21 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dampak Sekolah Daring, Ada Murid yang Tak Lagi Bisa Membaca

...

  • Fakhrurrazi
  • 14 September 2020 18:00 WIB

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRA, Abdurrahman Ahmad [Foto: Fakhrurrazi]
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRA, Abdurrahman Ahmad [Foto: Fakhrurrazi]

Penanganan Covid-19 di Aceh harus menggungakan standar-standar ilmiah yang diyakini kebenarannya sampai 80 persen, kemudian pola ini harus disosialisasikan kepada masyarakat.

BANDA ACEH – Pembelajaran jarak jauh (daring) selama pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) telah menyebabkan adanya murid yang tak lagi bisa membaca karena sudah lama tidak belajar tatap muka di kelas.

Hal itu diungkapkan Ketua fraksi Partai Gerindra Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Abdurrahman Ahmad, Senin, 14 September 2020. Menurutnya, belajar secara daring sangat terbatas dalam banyak hal.

Oleh karena itu, Abdurahman menyarankan harus dibentuk pelajar secara komunitas di kampung masing-masing, memberdayakan guru yang ada di kampung setempat.  "Pelajar-pelajar yang baru tamat dan mengerti harus kita berdayakan di situ. Untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak di berbagai desa di Aceh," sarannya.

Selian itu, lanjut Abdurrahman, sekolah komunitas paling mungkin dilakukan dengan merekrut tenaga pengajar setempat, di tengah keterbatasan segala aspek di Aceh, baik itu jaringan internet, gawai, dan keterbatasan siswa dalam menerima pelajaran melalui daring.

"Jangan datangkan relawan dari luar komunitas. Karena tujuan belajar dari rumah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang kini telah merangsek ke pedalaman di Aceh," tambahnya.

Sementara itu, terkait penanganan virus corona di Aceh lanjut Abdurrahman, selama ini tidak terpadu tidak melibatkan semua unsur baik itu dari masyarakat, perguruan tinggi, TNI-Polri, dan tokoh masyarakat. Pemerintah Aceh selama ini berjalan sendiri dalam menangani penyebaran virus corona di Aceh. 

"Di Aceh inikan kita ada kearifan lokal, ada keunikan tersendiri. Kadang-kadang yang hal yang benar itu belum tentu didengar jika yang menyampaikan itu tidak tepat orangnya," katanya.

Menurut Abdurrahman, penanganan Covid-19 di Aceh harus menggungakan standar-standar ilmiah yang diyakini kebenarannya sampai 80 persen, kemudian pola ini harus disosialisasikan kepada masyarakat. "Peran para ulama, tengku-tengku, dan tokoh masyarakat Aceh, yang bahasanya itu didengar oleh masyarakat," ujarnya.

Abdurrahman menilai pola standar penanganan secara ilmiah ini merupakan pola yang sesuai. Kemudian disampaikan kepada ulama, lalu mereka akan menyampaikan kepada masyarakat. Pola tersebut, kata Abdurrahman belum digunakan oleh Pemerintah Aceh dalam menangani penyebaran virus corona.

"Sudah saatnya Pemerintah Aceh fokus menangani Covid-19 ini. Tinggalkan kegiatan-kegiatan lain, tapi fokus di sini dulu karena kesehatan rakyat itu harus diutamakan," pungkasnya.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.