22 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Kemiskinan Aceh dan Hilangnya Iffah'

...

  • MUDIN PASE
  • 19 February 2019 12:45 WIB

Saiful Mahdi. Foto istimewa
Saiful Mahdi. Foto istimewa

BANDA ACEH - Peneliti di Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah, Saiful Mahdi, menilai ada satu alasan “kultural” yang semakin mengkhawatirkan pascakonflik dan pascabecana di Aceh.

"Orang Aceh makin kehilangan ‘Iffah, yaitu kemampuan untuk menahan diri sehingga mampu menjaga kehormatan," ungkap Saiful Mahdi kepada portalsatu.com, belum lama ini.

Saiful Mahdi mensinyalir semakin banyak yang tak mampu menahan diri di tengah masyarakat Aceh. Maka Aceh makin kehilangan kehormatan dan marwahnya. Aceh ditabalkan sebagai provinsi termiskin di Sumatera, di tengah besarnya anggaran pembangunan terutama dari dana otonomi khusus.

"Mereka yang tak punya ‘iffah, berani mengaku miskin demi memperoleh bantuan sosial yang ditujukan hanya untuk mereka yang benar-benar miskin. Bahkan, ada yang berani meminta agar dimasukkan dalam kelompok warga miskin. Pengemis atau peminta-minta juga makin marak di tengah masyarakat. Padahal, sebagian mereka tampak sehat secara fisik dan mental," tambah pendiri jurusan Statitika FMIPA Unsyiah ini.

Menurut Saiful Mahdi, jika seorang Muslim punya ‘iffah, walaupun cacat, dia akan tetap pantang meminta-minta.

“Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras, banyak memunculkan perilaku umat yang melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih berat dari sekadar meminta-minta seperti korupsi, mencuri, merampok, lebih menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan,” jelas Saiful Mahdi dengan nada prihatin.

'Iffah secara bahasa berarti “menahan”. Secara istilah ‘iffah berarti menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang diharamkan Allah SWT (QS. an-Nur:33). Termasuk makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta. Seperti hadis Rasulullah SAW:

“Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah subhanahu wa ta’ala akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya sabar. Siapa yang merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala dari meminta kepada selain-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari no. 6470 & Muslim no. 1053)

Saiful Mahdi juga mengutip pernyataan ulama intelektual. "An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadis ini ada anjuran untuk ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan kesulitan (hal yang tidak disukai) lainnya di dunia.” (Syarah Shahih Muslim, 7/145)

Akan tetapi, hilangnya ‘iffah, hilangnya kehormatan, sehingga orang tak malu untuk meminta-minta, termasuk meminta dianggap miskin alias suka “mengaku miskin” tidak sepenuhnya karena alasan kultural.

"Kultur saling pengaruh-memengaruhi dengan struktur. Mereka yang suka meminta-minta atau yang rela ikut menikmati bantuan sosial yang dikelola pemerintah untuk orang miskin. Padahal dia tidak layak dan tidak berhak menerimanya, juga dipengaruhi oleh banyaknya program bantuan sosial yang dikelola dan disediakan pemerintah," tambah doktor lulusan Universitas Vermont Amerika ini.

Walaupun tujuannya mulia, yaitu untuk membantu rakyat yang miskin, tapi program bantuan sosial yang cukup banyak dan besar itu tak pelak mengakibatkan 'moral hazard', racun moral, bagi sebagian masyarakat. "Karena itu ada yang rela berbohong demi bisa memperoleh bantuan sosial. Mereka ini tak punya ‘íffah. Ada warga yang merasa berhak untuk mendapat beras miskin (raskin) sehingga di banyak gampong, raskin dibagi rata untuk setiap warga. Bahkan ada aparat desa sampai kabupaten yang suka jika banyak warganya yang dianggap miskin karena akan memperoleh lebih banyak bantuan sosial," ujarnya.

"Mereka ini sama saja dengan para peminta-minta. Mereka tak punya ‘iffah, tak punya kehormatan. Patut diduga angka kemiskinan yang makin sulit turun saat ini karena orang Aceh telah kehilangan marwahnya, telah menjadi hina, telah kehilangan kehormatannya. Dari pantang meminta-minta seperti diajarkan Islam, menjadi peminta-minta," kata Saiful Mahdi.

"Orang Aceh telah berubah dari bangsa pemberi menjadi bangsa peminta-minta. Ada sejumlah politisi yang memberi sinyalemen orang Aceh akan meminta agar dana otsus itu tidak berakhir pada tahun 2027 tapi harus ada terus selamanya. Kalau kita terus meminta-minta, terus merasa “tidak cukup”, jangan harap kemiskinan akan turun. Walaupun anggaran sebesar jagad raya sekalipun," pungkas intelektual Aceh yang juga bagian dari Poros Darussalam ini.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.