31 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Syeh Medya di Kemah Semiman Aceh Besar

...

  • PORTALSATU
  • 29 October 2018 18:00 WIB

@istimewa
@istimewa

LHOKNGA - Seniman tradisi Aceh, Medya Hus, membekali peserta Kemah Seniman ke-3 Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Aceh Besar di Lhoknga. Seniman yang populer dengan syair spontanitasnya ini disambut antusias peserta di hari terakhir pelaksanaan Kemah Seniman, 28 Oktober 2018, sore.

Medya Hus mengajak para peserta untuk mencintai seni tradisi dan mengenal lebih jauh seni dan budaya Aceh. Menurut dia, seni tradisi merupakan identitas seni Aceh yang hampir punah di makan zaman, sebab itu perlu digalakkan kembali kepada para generasi muda terutama di gampong-gampong yang ada di Aceh Besar.

"Apalagi di Aceh Besar ada kesenian khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh kabupaten lain di Aceh. Contohnya, tari Likok Pulo dan Ratoh Taloe ini perlu diajarkan agar tidak punah," ujar Syeh Medya yang juga bisa membawakan syair spontanitas dalam bahasa Indonesia ini.

Syeh Medya menjelaskan, melalui sanggar Seueng Samlakoe yang ia pimpin selama ini fokus pelestarian seni tradisi Aceh seperti Ca'e Aceh, Seumapa, Ratoh, Nazam dan Hikayat. Selain pengembangan seni tradisi grupnya juga punya anggota yang bisa mementaskan Cagok (lawak) Aceh yang sudah tampil di berbagai pementasan di seluruh Aceh.

Seni tradisi ini, kata dia, perlu diregenerasi secara terus menerus, terutama kepada para anak muda supaya jangan salah kaprah. Jika hal ini tidak dilakukan, para generasi Aceh selanjutnya tidak akan mengenal lagi mana seni tradisi dan mana kreasi baru. Sebab itu, ia mengajak para peserta kemah seniman bisa mengenalkan kembali seni ini secara menyeluruh kepada masyarakat di gampong-gampong di Aceh Besar.

"Ketua sanggar kecamatan yang baru terpilih dalam kegiatan kemah seniman harus bisa menghidupkan kembali seni tradisi ini dan kami siap menfasilitasinya," tegas Syeh Medya.

Syeh Medya mengungkapkan, masyarkat Aceh saat ini harus bisa menempatkan seni yang dipentaskan sesuai dengan kebutuhannya. "Jangan ketika ada orang meninggal kita menyanyikan syair bahagia dan ketika ada orang pesta kita menyanyikan syair kesedihan. Sesuaikan dengan tempat dan kondisinya," ujarnya.

Di samping itu dialek bahasa Aceh yang benar juga perlu dikenalkan kembali kepada para generasi muda. Ia berharap pemuda Aceh tidak malu berbahasa Aceh, karena bahasa menunjukkan bangsa.

Selama ini, ia merasa bangga bisa melestarikan seni budaya ini bagi masyarakat luas. "Saya sebagai salah satu pemangku adat di Aceh juga terus berupaya mensosialisasikan hal ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap adat istiadat dan kebudayaan Aceh ini," katanya.

Dia menyebutkan, Aceh Besar memiliki banyak sumber daya seni yang bisa dikembangkan. Terlebih Aceh Besar punya Dewan Kesenian yang selalu aktif menggelar kemah seniman tiap tahun sebagai bentuk pelestarian seni budaya. Ia berharap pengurus DKA Aceh Besar ke depan bisa terus menggali potensi-potensi yang ada di gampong-gampong, termasuk dalam hal pembinaan sanggar kecamatan.

Ketua Panpel Kemah Seniman ke-3 DKAB, Mariadi, S.T., M.M., mengatakan Kemah Seniman 2018 ini diikuti 100 peserta utusan dari 23 kecamatan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari di Lhoknga, 26 - 28 Oktober 2018, dibuka oleh Bupati Aceh Besar, Ir. Mawardi Ali, Jumat (26/10) malam. "Pemateri selain Medya Hus juga kami hadirkan dari unsur Forkopimda Aceh Besar, Ketua DKA Provinsi Aceh, dan sejumlah pakar seni," ujar Mariadi.[](rel)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.