12 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ghouta Timur Krisis, ACT Berangkatkan Tim SOS Syria

...

  • PORTALSATU
  • 24 February 2018 09:20 WIB

Kondisi warga sipil korban perang di Ghouta Timur, Suriah @ACT/Mohamed Badra
Kondisi warga sipil korban perang di Ghouta Timur, Suriah @ACT/Mohamed Badra

JAKARTA -- Kondisi warga sipil Suriah semakin kritis akibat serangan udara yang menggempur Ghouta Timur terhitung sejak Minggu, 18 Februari 2018. Ghouta Timur memanggil dunia untuk beraksi nyata, meredamkan eskalasi perang yang menyekap wilayah ini selama lima hari berturut-turut. Merespons panggilan tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia memberangkatkan Tim SOS for Syria XIV menuju Suriah, Jumat, 23 Februari 2018.

Presiden ACT Indonesia Ahyudin mengatakan, apa yang tengah terjadi di Ghouta Timur adalah sebuah bencana kemanusiaan besar yang menimpa Bumi Syam. Oleh karenanya, respons cepat amat dibutuhkan untuk mengatasi krisis tersebut.

“Empat ratus ribu jiwa terperangkap dalam intensitas perang yang tinggi. Rumah, masjid, rumah sakit, dan bangunan-bangunan lainnya hancur. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk menyelamatkan diri pun sulit. Belum lagi dengan korban yang mencapai ribuan. Ini seperti pembantaian besar-besaran. Kita harus bertindak cepat membantu mereka,” kata Ahyudin melalui siaran pers.

Ia juga menambahkan jika Ghouta merupakan tempat istimewa bagi umat Muslim. Ghouta menjadi benteng atau pusat kekuatan kaum Muslimin. Sehingga, krisis yang melanda Ghouta Timur atau masyarakatnya harus menjadi perhatian khusus muslim dunia.

“Ini menjadi wasilah bagi umat muslim dunia. Semua bahu-membahu membantu masyarakat  Ghouta Timur maupun kota Ghouta itu sendiri. Sebab, di sanalah kekuatan umat Islam berpusat, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadis sahih. ‘Sesungguhnya kekuatan muslimin pada waktu itu ada di Ghuthah, di samping kota yang bernama Damaskus yang paling terbaik di negeri Syam.’ (HR. Abu Dawud),” jelas Ahyudin.

Tim SOS for Syria XIV diberangkatkan pada Jumat dini hari. Tim akan bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju Suriah. Bantuan langsung berupa Dapur Umum dan makanan siap santap akan didistribusikan bagi para pengungsi yang mencoba menyelamatkan diri dari Ghouta Timur.

Bantuan pangan menjadi salah kebutuhan pokok yang amat dibutuhkan para pengungsi Ghouta Timur saat ini. Mitra Aksi Cepat Tanggap di Suriah menyampaikan, para pengungsi sangat kesulitan mendapatkan makanan di tengah kondisi genting di sana.

“Mereka butuh makanan yang siap untuk disantap, bukan bahan pangan yang harus diolah terlebih dahulu oleh mereka. Hal ini karena peralatan masak itu hampir sulit ditemui. Semua hancur akibat bombardir pesawat tempur,” kata Ahyudin mengutip pernyataan Mohammad Hasan, mitra ACT di Suriah.

Sejak Minggu pekan lalu hujan bombardir dari segala penjuru mengguyur Ghouta Timur, 15 km jauhnya dari ibu kota Suriah, Damaskus. Ghouta Timur semakin lumpuh, sementara masyarakat sipil kian banyak yang tewas terkena serangan udara. Kamis, 22 Februari 201818, Syrian Observatory for Human Rights menyebutkan, korban jiwa mencapai lebih dari 335 orang.

Ghouta Timur kini memasuki fase krisis kemanusiaan yang tak kalah seriusnya dengan krisis yang menimpa Idlib, Aleppo, dan beberapa kota di Suriah lainnya. Sejak 2013, ACT senantiasa menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi Suriah yang berada di dalam negara tersebut maupun di kamp pengungsian di beberapa negara tetangga Suriah.

"Insya Allah, ACT terus berikhtiar membantu warga Suriah yang masih dirundung konflik, seperti mereka ratusan ribu warga di Ghouta Timur," kata Ahyudin.[]

Editor: IHAN NURDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.