18 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Lhokseumawe
Ini Tanggapan Badan Perlindungan Anak Soal Pelecehan Seksual Terhadap Santri

...

  • Fazil
  • 11 July 2019 16:45 WIB

Mariana Afan. Foto Fazil
Mariana Afan. Foto Fazil

LHOKSEUMAWE - Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Lhokseumawe, Mariana Afan, menyayangkan terjadinya kasus pecelehan seksual terhadap sejumlah santri masih di bawah umur di salah satu pesantren di Kecamatan Muara Dua. 

"Ini merupakan kasus yang sangat berat dan terlebih terjadinya di pasantren. Saat ini kita juga sedang menangani terhadap korban tersebut untuk menghilangkan rasa trauma. Pendampingan terus kita lakukan, kalau bisa nantinya dapat terungkap korban-korban lainnya untuk sekaligus diberikan pendampingan terhadap mereka (korban kasus pelecehan seksual)," kata Mariana Afan kepada para wartawan di Lhokseumawe, Kamis, 11 Juli 2019.

Mariana menyebutkan, pendampingan terhadap para korban yang masih di bawah umur itu sangat penting untuk menghilangkan rasa trauma akibat kasus itu. Sehingga pendidikan mereka ke depan tidak terputus dan harus diselamatkan, karena anak-anak itu generasi calon penerus bangsa. 

"Kita akan pulihkan traumanya itu. Baru kali ini kita melihat kasus seperti ini, dan di Lhokseumawe belum pernah kita dapatkan kasus seberat itu sebelumnya. Selama 2019 inilah kasus yang paling berat yang kita temukan," ujar Mariana.

Mariana menambahkan, ke depan pihaknya juga akan melakukan sosialisasi undang-undang perlindungan anak ke dayah/pesantren di Lhokseumawe. "Jadi, guru di tempat pengajian itu kalau bisa agak diseleksi yang memang benar-benar bisa membawa kualitas bangsa," katanya.

Diberitakan sebelumnya, personel Polres Lhokseumawe menangkap pimpinan pesantren berinisial AI (45) dan guru di pesantren itu berinisial MY (26) lantaran diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri yang masih di bawah umur. Kasus tersebut terjadi di pesantren yang dipimpin AI di Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKPB Ari Lasta Irawan didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T. Herlambang, dalam konferensi pers di Mapolres setempat, Kamis, 11 Juli 2019, mengatakan kedua tersangka ditangkap pada 8 Juli 2019.

Indra T. Herlambang menjelaskan, pihaknya mengusut kasus itu setelah menerima laporan dari orangtua korban pada 29 Juni 2019 dan 6 Juli 2019. Menurut Indra, kasus pelecehan seksual di pesantren itu terjadi sejak akhir tahun 2018 hingga awal 2019. 

"Modusnya adalah pelaku memanggil korban satu persatu untuk bersih-bersih ruangannya hingga terjadi hal seperti itu. Pelaku merupakan pimpinan dayah (pesantren) dan  guru ngaji. Pimpinan dayah benisial AI sudah berkeluarga, cuma tiga kali berkeluarga sudah cerai dengan istrinya," ujar Kapolres Ari Lasta Irawan.

Ari Lasta menyebutkan, saat akan menjalankan aksinya, tersangka tidak melakukan pengancaman, tapi melalui dokrin-dokrin agama, sehingga para santri merasa takut apabila menolak keinginan pimpinan pesantren dan guru ngaji itu.

Menurut Ari Lasta, berdasarkan informasi terakhir jumlah santri yang mengaku menjadi korban mencapai 15 orang. Polisi akan melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap kemungkinan ada korban-korban lainnya. 

Namun, kata Kapolres, sampai saat ini kedua tersangka tidak mengakui perbuatannya. Kedua tersangka dijerat pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.