21 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Riwayat Berdirinya Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh)

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 13 May 2017 21:00 WIB

Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) di Rumoh Budaya Banda Aceh, Minggu (25/10/2015). @Doc. Tuanku Warul Waliddin
Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) di Rumoh Budaya Banda Aceh, Minggu (25/10/2015). @Doc. Tuanku Warul Waliddin

 

BATU ACEH atau batu nisan Aceh ialah batu penanda makam para pembesar dan ulama di zaman gemilang. Batu-batu itu dihiasi pahatan indah berseni tinggi, beraksara Arab atau Jawi. Tersebar di seluruh Aceh, Nusantara, Malaysia, Patani, dan negeri lain.

Tentu, bagi sebagian peminat sejarah, seni, dan budaya di Aceh akrab dengan nama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

Mapesa merupakan sebuah organisasi yang unik dan mengagumkan, muncul untuk membangkitkan semangat dan kesadaran semua pihak dari berbagai kelas sosial.

Para aktivis pejuang penyelamatan benda bersejarah ini punya sebuah grup di jejaring sosial facebok.com yang bernama Sahabat Mapesa. Kini Sahabat Mapesa memiliki anggota mencapai 40.373 orang. 

Sahabat Mapesa merupakan grup facebook.com yang paling aktif dan memiliki anggota terbanyak. Di dalam grup ini, anggotanya bisa menyampaikan hal apa saja yang berkenaan dengan sejarah.

Di dunia nyata, Mapesa dikenal sebagai pejuang data sejarah Aceh yang terdapat di nisan-nisan tua melalui kegiatan meuseuraya-nya.

Foto-foto kegiatan yang dilaksanakan pada setiap hari Ahad ini disiarkan di grup Sahabat Mapesa, mapesaaceh.com, serta ke berbagai media lainnya.

Selain itu, Mapesa sering menanggapi kegiatan pemerintah di dalam bidang penyelamatan benda bersejarah dan menyarankan kebijakan yang lebih baik.

Meuseuraya (gotong-royong -red) yang pertama kali dilakukan oleh Mapesa berlangsung pada tahun 2011 di komplek makam abu syik Sultan besar Ali Mughayat Syah yang mulia di dekat benteng kuta Leubok Lamreh, Aceh Besar. 

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan, sebenarnya, pada 2011, dia dan 6 orang pemuda Bitai, meninjau kawasan Lamreh.

"Karena kondisi memprihatinkan, kami sepakat untuk meuseuraya, dan gambar kegiatannya kami siarkan di group, saat itu," kata Mizuar Mahdi.

Setelah itu, ada sekitar 20 orang yang rutin ikut meuseuraya ini secara suka rela. Mereka terpanggil oleh kegemilangan masa silam. Secara berkelanjutan, kegiatan yang dikhususkan pada hari Ahad itu berlangsung sampai masuk tahun 2014. 

Pada waktu itu, meuseuraya telah dilaksanakan sekitar dua puluh kali. Karena beberapa kendala, kegiatan tersebut dihentikan sementara. Meuseuraya pada periode pertama ini hanya sebatas membersihkan semak belukar yang menutupi batu nisan bertulis aksara Arab atau Jawi di komplek makam bersejarah.

Pada akhir 2014 meuseuraya dimulai kembali. Kali ini bukan sekedar membersihkan semak belukar yang menyelimuti batu, namun meuseuraya mulai dilakukan secara lebih terarah.

Setelah semak belukar dibersihkan, maka nisan itu terlihat dengan jelas. Lalu para aktivis kebudayaan pun menggali batu yang rebah dan menanamnya kembali.

Kemudian, nisan-nisan yang terpahat kaligrafi beraksara Jawi atau Arab itu disiram dengan air dan disikat sampai bersih.

Maka di depan mata, terpampanglah hasil karya seni yang maha indah, berisi data sejarah Aceh, dipahat dengan hati-hati sehingga menghasilkan prasasti bernilai seni tinggi.

Namun, hanya satu orang yang ahli membaca tulisan indah di batu itu. Dialah Taqiyuddin Muhammad, seorang filsuf lulusan Universitas Al Azhar, Kairo. Selain Taqiyuddin, ada arkeolog Deddy Satria yang mengarahkan Mapesa.

Pada bulan Februari 2015, Mapesa menambah kegiatan. Komunitas ini mulai mengadakan acara “Diskusi Akhir Pekan Mapesa” pada setiap hari Sabtu.

Kegiatan yang diisi oleh tokoh budaya ini difasilitasi tempat oleh BPNB (Banda Pelestarian Nilai Budaya) Aceh. Makanan dan minuman ringan untuk hadirin pernah diberikan oleh Disbudpar (Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata) Kota Banda Aceh.

Mengapa Mapesa Lahir?

Terbengkalainya situs sejarah di Aceh telah memunculkan sekumpulan anak muda yang prihatin dan berteriak lantang. Mereka adalah Zulfakri, Muhajir Ibnu Marzuki, Muhammad Zikri, Deki Kartika, dan kawan-kawan lainnya yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa tehnik sipil Unsyiah (Universitas Syiah Kuala).

