12 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Eskalasi Konflik Meningkat, Harimau Sumatera Terancam Punah

...

  • portalsatu.com
  • 11 July 2020 16:19 WIB

Para pembicara pada diskusi daring FJL terkait satwa liar [Foto: IST]
Para pembicara pada diskusi daring FJL terkait satwa liar [Foto: IST]

Faktor pemicu konflik satwa liar dengan manusia seperti pembukaan kawasan hutan, perubahan fungsi lahan, perburuan, dan pola perkebunan tradisional yang tidak mempertimbangkan satwa lindung.

BANDA ACEH – Eskalasi konflik antara manusia dengan satwa liar harimau Sumatera (panther tigris sumatrae) setiap tahun terus meningkat. Dikhawatirkan suatu saat keberadaan satwa yang dilindungi tersebut akan punah.

Hal itu mengemuka dalam diskusi virtual Forum Jurnalis Lisngkungan (FJL) Aceh bersama Lembaga Galang Suar Keadilan (LGSK), Flora Fauna Internasional, dan Flora Fauna Aceh, Sabtu, 13 Juli 2020.

Diskusi diisi oleh para pembicara yang terdiri dari Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto, Direktur Flora Fauna Aceh Dewa Gumay, peneliti Pusat Kajian Satwa Liar Universitas Syiah Kuala Drh Wahdi Azmi, dan Kasubdit IV Tipiter Ditkrimsus Polda Aceh Ajun Komisaris Besar Pol Muliadi.

Dalam diskusi daring yang dimoderatori oleh anggota FLJ Zulkarnain Masri itu Agua Arianto mengungkapkan, perlu kerja keras dan sinergitas semua pihak untuk melindungi harimau Sumatera dari ancaman kepunahan.

“Sepanjang semester pertama 2020 terjadi 18 kasus konflik harimau sama dengan jumlah kasus pada tahun 2019. Diprediksi konflik harimau akan masih akan terjadi karena dalam beberapa hari ini di kawasan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, harimau berkeliaran di kawasan perkebunan warga,"  ungkapnya.

Populasi harimau sumatra di Aceh saat ini diperkirakan sekitar 200 ekor berada di Kawasan Ekosistem Leuser dan Ulu Masen. Namun, data itu telah lama tidak diperbarui.  Pada 2016 hingga 2020 jumlah kasus konflik harimau di Aceh 55 kali. Daerah paling banyak terjadi konflik harimau adalah di Kabupaten Aceh Selatan. Dampak konflik di Aceh Selatan satu ekor harimau betina mati diduga diracun.

Agus menambahkan, ada beberapa faktor pemicu konflik satwa liar dengan manusia seperti pembukaan kawasan hutan, perubahan fungsi lahan, perburuan, dan pola perkebunan tradisional yang tidak mempertimbangkan satwa lindung.

Pada kesempatan yang sama Direktur Flora Fauna Aceh, Dewa Gumay menuturkan penanggulangan konflik satwa harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penataan kawasan hingga penindakan hukum. Penindakan hukum yang lemah tidak akan memberikan efek jera bagi pelaku. 

Dewa menilai belum semua apara kepolisian memiliki semangat yang sama dalam mengungkap kasus kejahatan satwa liar dan konservasi. Dewa menyebutkan masih ada kasus yang tuntas diungkap seperti kasus kematia 5 ekor gajah di Aceh, kematian 1 ekor harimau di Aceh Selatan, dan kematian gajah di Pidie Jaya. “Ini menjadi preseden buruk dalam kasus penindakan hukum  kejahatan perburuan dan perdagangan gelap satwa liar,” kata Dewa.

Menanggapi hal itu Kasubdit IV Tipiter Ditkrimsus Polda Aceh, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Muliadi menegaskan, jajaran kepolisian memiliki semangat kuat menindak pelaku kejahatan satwa liar dan konservasi. Bulan lalu empat tersangka perdagangan kulit harimau ditangkap di Aceh Timur.

“Kasus kematian 5 ekor gajah di Aceh Jaya masih ditangani oleh Polres Aceh Jaya. Sedangkan kematian satu ekor harimau di Aceh Selatan ditangani Polres Aceh Jaya. Kami masih memantau perkembangan, jika perlu kasus itu ditarik ke Polda Aceh,” kata Mulyadi.

Mulyadi mengajak semua pihak untuk terlibat mengawasi proses hukum dalam kasus kejahatan satwa liar. Pengawasan yang dilakukan oleh publik akan mempengaruhi tingkat vonis terhadap terdakwa.

Sementara itu peneliti Pusat Kajian Satwa Liar Universitas Syiah Kuala, Drh Wahdi Azmi menuturkan perlu pelibatan aparatur desa dalam upaya mitigasi konflik satwa. Pemerintah desa sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten dan provinsi harusnya memiliki semangat yang sama untuk melindungi kawasan dan satwa.[Khairul Anwar]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.