17 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Di Lhokseumawe
Diduga Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Santri, Pimpinan Pesantren dan Guru Ngaji Ditangkap

...

  • Fazil
  • 11 July 2019 13:40 WIB

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan didampingi Kasat Reskrim dan Kanit PPA konferensi pers pengungkapan kasus pelecehan seksual, 11 Juli 2019. Foto Fazil/portalsatu
Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan didampingi Kasat Reskrim dan Kanit PPA konferensi pers pengungkapan kasus pelecehan seksual, 11 Juli 2019. Foto Fazil/portalsatu

LHOKSEUMAWE - Personel Polres Lhokseumawe menangkap pimpinan pesantren berinisial AI (45) dan guru ngaji di pesantren itu berinisial MY (26) lantaran diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri yang masih di bawah umur. Kasus tersebut terjadi di pesantren yang dipimpin AI di Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKPB Ari Lasta Irawan didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T. Herlambang, dalam konferensi pers di Mapolres setempat, Kamis, 11 Juli 2019, mengatakan kedua tersangka ditangkap pada 8 Juli 2019.

Indra T. Herlambang menjelaskan, pihaknya mengusut kasus itu setelah menerima laporan dari orangtua korban pada 29 Juni 2019 dan 6 Juli 2019. Setelah menerima laporan pertama dari orangtua salah seorang korban pada 29 Juni 2019, kata Indra, pihaknya langsung meminta keterangan pelapor. Lalu, pada 30 Juni 2019, pihaknya mulai meminta keterangan dua santri yang dilaporkan menjadi korban kasus pelecehan seksual itu.

Selanjutnya, kata Indra, pada 1 Juli 2019, pihaknya meminta keterangan seorang santri lainnya yang juga sebagai saksi korban. Pada 3 Juli 2019, polisi meminta keterangan dua saksi korban lainnya, dan seorang santri yang sudah diperiksa sebelumnya.

Indra melanjutkan, pihaknya kemudian meminta keterangan sejumlah saksi lainnya dan memeriksa terlapor, AI dan MY. Setelah diperiksa sebagai saksi, AI dan MY kemudian ditingkatkan statusnya menjadi tersangka kasus pelecehan seksual tersebut.

Menurut Indra, kasus pelecehan seksual di pesantren itu terjadi sejak akhir tahun 2018 hingga awal 2019. Sejauh ini ada lima korban yang merupakan santri berusia 13-14 tahun. Kata Indra, tersangka AI melakukan pelecehan seksual terhadap lima korban masing-masing tiga hingga lima kali. Sedangkan tersangka MY melakukan pelecehan seksual terhadap seorang korban dua kali.

"Modusnya adalah pelaku memanggil korban satu persatu untuk bersih-bersih ruangannya hingga terjadi hal seperti itu. Pelaku merupakan pimpinan dayah (pesantren) dan guru ngaji. Pimpinan dayah benisial AI sudah berkeluarga, tapi tiga kali berkeluarga sudah cerai dengan istrinya," ujar Kapolres Lhokseumawe, AKPB Ari Lasta Irawan.

Ari Lasta menyebutkan, saat akan menjalankan aksinya, tersangka tidak melakukan pengancaman, tapi melalui dokrin-dokrin agama, sehingga para santri merasa takut apabila menolak keinginan pimpinan pesantren dan guru ngaji itu.

Menurut Ari Lasta, berdasarkan informasi terakhir jumlah santri yang mengaku menjadi korban sudah mencapai 15 orang. Polisi akan melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan ada korban-korban lainnya. 

Namun, kata Kapolres, sampai saat ini kedua tersangka tidak mengakui perbuatannya. Kedua tersangka dijerat pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.