25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Dugaan Penyebab Kematian Paus yang Terdampar di Ujong Kareung

...

  • TAUFAN MUSTAFA
  • 14 November 2017 15:00 WIB

@Taufan Mustafa/portalsatu.com
@Taufan Mustafa/portalsatu.com

ACEH BESAR - Empat ekor paus sperma yang mati di perairan Pantai Ujong Kareng, Aceh Besar, saat ini sedang dilakukan morfometri oleh tim gabungan Jakarta Animal Aid Networ (Jaan) BKSDA Aceh, Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Unsyiah dengan Ocean Diving Club (ODC) Unsyiah.

"Dugaan sementara beberapa diduga sakit karena pox virus, yaitu jamur yang akut, dan pengaruh seismik akibat gempa bawah laut yang skalanya tiga koma sekian, yang menyebabkan paus ini terdampar. Kita tahu jaraknya seismik memengaruhi, yang jaraknya ratusan mil, yang sakit, sehingga terdampar, termasuk pemimpin paus, sehinga yang lainnya ikut," kata Amang Raga, Koordinator Marine Animal saat diwawancarai portalsatu.com, Selasa, 14 November 2017.

Menurut Amang Raga, dari empat paus yang mati itu, dua ekor jantan masih muda, dan dua betina—salah satunya betina dewasa. Diperkirakan umur paus ini rata-rata di atas 50 tahun.

"Paus yang telah didorong ke laut, diprediksi akan kembali, maka harus dilakukan monitoring selama empat hari untuk mengarahkan paus yang masih hidup lainnya," kata Amang.
Amang tambahkan, di samping ditemukan morbili jenis jamur dan pox virus, yaitu jamur yang akut sehingga ada parasit berkembang di dalam badan paus sperma (sperm whale).
"Nanti paus ini akan dibelah atau nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian, akan ada uji lab untuk tes DNA," kata Amang.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, "Hari ini akan dilakukan penguburan (paus yang mati) di sekitar pantai ini. Saat ini sedang menunggu alat berat".

Menurut Sapto, ini kali kedua yang terjadi terkait kematian paus. Hal ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat, karena sudah terjadi dua tahun berturut, maka harus dibuat suatu pusat informasi sebagai pusat koordiansi untuk melakukan evakuasi dan keperluan edukasi bagi masyarakat.
"Agar bisa berkomunikasi apabila ada hal seperti ini dan masyarakat bisa belajar dan mempunyai etika saat berkunjung untuk melihat. Itu penting untuk edukasi, seharusnya lokasi ini steril dari masyarakat," kata Sapto.
Sapto menyebutkan, sejauh ini belum ada petugas yang terlatih untuk menangani paus itu. “Ke depan belum tahulah apakah akan dibentuk tim kusus nantinya," ujar Sapto.
Suardi, salah seorang warga Aceh Besar yang datang untuk melihat paus tersebut saat ditanyai portalsatu.com mengatakan, awalnya ia merasa penasaran, sehingga dating untuk melihat langsung.

"Dengar informasi paus ini ke pantai karena mengantar temannya yang sakit, itu bagian dari kesetiaan, bisa sebagai peringatan dan pengetahuan, kita pikir kanapa ke Aceh, atau ke Medan kan juga bisa," katanya.

Amatan portslsatu.com di lokasi banyak warga terus berdatangan untuk melihat empat bangkai paus.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.