21 January 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

Kerugian Negara Rp8,1 Miliar
Kasus Ternak Rp14,5 M, MaTA: Semua Penerima Aliran Dana Harus Diperiksa

...

  • PORTALSATU
  • 15 December 2017 18:10 WIB

Alfian, Koordinator MaTA. @dok. Istimewa/portalsatu.com
Alfian, Koordinator MaTA. @dok. Istimewa/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE – Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menilai, kasus dugaan korupsi bantuan ternak bersumber dari APBK Lhokseumawe tahun 2014 dengan total dana Rp14,5 miliar lebih, melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, MaTA meminta penyidik memeriksa dan menetapkan semua penerima aliran dana kasus itu sebagai tersangka lantaran sudah menyebabkan kerugian negara mencapai Rp8,1 miliar lebih.

MaTA juga mempertanyakan komitmen Polda Aceh untuk membongkar kasus tersebut secara menyeluruh. “Terutama (komitmen untuk) mengungkap aliran dana kasus itu. Semua pihak yang menerima aliran dana (dengan cara melanggar hukum/korupsi) harus diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Koordinator MaTA, Alfian, kepada portalsatu.com lewat telepon seluler, Jumat, 15 Desember 2017, sore.

Alfian menjelaskan, alasan MaTA mempertanyakan komitmen Polda Aceh untuk membongkar kasus tersebut secara menyeluruh, karena gelar perkara dilakukan di Polda Aceh oleh penyidik Polres Lhokseumawe sebelum ditingkatkan penyelidikan ke penyidikan. “Gelar perkara kasus itu kan di Polda Aceh waktu itu, makanya kita pertanyakan komitmen Polda, dan MaTA akan terus mengawal proses hukum kasus yang merugikan keuangan negara dalam jumlah cukup besar ini,” katanya.

Alfian mengatakan itu menyikapi sudah ditetapkan dua tersangka kasus tersebut oleh penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polres Lhokseumawe. Kedua tersangka berinisial DH, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiata (PPTK) dan IM, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Ternak pada Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian (DKPP) Lhokseumawe tahun 2014. (Baca: Penyidik Tetapkan Dua Tersangka Kasus Bantuan Ternak Rp14,5 M di Lhokseumawe)

MaTA berharap, penyidik melakukan penahanan terhadap kedua tersangka. “Ini untuk mencegah tersangka melarikan diri dan menghilangkan barang bukti,” ujar Alfian.

“Dan kami menilai, kasus ini tidak berdiri hanya pada dua tersangka, tapi ini kasus korupsi yang diduga dilakukan secara ‘berjamaah’. MaTA sudah membuat kajian tentang kasus ini yang sudah cukup lama dilakukan penyelidikan sampai penyidikan oleh pihak Polres Lhokseumawe,” kata dia lagi.

Oleh karena itu, Alfian melanjutkan, MaTA mendesak penyidik untuk memeriksa semua pihak terkait, termasuk pengambil kebijakan di Pemkot Lhokseumawe dan anggota Badan Anggaran DPRK yang membahas usulan anggaran untuk bantuan ternak itu pada tahun 2014. “Semuanya harus diperiksa untuk mengungkap aliran dana kasus itu,” ujar Alfian.[](idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.