26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Terkait Kepedulian Kepada Lingkungan Perusahaan
Ini Penjelasan PT PHE Usai Pertemuan dengan Pansus Migas DPRK Aceh Utara

...

  • Fazil
  • 13 June 2019 23:00 WIB

Pertemuan Pansus Migas DPRK Aceh Utara dan PT PHE yang berlangsung tertutup. Foto: istimewa
Pertemuan Pansus Migas DPRK Aceh Utara dan PT PHE yang berlangsung tertutup. Foto: istimewa

ACEH UTARA – Aceh Production Operations HR & General Affairs Superintendent PT Pertamina Hulu Energi (PHE) NSB, Armia Ramli, mengatakan kepedulian kepada masyarakat lingkungan perusahaan ini melalui sejumlah pogram Corporate Social Responsibility (CSR) dilaksanakan dalam tiga pilar kegiatan yaitu pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kesehatan. 

"Kegiatan pendidikan fokus pada pendidikan anak usia dini berbasis karakter Semai Benih Bangsa (SBB). Saat ini terdapat sebanyak 116 SBB di Aceh Utara. Selain itu, juga pendidikan vokasi bekerja sama dengan Politeknik Negeri Lhokseumawe dengan mendidik para pemuda putus sekolah di sekitar perusahaan keahlian perbengkelan sepeda motor, lalu lulusannya diberikan bantuan mendirikan bengkel, saat ini sudah ada dua bengkel yaitu di Tanah Luas dan di Pirak Timu," kata Armia Ramli dalam keterangan tertulis diterima portalsatu.com, Kamis, Kamis, 13 Juni 2019, sore.

Menurut Armia, pemberdayaan ekonomi fokus pada budidaya kakao (coklat) di lahan tidur milik masyarakat di dua kecamatan yaitu Tanah Luas dan Matangkuli. Kata dia, saat ini juga sudah dibangun koperasi kakao di Kecamatan Tanah Luas sehingga hasil kakao petani ditampung di koperasi dan diolah menjadi bahan baku tepung cokelat sebelum dijual.

Di bidang kesehatan, kata Armia, penguatan posyandu desa dengan mendidik para kader posyandu dan memberikan perlengkapan posyandu bertaraf nasional dan makanan pendamping untuk menekan kematian ibu dan balita, bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara.

Selain itu, lanjut Armia, bantuan kegiatan masyarakat baik kegiatan keagamaan seperti maulid, kegiatan olahraga dan lain-lain yang diberikan setiap tahun. Juga bantuan pembangunan infrastruktur umum seperti rehabilitasi rumah ibadah, fasilitas pendidikan dan fasilitas pariwisata sejarah. Bahkan, sejumlah ruas jalan fasilitas perusahaan milik PHE NSB - PHE NSO yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar rutin diperbaiki.

"Pembersihan saluran air milik perusahaan yang juga digunakan oleh masyarakat juga rutin dilakukan, saat ini sedang proses administrasi internal, setelah itu selesai langsung dilakukan pembersihan," ujar Armia Ramli.

Sebelumnya, pihak PHE memenuhi undangan Pansus Migas DPRK Aceh Utara untuk mengikuti pertemuan yang dilaksanakan secara tertutup di gedung dewan setempat, Kamis sore. Saat para wartawan sedang mewawancarai Ketua Pansus Migas soal hasil pertemuan tersebut, pihak PHE langsung meninggalkan Gedung DPRK Aceh Utara sehingga tidak sempat diwawancarai secara langsung di lokasi itu.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Pansus Migas DPRK Aceh Utara, Tgk. Junaidi, mengatakan pihaknya memanggil PT Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk meminta klarifikasi terkait minimnya kepedulian perusahaan itu kepada masyarakat lingkungan.

Tgk. Junaidi alias Tgk. Juned menyampaikan itu kepada para wartawan usai tim Pansus Migas menggelar pertemuan tertutup dengan pihak PHE di Gedung DPRK Aceh Utara, Kamis, 13 Juni 2019, sore. Menurut Tgk. Junaidi, berdasarkan hasil penelusuran tim Pansus, masyarakat merasa kecewa lantaran selama PHE mengelola Blok North Sumatra B (NSB) di Aceh Utara, kepedulian kepada lingkungan perusahaan masih minim. Menurut masyarakat, kata dia, lebih bagus ketika masih ada ExxonMobil.

"Berdasarkan hasil yang didapatkan di lapangan atau tanggapan masyarakat bahwa PT PHE kurang peduli terhadap warga di lingkungan perusahaan. Seharusnya bagi masyarakat sekitar itu harus diperhatikan, baik itu dari segi pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Karena ketika ExxonMobil dulu di lingkungan perusahaan tampak bersih, saluran irigasi di sekitar tidak tersumbat sehingga tidak terjadi banjir," ujarnya.

“Sehingga kita memanggil PHE untuk klarifikasi berkenaan itu apakah benar atau salah. Kita meminta data selama PT PHE hadir, berapa dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberikan atau dibantu masyarakat, tapi PHE belum memberikan data hari ini, dan besok (Jumat) akan diantarkan kepada kami. Kami ingin melihat berapa anggaran CSR yang telah diberikan kepada masyarakat serta apa saja kegiatan dilakukan. (Data) ini nantinya akan diserahkan kepada tim Pansus Migas Aceh Utara," kata Tgk. Juned.

Tgk. Juned menyebutkan, hasil pertemuan Pansus Migas dengan PHE belum final, karena langkah selanjutnya akan dipertemukan dengan pemerintah dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Hal itu, kata dia, untuk memastikan pengelolaan Blok NSB oleh PHE agar berjalan sesuai peraturan berlaku sehingga tidak merugikan Aceh Utara sebagai daerah penghasil migas.

“Pertemuan yang dilakukan ini bukan pertemuan akhir, tetapi akan dilakukan hal serupa juga nantinya dengan pihak BPMA guna membahas tentang pembagian hasil. Karena Aceh Utara yang merupakan daerah penghasil migas terus dirugikan. Artinya, sampai saat ini belum menerima participating interest(PI), ada 10 persen misalnya, itu belum diterima untuk daerah ini. Maka perlu duduk secara bersama-sama dengan pemerintah provinsi atau BPMA, Pemerintah Aceh Utara dan PT PHE supaya jelas," ujar Tgk. Juned.

Menurut informasi, dari tim Pansus Migas DPRK Aceh Utara dalam pertemuan tertutup itu dihadiri Tgk. Juned, Ismed Nur Aj. Hasan, Anzir, Tantawi, dan Anwar Sanusi. Sedangkan PT PHE dihadiri Dirasani Thaib (APO Field Manager PHE NSB),  Armia Ramli (APO Field HR&General Affair Superintendent), Dinhar Hasyim (APO Field Production & Operations Superintendent), Faisal Marzuki (APO Field HSSE Superintendent), T. Zulsafril Zulkifli (APO Field Security Superintendent), Danie Mustafa (APO Field Point B Operations Superintendent), dan Win Sastra (APO Field Asset Superintendent).[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.