15 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Gugat Cerai di Mahkamah Syariah Didominasi Pasangan Kawin Lari

...

  • portalsatu.com
  • 22 November 2019 08:30 WIB

Plh Ketua Mahkamah Syariah Gayo Lues, Agus Sofyan [foto; Win Porang]
Plh Ketua Mahkamah Syariah Gayo Lues, Agus Sofyan [foto; Win Porang]

Banyaknya pasangan nikah muda dan kawin lari di Kabupaten Gayo Lues menimbulkan persoalan, kebanyakan pasangan tersebut kemudian melakukan gugat cerai ke Mahkamah Syariah, aparat desa diminta untuk tidak sembarangan mengeluarkan surat izin pernikahan.

BLANGKEJEREN – Persoalan tersebut diungkapkan Plh Ketua Mahkamah Syariah Gayo Lues, Agus Sofyan, Kamis, 21 November 2019. Menurutnya, gugatan cerai yang didaftarkan ke Mahkamah Syariah ada 98 kasus, 95 kasus diantaranya sudah selesai, dan tiga kasus perceraian lainya masih dalam proses sidang.

Sekitar 80 persen dari kasus tersebut merupakan istri yang menggugat cerai suami, sementara 20 persen sisanya suami yang menggugat cerai istri. Berdasarkan sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) di Mahkamah Syariah Gayo Lues, alasan istri hendak menceraikan suami lantaran adanya perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus, ada yang kurang nafkah, ada juga karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta ada juga akibat campur tangan pihak ketiga.

Sedangkan alasan suami mencerakan istri adalah akibat istri tidak mendegarkan ucapan suami, istri suka kabur dari rumah ke rumah orang tua tanpa persetujuan suami, hingga ada kasus suami menceraikan istri lantaran si istri tidak mau memasak dan tidak mau membuatkan kopi untuk suaminya.

"Dari semua kasus yang kami tangani, kebanyakan istri gugat cerai suami atau sebaliknya, itu pernikahanya dulu melalui kawin lari, bukan menikah berdasarkan lamaran, malahan ada saksi mengaku saat saya tanyai, kenapa dinikahkan kalau tidak setuju, habis mau gimana sudah kawin lari," katanya.

Sementara untuk kawin lari di bawah umur, kebanyakan pernikahanya dilakukan dengan cara di bawah tanggan atau tidak resmi, sehingga tidak memiliki buku nikah dan sulit melakukan gugat cerai ke Mahkamah Syariah.

"Berdasarkan Undang-Undang  No 16 tahun 2019, usia wanita yang boleh menikah saat ini sudah menjadi 19 tahun, kalau sebelumnya umur 16 tahun juga sudah dibolehkan menikah, kalau laki-laki usianya tetap sama yaitu 19 tahun juga," jelasnya.

Untuk menguranggi kasus perceraian di Gayo Lues, Mahkamah Syariah meminta peran aparat desa lebih ditingkatkan di masa yang akan datang, seperti tidak sembarangan mengeluarkan izin pernikahan sebelum dibimbing pihak KUA.

"Artinya peran kepala desa dan imam sangat besar dalam urusan pernikahan dan perceraian ini, kalau mempelai dan keluarganya yang kawin lari belum dinasehati di KUA, jagan berikan izin, karena bibimbangan itu sangat bermanfaat, begitu juga dengan perceraian, kalau memang tidak ada jalan lagi setelah perundingan, dikeluarkan rekomnya, jangan karena masalah sepele langsung gugat menggugat," himbaunya. [Win Porang]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.