21 February 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Haji Uma Soal Usulan Beli Pesawat Patroli Laut dan Hutan Aceh

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 10 February 2018 22:25 WIB

Haji Uma. @Dok. /Istimewa
Haji Uma. @Dok. /Istimewa

LHOKSUKON – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma menilai, usulan Gubernur Aceh dalam Rancangan KUA PPAS APBA 2018 terkait pembelian pesawat patroli laut dan hutan sangat layak. Dia menilai wajar jika yang diajukan hanya dua unit.

“Melihat dengan beberapa kondisi kekinian di Aceh saat ini, itu wajar. Saya sudah evaluasi dan turun langsung ke lapangan. Saya melihat kondisi banjir, illegal logging, dan tambang. Sampai saat ini suatu dilema bagi kita untuk menutup tambang-tambang ilegal, karena semakin hari semakin banyak,” ujar Haji Uma kepada portalsatu.com, Sabtu, 10 Februari 2018.

Menurut Haji Uma, pemerintah memang sudah membuat satu regulasi, yaitu moratorium logging. Akan tetapi, kata Haji Uma, siapa tahu di pelosok Aceh masih ada usaha-usaha yang mengeliat di sana.

“Maka kita lihat dalam kapasitas ini, kondisi keuangan dan lain sebagainya. Saya lihat jika dua masih dalam kewajaran. Jika lebih dari itu, tentu kembali kepada sisi kemampuan daerah lagi, mungkin punya keterbatasan, tapi untuk saat ini memang saya lihat peruntukannya,” ucap Haji Uma.

Haji Uma memberi contoh, beberapa waktu lalu pihaknya juga ikut bersuara terkait klaim provinsi tetangga terhadap pulau di wilayah Aceh. “Karena ini payah sekali terdeteksi bagaimana upaya-upaya dan pergerakan-pergerakan dari luar pulau daratan, pulau-pulau kecil kita di tengah laut. Itu payah sekali terproteksi, jika melakukan via laut dan darat itu payah sekali terjangkau, kecuali lewat udara. Jadi, jika melihat kondisi daerah kita, itu memang sangat layak sekali, sangat memungkinkan dan itu wajar,” ujarnya.

Terkait kerja sama Pemerintah Aceh dengan PT Dirgantara Indonesia soal perakitan pesawat N219 di Aceh, Haji Uma melihat itu sebagai satu langkah maju dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Aceh.

“Soal dirgantara, kita akui selama ini Aceh hanya menjadi daerah konsumtif, tapi tidak produktif. Ini satu langkah maju untuk mengembangkan SDM kita. Jadi tolak ukur dari sebuah SDM kemampuan anak bangsa kita dan itu perlu diuji. Minimal kita sudah bisa memproduksi apa yang menjadi kebutuhan pabrik,” kata Haji Uma.

Sejauh ini, Haji Uma melihat hal yang kecil saja tidak bisa dilakukan dalam upaya produksi, seperti sampo, sabun dan lainnya. “Tidak ada kan dari yang terkecil sama sekali. Ini apalagi kita sudah bisa mendesain dan membuat (merakit) pesawat atau body pesawat. Itu saya pikir perlu didorong usaha ini. Hari ini (seharusnya) kita sudah menjadi pusat produksi yang bisa kita jual. Jangan hanya setiap hari bisanya kita beli dari orang, itu sudah menjadi kebanggaan bagi kita,” ujarnya.

Menurut Haji Uma, jika kemajuan nilai produksi dari daerah meningkat, maka majulah SDM-nya. Bahkan usaha-usaha lain perlu ditambah lagi beriringan.

“Ini merupakan satu pelopor yang harus diikuti hal-hal yang lainnya, jadi membanggakan kita di Aceh, dengan ada produksi minimal kita tidak menjadi konsumtif tulen. Ketimbang dulu-dulu, Aceh punya pabrik korek api, pabrik gula, dan pabrik paku, tapi semua tinggal kenangan yang diproduksi dari Aceh. Itu semua bisa dimanfaatkan secara nasional ataupun kita ekspor ke daerah lain yang produksinya bukan hanya hasil pertanian. Apa yang menjadi SDM kita yang sudah dilatih, hasil karya anak bangsa,” pungkas Haji Uma.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.