05 December 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Jaksa Segera Eksekusi Putusan Mahkamah Terhadap Terpidana Pemerkosaan Santri di Lhokseumawe

...

  • PORTALSATU
  • 26 October 2020 16:30 WIB

Sidang pembacaan putusan Majelis Hakim Mahkamah Syariah Lhokseumawe terhadap terdakwa AI, 30 Januari 2020. Foto: dok. portalsatu.com
Sidang pembacaan putusan Majelis Hakim Mahkamah Syariah Lhokseumawe terhadap terdakwa AI, 30 Januari 2020. Foto: dok. portalsatu.com

LHOKSEUMAWE – Dua terdakwa jarimah pemerkosaan terhadap santri (anak) di bawah umur pada salah satu pesantren di Lhokseumawe berinisial AI dan MY kini statusnya menjadi terpidana setelah Mahkamah Agung (MA) memutuskan menolak permohonan kasasi keduanya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Lhokseumawe menyatakan segera mengeksekusi putusan mahkamah terhadap kedua terpidana jarimah pemerkosaan tersebut.

Saat terjadi jarimah pemerkosaan (dalam berita sebelumnya ditulis pelecehan seksual) tersebut, AI merupakan pimpinan pesantren AN (singkatan). Pimpinan yayasan pemilik pesantren itu kemudian mencopot jabatan AI. Sedangkan MY sebagai guru ngaji di pesantren AN ketika terjadi perkara itu.

Kepala Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, Dr. Muklis, S.H., M.H., melalui Kasi Intelijen Miftahuddin, S.H., kepada portalsatu.com, Senin, 26 Oktober 2020, mengatakan JPU sudah menerima petikan putusan MA yang menolak permohonan kasasi AI dan MY.

“Putusan MA No. 4 K/JN/ 2020 (terhadap terdakwa AI) dan No. 5 K/JN/ 2020 (terdakwa MY) tanggal 21 Juli 2020: Kasasi ditolak. Petikan putusan MA itu diterima JPU minggu lalu. (Sehingga status kedua terdakwa) sudah sah jadi terpidana. JPU akan segera melakukan eksekusi setelah diterima salinan lengkap putusan itu,” ujar Miftahuddin.

Miftahuddin menyebutkan JPU akan mengeksekusi putusan Mahkamah Syariah (MS) Lhokseumawe terhadap AI dan MY. Pasalnya, putusan MS Lhokseumawe terhadap AI dikuatkan dengan putusan MS Provinsi Aceh pada tingkat banding. Sedangkan putusan MS Provinsi Aceh terhadap MY menolak permohonan banding.

“Dengan demikian putusan Mahkamah Syariah Lhokseumawe yang akan dieksekusi oleh JPU terhadap kedua terpidana itu,” ucap Miftahuddin.

Dalam putusan MS Lhokseumawe, AI terbukti melakukan pemerkosaan, melanggar pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, juncto (jo) pasal 65 ayat (1) KUHP, sehingga dijatuhi hukuman (uqubat) ta’zir penjara 190 bulan dikurangi masa tahanan. Selain itu, AI dihukum membayar restitusi kepada lima korban pemerkosaan masing-masing 30 gram emas murni.

Sedangkan MY terbukti melakukan pemerkosaan, melanggar pasal 50 jo pasal 48 jo pasal 1 angka 30 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, sehingga dijatuhi hukuman uqubat ta’zir penjara 160 bulan dikurangi masa tahanan. MY juga dihukum  membayar restitusi 15 gram emas murni kepada seorang korban.

Pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat berbunyi, “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Pemerkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 terhadap anak-diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling sedikit 150 (seratus lima puluh) kali, paling banyak 200 (dua ratus) kali atau denda paling sedikit 1.500 (seribu lima ratus) gram emas murni, paling banyak 2.000 (dua ribu) gram emas murni atau penjara paling singkat 150 (seratus lima puluh) bulan, paling lama 200 (dua ratus) bulan”.

Restitusi adalah sejumlah uang atau harta tertentu, yang wajib dibayarkan oleh pelaku Jarimah, keluarganya, atau pihak ketiga berdasarkan perintah hakim kepada korban atau keluarganya, untuk penderitaan, kehilangan harta tertentu, atau penggantian biaya untuk tindakan tertentu,” bunyi penjelasan dalam Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Vonis terhadap AI dan MY dibacakan Majelis Hakim MS Lhokseumawe dalam sidang terbuka untuk umum, Kamis, 30 Januari 2020. (Baca: Perkara Pelecehan Seksual: Ini Vonis Mahkamah Syariah Terhadap Oknum Mantan Pimpinan Pesantren)

Menurut Miftahuddin, sejak AI dan MY diserahkan penyidik Polres Lhokseumawe kepada JPU untuk proses penuntutan hingga keluar putusan mahkamah atau sampai saat ini, keduanya ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lhokseumawe. Sebelumnya, saat masih proses penyidikan, AI dan MY ditahan di Rumah Tahanan Polres Lhokseumawe.

Diberitakan sebelumnya, personel Polres Lhokseumawe menangkap AI (45), oknum pimpinan salah satu pesantren, dan MY (26), oknum guru ngaji di pesantren itu, 8 Juli 2019, sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri yang masih di bawah umur. (Baca: Diduga Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Santri, Pimpinan Pesantren dan Guru Ngaji Ditangkap)[](red)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.