22 June 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Psikolog Terkait Tersangka dan Dampaknya Bagi Korban Pelecehan Seksual di Aceh

...

  • MHD SAIFULLAH
  • 31 January 2018 19:10 WIB

BANDA ACEH - Kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh MA, 40 tahun, seorang aparatur desa sekaligus guru ngaji di Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, terhadap belasan anak di bawah umur, mendapat perhatian serius dari pemerhati di bidang anak dan psikolog.

Perhatian ditujukan kepada psikologi tersangka MA, warga Kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Abdya, Aceh itu, beserta dampaknya bagi 19 orang anak yang menjadi korbannya.

Psikolog dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Dra. Endang Setianingsih, M.Pd, S. Psi., mengatakan, tindakan melakukan sodomi yang dilakukan oleh tersangka terhadap anak-anak di bawah umur, termasuk merupakan bagian dari perilaku penyimpangan seksual. Penyimpangan ini dikatakan bisa disebabkan karena beberapa faktor, seperti masa lalu ataupun bacaan-bacaan maupun tontonan film-film dewasa yang dikonsumsi tersangka.

“Saya bisa menyatakan kemungkinan ini bisa terjadi karena tersangka trauma akan masa lalu dari dirinya, sehingga memicu timbuhnya perilaku seks yang menyimpang ini,” katanya saat dikonfirmasi portalsatu.com, Rabu, 30 Januari 2018, sore.

Sebelumnya dikabarkan, berdasarkan keterangan MA kepada pihak kepolisian, adapun modus yang digunakan tersangka sejak 2016 lalu itu dalam menjalankan akasi bejatnya yakni dengan mengajak para korban untuk main ke kebunnya dan menonton film dewasa dari hp maupun laptop miliknya. Selanjutnya, MA kemudian mengajak para korbannya untuk melampiaskan perilaku seks menyimpangnya itu.

Menanggapi hal itu, Endang menilai jika faktor akibat mengkonsumsi film tersebut yang membuat tersangka melakukan tindakannya. Sebab, dampak negatif dari menonton film itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak, kesehatan, dan mengganggu perkembangan mental. Bukan hanya itu, dampak dari bahaya menonton film porno juga membuat seseorang sulit berhubungan seks dan bisa menurunkan gairah seks dengan lawan jenisnya, sehingga menyebabkan perilaku seks menyimpang serta dapat menyebabkan otak menyusut.

“Bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau yang dikenal impotensi, bisa kecanduan masturbasi atau onani,” jelas ahli psikologi tersebut.

Di samping itu, faktor perhatian dari keluarga juga menjadi penyebab terjadinya penyimpangan seksual. Di mana, dikatakan ahli psikologi ini, tersangka semasa kecilnya kemungkinan juga kurang mendapatkan perhatian dari keluarga.

Dia mencontohkan misalnya, dalam mengasuh anak, orang tua lebih dominan memberikan perhatian kepada anak perempuan di dalam keluarga daripada anak laki-laki. Selain itu, anak laki-laki dianggap lebih mampu mandiri tanpa perlu adanya perhatian.

“Sehingga anak laki-laki dianggap lebih mampu mandiri atau lebih kuat dan tidak perlu perhatian dan kasih sayang,” jelasnya.

Sementara itu, Endang mengungkapkan, dampak pelecehan seksual yang diterima belasan korban akan berefek terhadap perkembangan psikologinya. Korban dapat menderita ketakutan yang berlebihan, depresi, kecemasan, gangguan tidur, stres, mudah marah, merasa rendah diri, dan gangguan makan. Bahkan, jika begitu parah juga akan berefek yang sangat berbahaya, misalnya terkadang anak bisa lari ke narkoba, bunuh diri, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, ketinggalan pelajaran, dan kelak bila telah dewasa memiliki masalah dalam hubungan intim dengan pesangannya. 

“Bahkan dapat menjadi seperti tersangka, yang saya sampaikan di atas,” ujarnya.

“Tindakan yang dilakukan agar anak tidak menjadi seperti tersangka selanjutnya adalah dengan cara pemulihan psikologisnya, dan menjauhkan anak dari film-film porno,” ujarnya lagi.

Selaku psikolog dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Endang berharap, pihak penegak hukum dapat menjerat dan memberikan tersangka dengan hukuman yang setimpal sebagai jera. Dia juga menyampaikan, untuk mengurangi terjadinya kasus serupa diharapkan peran aktif dari semua komponen masyarakat maupun media dalam mengkampanyekan proses kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak.

“Saya sebagai psikolog P2TP2A mengharapkan siapun pelaku harus ditindak,” ungkapnya.

“Perkenalkan pada anak 4 areal (mulut, dada, alat vital, pantat ) yang ‘tidak boleh’ disentuh,” ungkapnya lagi.

Bagi instanti yang membuat aturan mengenai hukuman bagai pelaku kejahatan berupa pelecehan seksual, diminta untuk mengkaji ulang qanun hukuman bagi pelanggarnya.

“Saya mengharapkan instansi yang terkait untuk kebijakan ini untuk bisa merevisi ulang, karena saya melihat belum sepenuhnya berpihak pada korban anak-anak di bawah umur,” tegasnya.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.