26 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kades Namo Buaya Janji Perbaiki Tanggul Masjid yang Ambruk

...

  • SUDIRMAN
  • 08 August 2019 21:00 WIB

Kepala Kampong Namo Buaya, Rahmad Sagala (kiri) dan Ketua BPG Namo Buaya, Jamal Limbong (kanan). Foto Sudirman
Kepala Kampong Namo Buaya, Rahmad Sagala (kiri) dan Ketua BPG Namo Buaya, Jamal Limbong (kanan). Foto Sudirman

SUBULUSSALAM - Kepala Kampong Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Rahmad Sagala, mengatakan pihaknya akan memperbaiki tanggul Masjid At-Taqwa yang ambruk pada Januari lalu disebabkan bencana alam saat daerah itu diguyur hujan deras dua hari dua malam berturut-turut.

"Tanggul itu ambruk akibat bencana alam, saat itu musim hujan berturut-turut dua hari dua malam, bukan karena pekerjaan asal-asalan," kata Rahmad Sagala kepada portalsatu.com, Kamis 8 Agustus 2019, membantah tudingan sejumlah warga Namo Buaya menyebutkan pengerjaan tanggul diduga asal jadi.

Rahmad menyebutkan perbaikan tanggul masjid tersebut akan dilakukan dalam tahun 2019 ini. Sebelumnya, Rahmad mengaku juga sudah pernah menyampaikan kepada masyarakat setempat terkait perbaikan tanggul Masjid At-Taqwa.

"Itu akan saya perbaiki, walaupun dengan uang pribadi, karena tidak boleh dianggarkan lagi untuk pembangunan kegiatan yang sama," tegas Rahmad Sagala di hadapan Ketua BPG Namo Buaya, Jamal Limbong.

Rahmad menjelaskan, pekerjaan tanggul Masjid At-Taqwa menggunakan APBDes 2018 dengan anggaran lebih kurang Rp100 juta sesuai spesifikasi dan telah dilakukan PHO disaksikan BPG Namo Buaya.

Namun, kata dia, karena di bulan Januari saat itu musim hujan, tanah timbunan tidak kuat menahan debit air sehingga tanggul ambruk. Salah satu kios warga yang terkena dampak tanggul ambruk juga sudah dilakukan ganti rugi

"Kena kios warga, saya ganti rugi Rp5 juta, becaknya rusak, sudah saya perbaiki juga, membersihkan batu-batu yang berserakan di sekitar lokasi, sewa beko, saya bayar Rp9 juta. Jadi tutup mata kekmana lagi," ujar Rahmad Sagala.

Rahmad mengatakan, tudingan M. Saleh Simarmata yang menyebutkan pekerjaan tanggul masjid diduga asal-asalan dan melaporkannya ke Inspektorat Kota Subulussalam murni karena kepentingan politik, bukan karena kritis dalam mengawasi realisasi dana desa.

"Ini terkait politik, begitu juga surat daftar nama-nama warga yang kecewa dan keberatan terhadap tanggul ambruk yang diserahkan ke Inspektorat. Itu saat minta tanda tangan kepada warga alasannya untuk mengajukan proposal melanjutkan pembangunan tanggul," ungkap Rahmad Sagala.

"Makanya di daftar itu banyak nama-nama kaum perempuan daripada laki-laki," sambung Ketua BPG Namo Buaya, Jamal Limbong.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.