily Progress. Dia kini tinggal di Richmond, Va., sebagi seorang fotografer lepas.

14. Foto Feature: Staf foto Reuters
Reuters memenangkan penghargaan untuk "foto-foto yang mengejutkan" para pengungsi Rohingya saat mereka melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar untuk mencapai perbatasan Bangladesh.

"Semua bakat yang kami miliki kami arahkan ke cerita ini karena ini adalah kisah yang sangat penting untuk diketahui dunia," kata Ahmad Maood, editor foto Reuters.

Maood menugaskan lebih dari selusin fotografer dari seluruh dunia untuk meliput perjuangan Rohingya secara bergiliran -- mencatat ribuan pengungsi yang melintasi perbatasan melalui darat dan laut.

15. Fiksi: "Less," oleh Andrew Sean Greer
Tokoh protagonis novel Greer adalah Arthur Less, seorang novelis di ambang usia 50 tahun yang, merasakan penghinaan terhadap hidup dan karier, dengan enggan menerima undangan untuk serangkaian peristiwa sastra yang membawa bencana.

Perjalanannya, penuh dengan kejadian lucu dan pedih, membawanya ke New York, Paris, Berlin, Maroko, India selatan dan Kyoto, Jepang.

Greer (47) adalah penulis enam karya fiksi, termasuk "The Confessions of Max Tivoli" dan "The Story of a Marriage."

16. Drama: "Cost of Living," oleh Martyna Majok
Majok, 33, seorang imigran Polandia yang melihat pertunjukan teater pertamanya pada usia 17 tahun.

Awalnya dia menulis ini sebagai karya singkat yang disebut "John, Who's Here From Cambridge." Namun, kemudian berevolusi membuka Broadway di Manhattan Theatre Club Juni lalu.

Drama tersebut menerima pujian karena potret mencoloknya tentang hambatan yang datang dengan memiliki cacat fisik dalam berbagai bentuk dan hak istimewa yang ada di tempat-tempat yang tidak terduga.

17. Sejarah: "The Gulf: The Making of an American Sea," oleh Jack E. Davis
Teluk Meksiko adalah teluk terbesar ke-sepuluh di dunia. Namun, tidak ada sejarah yang komprehensif hingga Davis menelusuri sejarahnya dari Pleistocene hingga saat ini.

Davis (61) seorang profesor di University of Florida mengatakan bahwa bencana Deepwater Horizon tahun 2010 telah membantu membentuk misinya: untuk mengembalikan "identitas sejati dari teluk tersebut."

18. Biografi: "Prairie Fires: The American Dreams of Laura Ingalls Wilder," oleh Caroline Fraser
Fraser (57) memenangkan penghargaan untuk "profil yang ditulis secara elegan dan diteliti secara mendalam" yang menunjukkan bagaimana Wilder, penulis buku Little House on the Prairie, "mengubah kisah keluarganya tentang kemiskinan, kegagalan, dan perjuangan menjadi kisah yang menegangkan dari kemandirian, kasih sayang dan ketekunan keluarga."
 
19. Puisi: "Half-light: Collected Poems 1965-2016," oleh Frank Bidart
"Half-light" juga memenangkan Penghargaan Buku Nasional, dan Bidart (73) melihat penghargaan-penghargaan tersebut sebagai pengesahan atas karirnya yang panjang.

20. Non-fiksi: "Locking Up Our Own: Crime and Punishment in Black America," oleh James Forman Jr.
Buku Forman tersebut menunjukkan cara bagaimana respons real-time terhadap krisis di komunitas kulit hitam yang dimulai pada akhir 1960-an secara tidak sengaja membantu mengarah pada penahanan massal.

Forman (50) membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk meneliti buku itu. Dia adalah seorang profesor di Yale Law School.

21. Musik: "DAMN.," oleh Kendrick Lamar
Lamar (30) dari Compton, California, adalah pemenang pertama dari kategori musik yang tidak menghasilkan musik klasik atau jazz -- dan tentu saja rapper pertama.

LP ke-4 Lamar tersebut menduduki puncak tangga lagu sekaligus menyampaikan isu pribadi dan politik yang dialaminya, termasuk ras, keyakinan dan beban kesuksesan komersial.

Dewan Pulitzer menyebutnya sebagai "koleksi lagu virtuoso yang disatukan oleh keaslian vernakular dan dinamisme ritmik yang menangkap kompleksitas kehidupan Afrika-Amerika modern."[] Sumber: antaranews.com

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.