21 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Foto: Evakuasi Nisan Tinggalan Kerajaan Sumatra dari Sungai Pasai

...

  • PORTALSATU
  • 04 March 2019 08:50 WIB

Foto: Cisah
Foto: Cisah
Foto: Cisah
Foto: Cisah
Foto: Cisah

Tim peduli sejarah dimotori CISAH terus saja   melakukan kerja nyata di kawasan tinggalan Kerajaan Islam Sumatra (Samudra Pasai). Mereka sudah berulang kali menyelamatkan nisan-nisan berinskripsi yang tertimbun dalam tanah di berbagai kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Nisan-nisan tertimbun dalam perut bumi itu diangkat ke permukaan, dibersihkan dan ditata kembali, lalu didokumentasikan untuk pendataan dan penelitian kepentingan ilmu pengetahuan. Selain itu, nisan-nisan tinggalan sejarah itu diharapkan dapat terus dilestarikan oleh pemerintah dan masyarakat. 

Kali ini, tim peduli sejarah tersebut melakukan hal berbeda. Mereka menyelam ke dasar Krueng Pase (Sungai Pasai) mencari nisan-nisan, melakukan ekskavasi, lalu diikat dengan tali untuk dapat dievakuasi ke darat. Kegiatan itu melibatkan tim gabungan dari CISAH, PELISA, KPA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, serta tokoh masyarakat setempat. 

Penyelaman untuk ekskavasi dan evakuasi nisan-nisan tinggalan sejarah tersebut berlangsung di Gampong Murong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Ahad, 3 Maret 2019, pagi sampai sore.

"Arus yang deras dan kondisi debit air yang lumayan besar pada hari ini (kemarin, red) tak menyurutkan niat tim untuk melakukan penyelamatan nisan-nisan tinggalan Kesultanan Sumatra," ujar Ketua CISAH, Abel Pasai, kepada portalsatu.com, Ahad malam.

Abel menjelaskan, beberapa hari sebelumnya ditemukan dua nisan berinskripsi oleh Tgk. Jamaluddin, tokoh masyarakat Gampong Murong. Bersama warga setempat, kedua nisan tersebut berhasil diselamatkan ke halaman rumah Tgk. Jamaluddin yang berada di pinggir Sungai Pasai, tidak jauh dari lokasi temuan.

"Lalu temuan itu dilaporkan kepada tim CISAH. Dan tim segera merespons temuan berharga ini. Kemudian langsung menyusun jadwal untuk melakukan penyelamatan nisan-nisan yang masih terbenam di dasar Sungai Pasai," kata Abel.

Menurut Abel, keseluruhan nisan yang berhasil diselamatkan oleh tim, tidak kurang dari 15 nisan (dua di antaranya diselamatkan Tgk. Jamaluddin bersama warga, dua hari sebelumnya).

Dari 15 nisan itu, 4 pasang nisan, dan 7 fragmen nisan yang kondisinya patah juga tanpa pasangan. Dua pasang di antaranya memiliki inskripsi, dan satu pasang dipastikan memiliki epitaf yang menyebutkan pemilik makam, yang saat ini masih dalam kajian oleh tim ahli epigrafi CISAH. 

"Tipologi nisan ini dicirikan sebagai tipologi Sumatra-Pasai, yang berasal dari abad ke-15 sampai dengan 16 Masehi. Kesemua nisan oleh tim dibedakan dengan 5 tipe dengan ukuran yang bervariasi," ujar Abel.  

Atas keberhasilan tim gabungan pada hari ini, kata Abel, membuat masyarakat sekitar semakin antusias untuk melacak keberadaan nisan-nisan lainnya yang kemungkinan besar masih terbenam.

Abel juga menyampaikan, dengan bertambahnya warisan sejarah yang ditemukan di kawasan Heritage Sumatra-Pasai, khususnya di Kecamatan Samudra, seluruh tim dan masyarakat berharap kepada Pemerintah Pusat untuk menjadikan Kecamatan Samudra sebagai Kawasan World Heritage City. "Mengingat ratusan nisan tokoh Islam yang berasal dari berbagai belahan dunia telah ditemukan di kawasan ini," katanya. 

"Dan tentunya warisan ini adalah milik seluruh elemen bangsa, yang sangat penting untuk kita angkat sebagai destinasi wisata sejarah Islam Dunia. Karena Kesultanan Sumatra telah masyhur dikenal sebagai Pusat Peradaban Islam terawal di Asia Tenggara," ujar Abel.(BacaNisan Tinggalan Kerajaan Berusia Enam  Abad Diselamatkan dari Sungai Pasai)[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.