26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini yang Dipertanyakan Pansus Migas DPRK Aceh Utara Kepada PHE

...

  • Fazil
  • 13 June 2019 21:15 WIB

Ketua Pansus Migas DPRK Aceh Utara Tgk. Junaidi. Foto Fazil
Ketua Pansus Migas DPRK Aceh Utara Tgk. Junaidi. Foto Fazil

LHOKSEUMAWE - Ketua Pansus Migas DPRK Aceh Utara, Tgk. Junaidi, mengatakan pihaknya memanggil PT Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk meminta klarifikasi terkait minimnya kepedulian perusahaan itu kepada masyarakat lingkungan.

Tgk. Junaidi alias Tgk. Juned menyampaikan itu kepada para wartawan usai tim Pansus Migas menggelar pertemuan tertutup dengan pihak PHE di Gedung DPRK Aceh Utara, Kamis, 13 Juni 2019, sore. Menurut Tgk. Junaidi, berdasarkan hasil penelusuran tim Pansus, masyarakat merasa kecewa lantaran selama PHE mengelola Blok North Sumatra B (NSB) di Aceh Utara, kepedulian kepada lingkungan perusahaan masih minim. Menurut masyarakat, kata dia, lebih bagus ketika masih ada ExxonMobil.

"Berdasarkan hasil yang didapatkan di lapangan atau tanggapan masyarakat bahwa PT PHE kurang peduli terhadap warga di lingkungan perusahaan. Seharusnya bagi masyarakat sekitar itu harus diperhatikan, baik itu dari segi pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Karena ketika ExxonMobil dulu di lingkungan perusahaan tampak bersih, saluran irigasi di sekitar tidak tersumbat sehingga tidak terjadi banjir," ujarnya.

“Sehingga kita memanggil PHE untuk klarifikasi berkenaan itu apakah benar atau salah. Kita meminta data selama PT PHE hadir, berapa dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberikan atau dibantu masyarakat, tapi PHE belum memberikan data hari ini, dan besok (Jumat) akan diantarkan kepada kami. Kami ingin melihat berapa anggaran CSR yang telah diberikan kepada masyarakat serta apa saja kegiatan dilakukan. (Data) ini nantinya akan diserahkan kepada tim Pansus Migas Aceh Utara," kata Tgk. Juned.

Tgk. Juned menyebutkan, hasil pertemuan Pansus Migas dengan PHE belum final, karena langkah selanjutnya akan dipertemukan dengan pemerintah dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Hal itu, kata dia, untuk memastikan pengelolaan Blok NSB oleh PHE agar berjalan sesuai peraturan berlaku sehingga tidak merugikan Aceh Utara sebagai daerah penghasil migas.

“Pertemuan yang dilakukan ini bukan pertemuan akhir, tetapi akan dilakukan hal serupa juga nantinya dengan pihak BPMA guna membahas tentang pembagian hasil. Karena Aceh Utara yang merupakan daerah penghasil migas terus dirugikan. Artinya, sampai saat ini belum menerima participating interest (PI), ada 10 persen misalnya, itu belum diterima untuk daerah ini. Maka perlu duduk secara bersama-sama dengan pemerintah provinsi atau BPMA, Pemerintah Aceh Utara dan PT PHE supaya jelas," ujar Tgk. Juned.

Dana Pansus Migas

Soal kritikan dari elemen masyarakat terhadap Pansus Migas yang dalam APBK Aceh Utara 2019 dialokasikan dana mencapai Rp250 juta, menurut Tgk. Juned, "Kalau uang itu sensitif”.

“Itu bagi kami, kritikan seperti itu wajar-wajar saja. Bahkan, kami menganggap itu bukan bagian dari kritikan, tetapi itu sebagai bentuk pengawasan terhadap kami dan menjadi motivasi untuk tim agar bisa berbuat lebih bagus lagi untuk kepentingan rakyat," kata Tgk. Juned.

Tgk. Juned menambahkan, "Jika dipertanyakan kemana saja dipergunakan uang Rp250 juta itu oleh tim Pansus Migas Aceh Utara, saya berani menyampaikan dengan dana senilai itu sangat minim atau kurang. Kami turun ke lapangan dengan pendamping dan tenaga ahli ada 10 orang. Kemudian dalam mempelajari atau referensi ke Menteri (Kementerian) Keuangan, BPMA, juga ke daerah-daerah yang sama dengan di sini (penghasil migas) misalkan di Bojonegoro. Tentunya dana itu sangat minim, tapi kami kerjakan sesuai fungsi".

Menurut informasi, dari tim Pansus Migas DPRK Aceh Utara dalam pertemuan tertutup itu dihadiri Tgk. Juned, Ismed Nur Aj. Hasan, Anzir, Tantawi, dan Anwar Sanusi. Sedangkan PT PHE dihadiri Dirasani Thaib (APO Field Manager PHE NSB),  Armia Ramli (APO Field HR&General Affair Superintendent), Dinhar Hasyim (APO Field Production & Operations Superintendent), Faisal Marzuki (APO Field HSSE Superintendent), T. Zulsafril Zulkifli (APO Field Security Superintendent), Danie Mustafa (APO Field Point B Operations Superintendent), dan Win Sastra (APO Field Asset Superintendent).[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.