21 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketika Jenazah Warga Dievakuasi Dengan Boat Mengarungi Banjir

...

  • PORTALSATU
  • 07 January 2018 00:10 WIB

Sejumlah warga menandu jenazah Dewi dari rumahnya di Gampong Geulumpang, Kecamatan Pirak Timu, yang terendam banjir, lalu dievakuasi dengan perahu karet ke Lhoksukon. @Wahyuddin
Sejumlah warga menandu jenazah Dewi dari rumahnya di Gampong Geulumpang, Kecamatan Pirak Timu, yang terendam banjir, lalu dievakuasi dengan perahu karet ke Lhoksukon. @Wahyuddin
Jenazah Dewi dievakuasi dengan perahu karet dari Gampong Geulumpang, Kecamatan Pirak Timu, yang terendam banjir, ke Lhoksukon. @Wahyuddin

LHOKSUKON - Delapan gampong di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara dilaporkan masih terendam banjir sampai Jumat, 5 Januari 2018. Delapan gampong itu, Asan Krueng Kreh, Trieng Krueng Kreh, Geulumpang, Reungkam, Beurancan Rata, Bungong, Keutapang, dan Bili Baro.

Lantaran gampong-gampong itu terendam air, dua warga yang meninggal dunia, jenazahnya harus dievakuasi menggunakan rubber boat (perahu karet) milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara untuk dimakamkan di gampong yang tidak mengalami banjir.

“Jenazah Ibu Dewi dan Nek Maimunah dibawa menggunakan boat,” ujar Antoni, Babinsa Koramil Pirak Timu kepada portalsatu.com dalam perjalanan mengarungi banjir menggunakan perahu karet ke Trieng Krueng Kreh, Jumat, sore. Antoni menjadi sopir salah satu perahu karet milik Detasemen Perbekalan dan Angkutan (Denbekang) yang difungsikan untuk evakuasi warga dan mengangkut bantuan kepada korban banjir di gampong-gampong terisolasi.

Dewi, 30 tahun, meninggal dunia di rumahnya, Gampong Geulumpang, Rabu, 3 Januari 2018, hari pertama banjir. Perempuan dua anak itu merupakan guru bakti di Sekolah Dasar (SD) Asan Krueng Kreh. Kabarnya, ia meninggal dunia karena menderita penyakit paru-paru. Jenazah Dewi, hari itu juga dibawa menggunakan perahu karet dari Geulumpang ke kawasan Ara Kemudi, Kecamatan Lhoksukon.

“Dari Lhoksukon, jenazah Ibu Dewi dibawa menggunakan mobil ambulans ke Kecamatan Matangkuli untuk dimakamkan,” kata Wahyuddin, pemuda Gampong Reungkam.

Sementara itu, Maimunah, 90 tahun, meninggal dunia di rumah anaknya, di Gampong Asan Krueng Kreh, Rabu, 3 Januari 2018, malam. “Nek Maimunah meninggal dunia malam Kamis, usai Magrib. Ia tinggal di rumah anaknya, rumah kaum duafa. Jenazahnya dibawa dengan boat BPBD dari Asan Krueng Kreh ke Ara Kemudi, Kamis pagi, kemudian sempat ditandu sampai datangnya ambulans, lalu ke Kecamatan Matangkuli,” ujar Geuchik Asan Krueng Kreh, Abdul Aziz.

Jenazah Dewi dan Nek Maimunah dimakamkan di Gampong Mesjid Pirak, dekat Kompleks Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia, di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

Menurut Abdul Aziz, saat terjadi banjir pada Desember 2017 lalu, Asan Krueng Kreh terendam selama sepekan. Kali ini, sejak Rabu lalu sampai Jumat malam, banjir masih merendam gampong itu. “Banjir kali ini, 50 KK (kepala keluarga) dari jumlah 98 KK gampong ini mengungsi ke meunasah. Sebagian lainnya bertahan di rumahnya, karena rumah panggung. Sampai hari ini, tinggal delapan KK lagi warga kami yang mengungsi ke meunasah,” kata Abdul Aziz dihubungi, Sabtu sore.

Abdul Aziz menyebutkan, sebagian korban banjir di Asan Krueng Kreh mengalami demam. “Banyak yang tumbang karena rata-rata demam,” ujarnya.[](idg)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.