25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Umat Budha tentang Toleransi di Aceh

...

  • SIRAJUL MUNIR
  • 10 September 2017 08:00 WIB

Pemuka Budha di Lhokseumawe dan Aceh Utara berkumpul di sebuah cafe di depan gereja Methodist, Selasa 5 September 2017 sekitar pukul 15.00 WIB. @SIRAJUL MUNIR
Pemuka Budha di Lhokseumawe dan Aceh Utara berkumpul di sebuah cafe di depan gereja Methodist, Selasa 5 September 2017 sekitar pukul 15.00 WIB. @SIRAJUL MUNIR

LHOKSEUMAWE - Sejumlah pemuka Budha di Lhokseumawe dan Aceh Utara berkumpul di sebuah cafe di depan gereja Methodist, Selasa 5 September 2017 sekitar pukul 15.00 WIB. Sejumlah wartawan diundang untuk mendengarkan sikap mereka mengecam kesadisan junta militer Myanmar membantai etnis muslim Rohingya yang baru-baru ini terjadi, sehingga memantik kemarahan dunia terhadap otoritas negara anggota Asean itu.

Usai  pertemuan tersebut, Pak Edi dan lima rekannya sesama pengurus Yayasan Umat Budha Lhokseumawe berbincang-bincang dengan wartawan seputar kultur Islam Aceh yang sangat toleran terhadap umat agama lain.

“Yayasan ini menaungi 600 lebih umat Budha yang selama ini menggunakan sarana ibadah Vihara di Gampong Pusong Lama, Lhokseumawe. Lihat saja, di sini ada beberapa gereja, vihara dan tidak jauh dari sini ada mesjid. Ini luarbiasa, kami tidak pernah diganggu, bahkan  dengan masyarakat sekitar saling membantu,” kata Edi yang dipercaya sebagai ketua yayasan.

Edi menerangkan, yayasan sudah terbentuk sejak tahun 1962, begitu juga Vihara. Sejak itu pula masyarakat sekitar, dan  Aceh umumnya tidak pernah mempersoalkan keberadaan mereka, bahkan hidup mengakar layaknya pribumi. Kehidupan hari-hari berjalan tanpa ada gesekan selisih paham dalam hal apapun.

“Kalau ada orang yang mempertanyakan bagaimana toleransi dalam beragama. Lihatlah kami, lihatlah sarana ibadah di Pusong Lama, ini bukti Islam sangat menghargai perbedaan keyakinan,” tegas Edi.

Kata salah satu pemiliki usaha dagang di kawasan jalan Sukaramai, Lhokseumawe itu, penganut Budha yang terdaftar di yayasan tersebar di beberapa tempat di Lhokseumawe, Aceh Utara dan sampai ke Bireuen. Semuanya beribadah di Vihara Lhokseumawe, karena sampai saat ini di tiga daerah itu hanya ada satu Vihara yang dipandu oleh seorang Pandita, yaitu pemuka agama Budha di bawah Biksu.

“Saya lahir, besar dan bisa menikmati hidup normal lazimnya orang Aceh biasa. Jadi aneh apabila saudara kami muslim di Myanmar dimusuhi  biksu di sana. Budha sangat anti kekerasan, apalagi sampai membunuh,” kata Adi diaminkan rekannya Ali Hasyim, kepala bidang sosial yayasan.

Sementara Ali Hasyim bercerita tentang keluarganya yang sudah tinggal di Aceh jauh sebelum Vihara di Lhokseumawe dibangun. Orang tuanya adalah pedagang di zaman Belanda menetap di Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara. Pada tahun 50-an pindah ke Pasar Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, ia lahir di tahun 1962.

Sampai saat ini, Ali tidak pernah merasakan tekanan, gangguan atau hal-hal berbentuk intimidasi dari warga di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan senada dengan Edi, Ali juga menilai orang Aceh memiliki nilai toleransi yang luarbiasa.

Saat ditanya kenapa bernama  “Ali Hasyim” yang lazimnya adalah orang Islam? pria uzur yang fasih berbahasan Aceh itu mengaku walaupun dirinya dari ras Tionghoa, tapi sejak lahir memiliki nama Indonesia. Ali Hasyim katanya nama yang diberikan orang tua angkatnya yang beragama Islam saat ia masih remaja.

“Saya punya adik kandung perempuan sudah masuk Islam, ada juga yang masuk Kristen. Sedangkan saya Budha ikut orang tua. Kami rukun dan masih berkomunikasi layaknya sebuah keluarga,” katanya.

Di akhir perbincangan, Edi, Ali Hasyim maupun pengurus yayasan yang hadir di situ mengutuk kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar dan harus segera diakhiri demi kemanusian. Mereka juga berharap, umat Budha yang ikut mendukung militer Myanmar memburu Muslim Rohingya bisa melihat kehidupan mereka yang rukun dengan umat Islam di Aceh.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.