13 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Keluarga Korban Penembakan Paniai Menolak Rp4 Miliar yang Ditawarkan Pemerintah

...

  • PORTALSATU
  • 08 December 2018 14:00 WIB

Obet Gobay (kanan) dan Yones Douw (kiri) di kantor Amnesty Internasional. Foto: Kompas.com/Fitria Chusna Farisa
Obet Gobay (kanan) dan Yones Douw (kiri) di kantor Amnesty Internasional. Foto: Kompas.com/Fitria Chusna Farisa

JAKARTA - Keluarga korban kasus penembakan di Kabupaten Paniai, Papua, menolak uang senilai Rp4 miliar yang sempat ditawarkan pemerintah sebagai kompensasi.

"Rp4 miliar yang ditawarkan pemerintah, saya menolak, bantuan apapun saya tolak. Pak Jokowi, Kapolri, keadilan harus ada," kata Obet Gobay, salah satu ayah korban penembakan, saat mendatangi kantor Amnesty International, Jakarta Pusat, 7 Desember 2018.

Kedatangan Obet ke Jakarta adalah untuk menagih janji Presiden Joko Widodo yang menyebut akan mengusut pelaku penembakan yang menewaskan putranya, Apius Gobay, empat tahun silam.

Obet yang kurang lancar berbahasa Indonesia, mengatakan, dirinya bersama tiga keluarga korban lainnya menolak uang ganti rugi lantaran ingin pemerintah terus mencari tahu pelaku penembakan.

Obet tak menerima uang kompensasi. Sebab, bagi dia, nyawa putranya tak bisa dibeli. "Kalau saya mau ambil Rp4 miliar yang ditawarkan pemerintah saya bisa ambil. Kalau itu sapi atau babi yang terbunuh saya bisa pergi ke pasar untuk ganti beli. Tapi ini manusia, tidak dijual di pasar. Darah saya yang ditembak," ujar dia melalui terjemahan aktivis HAM Papua, Yones Douw.

Obet juga mengatakan, jika memang pemerintah tak mampu tuntaskan kasus tersebut, ia berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bisa menyelesaikannya.

Menegaskan pernyataan Obet, peneliti Amnesty International Indonesia untuk Papua, Papang Hidayat, mengatakan, dalam sebuah kasus, uang kompensasi yang diberikan kepada pemerintah dianggap substitusi atau pengganti dari proses pengadilan.

Jika keluarga korban menerima kompensasi tersebut, maka mereka tak bisa lagi menuntut. "Kompensasi yang berusaha diberikan kepada keluarga korban itu dianggap sebagai substitusi pengganti dari pengadilan. Jadi kalau dia terima, dianggap sudah tidak boleh ngomong lagi," kata Papang.

Penembakan di Paniai tahun 2014

Pada 7-8 Desember 2018 menandai empat tahun penganiayaan dan penembakan di Kabupaten Paniai, Papua.

Pada 7 Desember 2014, di Jalan Poros Madi-Enarotali, Distrik Paniai Timur, terjadi penganiayaan kepada seorang warga bernama Yulianus Yeimo.

Menurut keterangan tertulis yang dirilis oleh Amnesty International, Yulianus mengalami luka bengkak pada bagian belakang telinga kanan dan kiri, serta luka robek di ibu jari kaki kiri.

Luka tersebut akibat pukulan popor senjata api laras panjang.

Sementara penembakan terjadi di Lapangan Karel Gobai, Kota Enarotali, satu hari kemudian.

Kala itu, personel polisi dan tentara menembak kerumunan warga yang sedang melakukan protes damai atas penganiayaan Yulianus.

Penembakan ini menewaskan empat pemuda Papua yang seluruhnya pelajar. Mereka adalah Apius Gobay (16), Alpiys Youw (18), Simon Degei (17), dan Yulian Yeimo (17). Penembakan juga mengakibatkan setidaknya 11 warga sipil terluka.

(Fitria Chusna Farisa)[]Sumber: intisari.grid.id/kompas.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.