18 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gubernur Aceh: Tindak Penjual Makanan Berbahaya

...

  • PORTALSATU
  • 26 June 2018 22:00 WIB

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. @dok. portalsatu.com
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. @dok. portalsatu.com

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, meminta agar para pedagang yang memperjualbelikan pangan segar (bahan makanan) maupun pangan olahan (makanan hasil olahan) yang mengandung bahan kimia berbahaya diambil tindakan tegas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Hal ini disampaikan Gubernur Irwandi saat konferensi pers tentang Hasil Pengawasan dan Pengujian Kandungan Bahan Kimia Berbahaya dan Produk Pangan yang beredar di Aceh, di ruang kerjanya, Selasa, 26 Juni 2018.

Pernyataan tegas orang nomor satu di Aceh itu dipicu oleh temuan pangan segar dan pangan olahan yang diperjualbelikan di Aceh mengandung bahan pengawet berbahaya bagi kesehatan konsumen. Di antaranya, ikan mengandung formalin dan pangan segar atau olahan yang mengandung boraks atau rhodamin B.  

Hal ini terungkap dari hasil uji sampel ikan oleh UPTD Laboratorium  Pembinaan dan Pengujian Mutu dan Hasil Perikanan (LPPMHP) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, dan hasil uji panganan berbuka puasa oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Aceh.

DKP Aceh memeriksa 32 sampel ikan dari Pasar Ikan Paya Ilang dan Pasar Bawah, Aceh Tengah. Hasilnya menunjukkan 11 sampel positif mengandung formalin. Sedangkan ikan dari Pasar Ikan Kota Sabang, sebanyak tiga sampel positif mengandung formalin, dari tujuh sampel yang diperiksa. DKP Aceh menguji 145 sampel pada inspeksi dilakukan pada periode April-Mei 2018. 

Sampel ikan yang diuji, yakni cumi-cumi, udang putih, ikan kerapu, bawal, dencis, ikan pisang-pisang, ikan jenara, ikan kantup, ikan nila, dan ikan cirik. Formalin juga ditemukan dalam es batangan untuk pengawetan ikan tersebut.

Sementara itu, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh memeriksa 558 sampel makanan jajanan untuk berbuka puasa pada Mei 2018, seperti kudapan, mi kuning, bakso, tahu, kerupuk tempe, minuman berwarna, dll. 

Hasil pemeriksaan sampel pangan yang berasal dari 25 lokasi penjuan takjil di Kota Banda Aceh, dan 37 lokasi di kabupaten/kota itu menunjukkan 506 sampel memenuhi syarat kesehatan. Akan tetapi sisanya sebanyak 52 sampel mengandung bahan kimia berbahaya jenis formalin, boraks, dan rhodamin B. 

Penggunaan formalin, boraks, dan rhodamin B pada makanan dinilai sangat berbahaya. Formalin merupakan bahan kimia yang digunakan sebagai desinfektan, pengawet mayat, pembasmi serangga,  industri tekstil dan kayu lapis.

Sedangkan boraks adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoa. Kedua bahan kimia ini dipergunakan oleh pengusaha nakal untuk membuat ikan, mi, dan kerupuk tempe, itu tahan lebih lama. “Padahal bahan-bahan kimia tersebut bersifat karsinogenik dan dapat memicu penyakit kanker”.  

Rhodamin B merupakan salah satu bahan pewarna sitentis makanan yang dilarang penggunaannya karena mengandung logam berat dan sifat kimiawinya yang berbahaya bagi kesehatan. 

Gubernur Irwandi meminta ditindak tegas pengusaha (grosir) maupun para pedagang bahan pangan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Karena tindakan mereka melanggar peraturan perundang-undangan, seperti UU Perlindungan Konsumen dan UU Kesehatan. Tindakan mereka sangat merugikan orang lain dan dapat diancaman pidana penjara dan denda.  

“Edukasi dan pembinaan sudah lama dilakukan, dan mulai sekarang harus diambil tindakan hukum,” tegas Gubernur Irwandi 

BBPOM Banda Aceh telah mengirimkan hasil temuannya kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti. Pengusaha dan pedagang yang telah dilakukan pembinaan dan masih tetap memperdagangkan pagan yang mengandung bahan kimia berbahaya dapat diambil tindakan hukum yang berlaku.   

Gubernur Irwandi mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan selektif memilih bahan pangan, seperti ikan basah, ikan asin, mi, dan jenis bahan makanan lainnya yang diperjual-belikan para pedagang di pasar maupun pedagang keliling di lingkungannya. 

Adapun ciri-ciri ikan yang mengandung formalin, warna ikan lebih cerah dan segar, daging ikan tidak mudah hancur, tekstur ikan terlihat keras, tidak berbau layaknya ikan, tidak dihinggapi lalat, warna daging ikan putih bersih, dan insang pada ikan berwarna merah kegelapan. 

Sedangkan mi yang mengandung boraks memiliki ciri antara lain, jika disentuh dan ditarik tidak akan lengket, mie akan lebih tahan lama dan tidak mudah rusak. 

Gubernur Aceh juga meminta kepada bupati dan wali kota di seluruh Aceh untuk melakukan inspeksi pasar secara berkala dengan melibat instansi teknis terkait untuk mengawasi kualitas makanan dan minuman yang diperjualbelikan kepada masyarakat.[](*/rel)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.