15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Kata Jaksa Soal Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Santri di Lhokseumawe

...

  • PORTALSATU
  • 15 July 2019 13:00 WIB

Kejaksaan (ilustrasi). Foto via republika
Kejaksaan (ilustrasi). Foto via republika

LHOKSEUMAWE – Kejaksaan Negeri Lhokseumawe sudah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri masih anak di bawah umur dari penyidik Polres setempat.

“SPDP untuk dua tersangka kasus tersebut kami terima dari penyidik pada 9 Juli 2019,” ujar Kajari Lhokseumawe, Muhammad Ali Akbar, S.H., M.H., melalui Kepala Seksi Pidana Umum, Fakhrillah, S.H., M.H., menjawab portalsatu.com, di ruangan kerjanya, Senin, 15 Juli 2019.

Seperti diketahui, kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri terjadi di salah satu pesantren di Lhokseumawe. Personel Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe sudah menangkap dua tersangka berinisial AI, oknum pimpinan pesantren, dan MY, guru ngaji di pesantren tersebut, 8 Juli 2019. (BacaDiduga Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Santri, Pimpinan Pesantren dan Guru Ngaji Ditangkap)

Dalam SPDP dikirim penyidik kepada Kejari Lhokseumawe, disebutkan bahwa kedua tersangka kasus tersebut disangkakan pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Bunyi pasal 47 Qanun Hukum Jinayat, "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan jarimah pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 terhadap anak, diancam dengan ‘uqubat ta’zir cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan."

Atas SPDP itu, kata Fakhrillah, pihaknya akan mengikuti perkembangan penyidikan kasus tersebut. Setelah nantinya penyidik mengirim berkas penyidikan kasus itu, maka pihaknya akan melakukan penelitian terhadap fakta-fakta yang diperoleh dari hasil penyidikan.

Lihat pulaTersangka Pelecehan Seksual Terhadap Santri Harus Dijerat UU Perlindungan Anak

Fakhrillah tidak bersedia menanggapi pernyataan pihak LBH Banda Aceh yang mendorong penyidik menjerat kedua tersangka kasus pelecehan seksual terhadap santri masih di bawah umur itu dengan UU tentang Perlindungan Anak. Pasalnya, jaksa belum menerima berkas penyidikan kasus itu dari penyidik, sehingga belum dapat meneliti fakta-fakta yang diperoleh dari hasil penyidikan, termasuk soal penerapan pasal atau peraturan perundang-undangan yang tepat dan benar terhadap tersangka.

Namun, untuk pengetahuan bagi publik, Fakhrillah menjelaskan bahwa sesuai ketentuan berlaku, tersangka/terdakwa kasus itu tidak dapat dituntut atau diadili dua kali dalam perkara yang sama. Sehingga, apabila nantinya sudah dituntut melanggar Qanun Hukum Jinayat, maka tidak dapat lagi dituntut melanggar UU Perlindungan Anak. 

“Dari sisi hukum, apabila suatu perkara sudah diputuskan oleh pengadilan terhadap perkara yang sama dan orang yang sama, maka tidak bisa dilakukan penuntutan dua kali. Itu dimaksudkan dalam asas Nebis in idem yang diatur dalam pasal 76 KUHP. Bunyi pasal 76 ayat (1) KUHP adalah, 'Kecuali dalam hal putusan hakim masih mungkin diulangi, orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang menjadi tetap. (Nebis in idem)'," ujar Fakhrillah.

Fakhrillah menjelaskan, kompetensi pengadilan yang berwenang mengadili perkara terkait Qanun Hukum Jinayat berbeda dengan perkara UU Perlindungan Anak.      

“Kalau diterapkan Qanun Hukum Jinayat, kompetensi yang mengadili adalah Mahkamah Syariah. Sedangkan jika diterapkan UU Perlindungan Anak, kompetensi yang menyidangkan adalah Pengadilan Negeri,” ujar Fakhrillah.

Menurut Fakhrillah, Provnsi Aceh memiliki Qanun Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat, dan Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, yang merupakan amanah atau turunan Undang-Undang tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Dalam Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat disebutkan, perbuatan-perbuatan yang melanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014, itu menjadi kewenangan Mahkamah Syariah untuk mengadilinya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.