Keprihatinan tersebut mereka diskusikan di kantin fakultasnya. Pada tahun 2009, salah seorang penggerak komunitas itu, Muhajir Ibnu Marzuki, membuat sebuah grup di jejaring sosial facebook.com bernama GPPSA (Generasi Penerus dan Peduli Sejarah Aceh).

Pada tahun 2011 di dalam rapat di Balai Museum Rumoh Aceh, grup facebook.com GPPSA diganti nama menjadi Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).

Nama itu ditawarkan oleh Laila Abdul Jalil yang kala itu merupakan staf Museum Aceh. Laila diundang melalui grup facebook.com. Mujiburrizal, yang kini menjadi Duta Museum Aceh pun turut hadir. Pada 2012, Mapesa didaftarkan di notaris sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Saat diwawancarai di Banda Aceh, beberapa waktu lalu, Ketua Mapesa periode 2013-2015, Muhajir Ibnu Marzuki, mengatakan, banyak artefak yang mendesak diselamatkan. Makam-makam ulama terkena abrasi, benteng-benteng kerajaan Aceh yang masih tinggal terabaikan.

“Masjid-masjid tua ada yang tidak terurus. Bahkan istana kesultanan pun hilang tanpa jejak. Semua pihak mestilah merawat, melestarikan budaya dan bukti sejarah Aceh. Untuk mewujudkan cita-cita besar inilah, Mapesa didirikan,” kata Muhajir.

“Mewujudkan kembali peradaban dan kemuliaan Aceh adalah semangat dan ruh Mapesa. Kita membangun kesadaran masyarakat terhadap sejarah Aceh,” kata Muhajir.

Program ke Depan:
Ke depan, Mapesa akan mengadakan seminar secara rutin, minimal empat kali dalam setahun.

“Semoga nisan yang sudah dibersihkan dan didata akan dijadikan bahan penelitian. Batu nisan Aceh menjadi objek penting bagi peneliti luar negeri. Selama ini, peneliti terkendala dengan kondisi nisan yang berada di hutan hutan belantara dan rebah tertanam,” kata Muhajir yang kini merupakan sekjen Ormas Al Kahar.

Mapesa melihat ada beberapa peneliti, baik dari dalam maupun dari luar negeri, mendapatkan gelar akademik yang tinggi karena meneliti nisan Aceh.

Seorang pemuda dari Kampung Turki, Bitai, Banda Aceh, yang bergabung dengan Mapesa sejak 2012, Mizuar Mahdi, menceritakan bagaimana awalnya ia tertarik dengan nisan Aceh.

“Jiwa saya terpanggil untuk menyelamatkan nisan-nisan itu. Saya mengharapkan semua situs penting yang telah dikaji ini agar segera didaftarkan sebagai situs budaya supaya bisa disaksikan oleh generasi selanjutnya,” kata Mizuar Mahdi yang merupakan sekretaris Mapesa dalam periode pimpinan Muhajir.

Nisan Aceh merupakan harta penting yang ditinggakan oleh indatu. Tinggalan tersebut berisi pesan kepada anak cucu di masa sekarang dan ke depan. Nisan Aceh adalah pustaka sejarah, tempat bercermin kita pada karya pendahulu.

“Selain penanda makam, nisan-nisan ini memuat informasi penting seperti penanggalan peristiwa, nama tokoh, dan apa yang terjadi di suatu masa. Kita akan membantu peneliti yang ingin mengetahui tentang nisan-nisan ini lebih jauh. Mapesa telah membentuk tim pemandu jalan (guide -ing) bagi mereka,” kata Mizuar Mahdi yang dikenal sebagai Duta Nisan Aceh.

Mizuar Mahdi mengatakan, Mapesa juga melakukan ekspedisi untuk melacak sebaran tinggalan sejarah Aceh, kemudian didokumentasi, lalu diteliti oleh tim Ahli epigrafi dan arkeologi, lalu hasilnya di publish pada group mapesa dan web mapesaaceh.com.

"Hasil kajiaannya kita berikan secara cuma-cuma agar seluruh masyarakat mengetahui riwayat bangsanya serta bisa meneladani tokoh-tokoh penting masa lalu dan menjadi cerminan untuk melangkah ke masa depan," kata Mizuar Mahdi, di Banda Aceh, Sabtu, 13 Mai 2017.

Mizuar Mahdi mengatakan, untuk ekspedisi besar dengan meraup seluruh wilayah Aceh, hingga saat ini masih tertunda, karena keterbatasan dana.

"Padahal ekspedisi ini merupakan rencana yang sudah lama kami agendakan. Akibatnya banyak tinggalan sejarah di kawasan barat selatan hingga ke tengah Aceh sebagian besarnya belum tersentuh oleh tim kami. Dan kami masih mengandalkan dan berharap dari informasi-informasi masyarakat dan anggota dalam group untuk kawasan tersebut," kata Mizuar Mahdi.

Mizuar Mahdi mengatakan, hingga saat ini Mapesa masih belum mempunyai sekretariat, akibatnya benda-benda yang pernah ditemukan dan diselamatkan tidak bisa dipajang layaknya museum.

"Kami masih sangat berharap agar suatu saat Mapesa mempunyai sekretariat yang memadai sekaligus menjadi museum untuk menampilkan seluruh koleksi Mapesa serta koleksi Pedir Museum yang jumlahnya lumayan banyak," kata Mizuar Mahdi.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.