23 July 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Damar di Papan Kering, Lusa Kita Melaut

...

  • PORTALSATU
  • 09 July 2018 14:00 WIB

Seorang nelayan mengecat perahu di pesisir Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Ilustrasi. @Antara
Seorang nelayan mengecat perahu di pesisir Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara. Ilustrasi. @Antara

KULITNYA kian hitam terpanggang, raut muka di wajahnya semakin menua, kulit kulit yang terpanggang di bawah sinaran matahari, kerana di sana selalu berdiam diri, bukanlah kehendak akan tetapi begitulah jalan hidup untuk dirinya dan ia harus menerimanya, walaupun cita cita masa hadapan masih terngiang di dalam urat kepala.

Semua manusia pastilah ingin hidup bahagia, mempunyai pekerjaan yang memadai, bisa mneghidupi keluarga, menyekolahkan anak anaknya sampai ke dayah atawa kampus sehabis masa Sekolah Menengah ke Atas (SMA) mereka, tapi keadaan, keadaanlah yang membuat seseorang itu harus berlaku sebagaimana mustinya.

“Get that get uroe, uroe nyoe,” itulah kata kata yang keluar dari mulut seorang lelaki muda, umurnya masih, sudah dua puluh sembilan tahun. Tahun hadapan ini umurnya akan berada di angka tiga puluh. Ia masih lajang, belum menikah seakan dirinya lupa pada sosok seorang perempuan, teman hidup nantinya.

Tangannya terus mengolesi dama di papan boat yang sudah agak renggang, baju kaos berwarna merah tak lagi dipakai untuk membalut tubuh, tapi kini sudah dipakai untuk melindungi batok kepalanya dari cahaya matahari yang semakin mengganas, jam sudah menunjukkan angka setangah satu, di hari Minggu siang, tanggal 08 Juli 2018.

Di tepi pantai laut Bluka Teubai, Dewantara, Aceh Utara, pada sa’at itu hanya terlihat beberapa nelayan sahaja. Yang lain daripadanya sudah pergi melaut di awal pagi tadi. Hanya tiga boat ikan beraneka warna yang kian terpanggang di tempatnya. Gure, orang orang kampung begitu juga dengan diriku memanggil nama lakap untuknya.

Gure tak banyak bicara, ia terus mengolesi dama ke papan boatnya. Ia belum menjadi seorang pawang, jika sudah menjadi pawang boat ia pasti tidak bekerja lagi di bawah terik matahari yang seperti sekarang ini. Semilir angin tepi pantai memang terasa melambai lambai membelai tubuh tapi panasnya cahaya matahari juga tidak dapat dipungkiri. 

Boat berwarna merah hitam, punya seorang toke di kampungnya sudah berumur tiga tahun setengah, di masa masa demikian boat-boat tersebut sudah meminta perhatian daripada orang-orang yang selalu membawanya mengarungi samudera raya, daripada orang-orang yang selalu membawanya untuk mencari sesuap nasi di laut lepas sana.

“Hoka pawang, ka mate teuh nyoe inoe hat uroe hana jime me ie lom,” Gure yang bernama lengkap Hasanul Basri, kembali bersuara. Tangannya terus mengolesi papan papan yang sudah agak renggang dengan dama, olesannya sangat rapi. Sesudah didama papan itu akan dicat kembali.

Beberapa sa’at kemudian pawang pun tiba membawa minum untuknya. “Oma, kiban ile pawang, inoe hat baro troh iba ie, ukuran ka lage takeurija bak Haji Seuman keudeh, hahaha,” ia mencandai pawang boatnya, pawang itupun menyuruhnya untuk beristirahat dahulu. Tak kala mendengar candanya, seakan ia tengah bekerja di dalam ruang berairconditoiner (AC) sahaja.

Di samping boat yang sudah dimiringkan yang tadi diolesi olehnya akan dama, di situlah ia beristirahat untuk minum dan menghisap sebatang rokok. Pawang yang baru tiba tadi sudah pun mengambil cat dan mengecat papan boat yang sudah didama, kembali dicatnya dama-dama di papan yang sudah kering.

Pukul dua siang menjelang sore di hari Minggu tersebut, pekerjaan Gure pun sudah selasai. Ia sudah siap dari pekerjaannya.

“Nyoe ka jeut tak woe tak pajoh bu, buet pih ka lheueh, hana meu ingat-ingat teuh le keu buet. Meunyoe hana halangan sapue, lusa ka leupah teuh lom (u laot),” Hasanul pun membersihkan dirinya dari pasir-pasir pantai yang menempel pada bagian tubuhnya.

“Jak tak woe.” Ia mengajakku pulang. Lalu kami bergegas pulang untuk makan siang dan beristirahat sejenak dari panasnya sinar matahari di hari Minggu yang bersahaja tersebut. Kutatap wajahnya di sana terlihat raut harap menggulana, namun ia masih bisa tersenyum ikhlas.

Masa masa hadapannya hanya ada dan terbentang di laut luas itu, apakah mereka mereka yang sudah lebih dahulu memilih pekerjaan bahagi hidupnya untuk melaut, entah, adakah cita-cita mereka itu untuk menjadi nelayan semenjak dari dahulu atawa memang inilah jalan hidup dan manusialah yang memilih jalan itu sendiri sendiri.[]

Penulis: Muhammad Syukri (Syukri Isa Bluka Teubai).

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.