26 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gelombang Perkembangan Islam di Kuba

...

  • REPUBLIKA
  • 30 October 2017 09:40 WIB

Masjid Ortakoy, masjid terkenal di pinggiran selat Bosforus, Istanbul, Turki. Gaya masjid ini dipakai untuk masjid di Kuba. @dailytourstoistanbul.com
Masjid Ortakoy, masjid terkenal di pinggiran selat Bosforus, Istanbul, Turki. Gaya masjid ini dipakai untuk masjid di Kuba. @dailytourstoistanbul.com

MENCAPAI jumlah 9.000 Muslim adalah prestasi besar, karena pada era 1990-an jumlah mereka hanya 12 orang.

Agama Islam diam-diam berkembang di Kuba. Sebanyak sembilan ribu Muslim beraktivitas dengan bebas di negara ini. Meskipun hanya bagian kecil, mereka cukup mempengaruhi kehidupan 11,3 juta warga negara yang dikenal dengan cerutunya.

Mencapai jumlah 9.000 Muslim adalah prestasi besar, karena pada era 1990-an jumlah mereka hanya 12 orang. "Islam akan tumbuh secara alami. Partai Komunis telah membuat keputusan untuk membuka pluralitas agama,"ujar Profesor 
Ilmu Politik di Universitas Emory di Atlanta Michael Leo Owens sebagaimana diberitakan Newsweek.com.

Karena tidak ada sejarah Islam di Kuba, banyak Muslim di pulau itu adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka banyak menjalin komunikasi dengan Muslim dari berbagai negara, seperti Amerika, Eropa, dan Timur Tengah.

Meskipun menjadi bagian dari kelompok agama yang tumbuh paling cepat di dunia, laporan Pew Research Center memperkirakan populasi Muslim dunia akan meningkat 73 persen pada tahun 2050. Salah satu negara yang menjadi tempat berkembang Muslim adalah Kuba.

Pada awal 1990 segelintir warga Muslim di Kuba menghadapi kemungkinan penganiayaan oleh rezim tersebut karena telah mempraktikkan agamanya. Namun, sebagian besar berupaya mendapatkan perlindungan. Secara diam-diam mereka menjalankan keyakinannya. Saat itu hanya sedikit yang bisa mengajari mereka tentang Islam.

Sekarang mereka memiliki kepemimpinan, guru, dan masjid yang dibuka di Havana sejak Juni 2015. Pada saat pembukaan, pengurus masjid menyumbang pakaian Muslim kepada pria dan wanita dan juga anak domba kepada jamaah selama bulan Ramadhan.

Hajji Isa sebelumnya dikenal sebagai Jorge Elias Gil Viant, seorang Muslim dan seniman Kuba. Dia adalah mantan pustakawan Uni Arab-Kuba, sebuah organisasi budaya yang berbasis di Havana. Dia memperkirakan, ada sekitar 1.000 muslim Kuba. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan imigran Muslim.

"Ini komunitas muda. Muslim dari luar negeri telah dan masih merupakan faktor penentu dalam perkembangan masyarakat Kuba. Siswa Muslim dari Afrika, Sahara Barat, Yaman, Palestina dan negara-negara Arab lainnya, memiliki pengaruh besar pada 1990-an. Banyak dari mereka berasal dari Pakistan," kata Isa dilansir dari Aljazirah.

Ini menurut Isa adalah komunitas muslim kecil. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Karena jumlah muslim mulai tumbuh, bagaimanapun, orang menjadi lebih sadar akan Islam sebagai agama yang juga dipraktikkan oleh orang Kuba. Islam menjadi keyakinan yang turut mendukung pembangunan Kuba.

Orang-orang Moor dari Andalusia dibawa sebagai budak para penakluk Spanyol sejak tahun 1593. Selama berabad-abad berikutnya, baik pedagang Muslim maupun Kristen dari Timur Tengah tertarik ke Kuba dengan kekayaan alamnya. Negeri itu masyhur karena tanahnya yang subur. Hasil pertaniannya adalah gula yang banyak didagangkan.

Kebanyakan masyarakat di sana menetap di Havana atau sekitar Santiago de Cuba, kota terbesar kedua di ujung timur. Sebagian besar imigran Arab, baik Muslim maupun Kristen, meninggalkan agama mereka di Kuba.

Banyak saudara dari negara lain yang mengatakan Muslim Kuba adalah yang sejati, karena jauh lebih sulit untuk diamati. Budaya Kuba saat ini selalu menimbulkan tantangan bagi umat Islam. Rum adalah salah satu barang utama yang dijual di kafe. Ini adalah minuman yang populer. Paling tidak karena harganya jauh lebih murah dari pada minuman ringan. Daging yang tidak halal juga banyak didagangkan di sana.

Saat ini super market baru saja mulai mengimpor ayam halal dari Brazil, tetapi tidak terjangkau bagi kebanyakan orang Kuba. Pakaian, seperti dishdasha atau penutup kepala, harus diimpor atau sebagai hadiah dari umat Islam negara lain.

"Banyak saudara dari negara lain telah mengatakan kepada saya bahwa kita Muslim Kuba adalah yang sejati, karena jauh lebih sulit untuk diamati di sini daripada di negara di mana banyak orang memiliki kepercayaan dan praktik yang sama," kata Isa.

Orang-orang Kuba juga menghadapi tantangan dari kurangnya pemahaman mengenai Islam. Laporan media tentang serangan teroris dan konflik di Timur Tengah telah membentuk banyak persepsi orang Kuba terhadap agama tersebut.

Perwakilan
Jamal adalah perwakilan informal komunitas Muslim Santiago yang terdiri dari sekitar 30 orang Kuba dan 90 mahasiswa asing. Dia bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Tugasnya adalah mengamati perkembangan Muslim di negeri tersebut dan mendukung keperluan mereka untuk menjalankan keyakinan.

"Kami mencoba untuk memberikan contoh terbaik tentang Islam, karena saat ini ada banyak pesan negatif di media. Orang-orang menggeneralisasi, berpikir, 'Jika Anda seorang Muslim, Anda pasti seorang teroris'."jelas dia.

Islam adalah agama damai. Pesan tersebut bukan untuk mengajak non-Muslim memeluk Islam, tetapi agar mereka bisa hidup dengan nyaman bersama dengan umat Islam.

Jamal mengatakan kebebasan beragama dihormati berdasarkan hukum Kuba. "Masalah biasanya berasal dari pihak berwenang di tempat-tempat yang menafsirkan undang-undang dengan cara mereka sendiri. Karena undang-undang jelas mengatur, orang tidak dapat didiskriminasi karena perbedaan ras, agama atau warna kulit," kata dia.

Beberapa mualaf wanita yang mengenakan jilbab menghadapi keberatan dan diskriminasi dari pihak berwenang di tempat kerja atau universitas mereka. Situasi seperti itu biasanya diselesaikan melalui diskusi dan penjelasan tentang Islam.

Jorge Miguel Garcia, yang nama muslimnya adalah Khaled, adalah pemilik kafe di Santiago. Tempatnya bekerja kerap dimanfaatkan untuk pertemuan informal komunitas Muslim dan populer dengan orang-orang Kuba yang tidak beragama.[]Sumber:republika

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.