21 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Lhokseumawe
Ketua DPRK: Kita Dukung Penanganan Covid-19, Tapi Santri Dayah Mataqu Juga Harus Diperhatikan

...

  • PORTALSATU
  • 10 September 2020 21:30 WIB

Ketua DPRK Lhokseumawe, Ismail A. Manaf. Foto: dok./istimewa
Ketua DPRK Lhokseumawe, Ismail A. Manaf. Foto: dok./istimewa

LHOKSEUMAWE - Ketua DPRK Lhokseumawe, Ismail A. Manaf, mendukung rencana pemerintah kota ini menyiapkan Ruangan Rawat PINERE Pasien Covid-19. Namun, Pemko Lhokseumawe juga harus memikirkan nasib ratusan santri Dayah Ma’had Ta’limul Quran (Mataqu) jika harus pindah dari bangunan bekas SMP 1 Arun Lhokseumawe yang akan dijadikan Ruangan PINERE.

"Kita mendukung langkah-langkah penanganan covid, tapi para santri juga harus kita berikan perhatian khusus," kata Ismail saat dihubungi portalsatu.com lewat telepon seluler, Kamis, 10 September 2020, sore.

Menurut Ismail, jika benar Pemko Lhokseumawe pernah memberi kesempatan kepada Dayah Mataqu untuk persiapan pindah dari eks-SMP 1 Arun, tidak ada salahnya diberikan tambahan waktu misalnya 10 hari lagi. Sehingga pihak Mataqu dapat mencari tempat lain yang layak kalau benar bangunan milik dayah itu di Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, tidak mampu menampung semua santri yang selama ini menempati eks-SMP 1 Arun di Kecamatan Muara Satu. 

"Intinya, pemerintah harus arif, karena ini menyangkut santri. Santri itu rakyat kita juga," ujar Ismail yang merupakan wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Muara Satu.

Dihubungi terpisah, Kamis sore, Anggota Komisi D (bidang pendidikan) DPRK Lhokseumawe, Tgk. Masykurdin El-Ahmady, mengatakan ia melihat persoalan itu dari dua sisi. "Pertama, soal status tempat itu pinjam pakai. Sudah lama diminta pemerintah untuk pindah, sehingga mereka (Dayah Mataqu) bangun di Alue Lim. Jadi, menurut saya, itu (permintaan agar pindah dari Arun) tidak mendadak," tuturnya.

"(Kedua), kalau benar tempat yang sudah dibangun di Alue Lim tidak mampu menampung semua santri yang ada di Arun, saya kira pemerintah perlu memikirkan juga, soal ini saya setuju," ucap Tgk. Masykurdin yang juga berasal dari Dapil Muara Satu.

Tgk. Masykurdin menambahkan, "Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah sepenuhnya (karena meminta Dayah Mataqu pindah dari eks-SMP 1 Arun). Kenapa mereka (Dayah Mataqu) banyak sekali menampung santri di Arun. Padahal, mereka tahu bahwa tempat itu milik orang dan akan diminta pindah. Saya tidak memihak pemerintah, lon dong bak gareh. Seharusnya kalau memang seperti itu kondisinya, mereka enggak usah menampung terlalu banyak (santri di Arun). Jadi, harus objektif, kita tidak mau menyalahkan satu pihak". 

Sebelumnya diberitakan, Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, meminta Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Quran (Mataqu) mengosongkan bangunan eks-SMP 1 Arun yang selama ini digunakan untuk operasional dayah itu. Alasannya, Pemerintah Kota Lhokseumawe akan membangun Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 di bekas gedung SMP tersebut.

“Pada prinsipnya, kami siap pindah, mendukunglah program Pak Wali dengan Instruksi Gubernur untuk membangun ruangan PINERE itu. Tapi kondisi kami yang jadi masalah. Kalau sekarang langsung kami diminta pindah, kondisnya belum siap. Karena kondisi fasilitas yang ada di Alue Lim memang sangat tidak mencukupi. Kondisi di Alue Lim hanya cukup untuk anak didik yang ada di sana untuk tempat belajar,” tutur Pimpinan Dayah Mataqu Utsman Bin Affan Lhokseumawe, Ustaz Azhar Ibrahim, SQ., dikonfirmasi portalsatu.com Rabu, 9 September 2020 siang.

Menurut dia, Dayah Mataqu menggunakan eks-SMP 1 Arun Lhokseumawe sejak tahun 2013 dengan status pinjam pakai atas izin dari manajemen PT Arun. Pada tahun 2018, kata dia, pihaknya membangun fasilitas dayah ini di Alue Lim. “Sebagian santri kami pindahkan dari Arun ke Alue Lim sejak Juli 2019. Saat ini jumlah santri dan santriwati Dayah Mataqu di Arun sekitar 300 orang, dan di Alue Lim sekitar 130 orang. Santri dan santriwati itu dari seluruh Aceh, dominan putra putri Lhokseumawe. Mereka mondok,” ujar Ustaz Azhar.

Ustaz Azhar mengatakan sejak pihaknya menggunakan bangunan di Kompleks Perumahan Arun, baru sekarang tiba-tiba datang surat dari Wali Kota Lhokseumawe meminta Dayah Mataqu mengosongkan eks-SMP 1 itu. Sebelumnya, kata dia, Wali Kota memang sudah membentuk tim pengembangan Rumah Sakit Arun, sekitar enam bulan lalu. “Cuma dalam perjalanan tidak ada konfirmasi apapun dari tim itu, tiba-tiba datang surat (Wali Kota) itu kepada kami sekitar tujuh hari lalu,” ungkapnya.

Menurut Ustaz Azhar, pihaknya belum mengosongkan bangunan eks-SMP 1 Arun, meskipun dalam surat Wali Kota Lhokseumawe itu diharapkan pengosongan dilakukan paling lambat 7 September 2020. 

"Dalamsurat balasan nanti, kami meminta semacam kelonggaran, mungkin pergeseran waktu. Ataupun andaikata kami memang harus pindah, kemana bisa dialihkan, mungkin ada alternatif tempat yang bisa menampung kami. Yang paling kami merasa terdesak, kalau bisa jangan dalam waktu dekat seperti ini. Karena memindahkan sekitar 300 anak didik memang agak berat dengan segala fasilitas dan kelengkapan anak-anak,” ujar Ustaz Azhar. 

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, mengatakan pihaknya harus menyiapkan Ruang Rawat PINERE Pasien Covid-19 yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. “Tidak boleh jarak dengan rumah sakit, ya, minimal 50 atau 100 meter. Kalau sampai kiloan (kilometer) tidak diizinkan oleh provinsi,” kata Suaidi Yahya menjawab portalsatu.com di Gedung DPRK Lhokseumawe, Rabu, 9 September 2020, sore.

Suaidi mengatakan itu saat ditanyakan, apa pertimbangannya meminta Dayah Mataqu mengosongkan eks-SMP 1 Arun, mengapa tidak menggunakan bangunan-bangunan lain sebagai alternatif untuk Ruang Rawat PINERE.

Disinggung soal banyak bangunan lain di Kompleks Perumahan Arun itu, Suaidi mengatakan, “Karena itu (eks-SMP 1) senyawa dengan Rumah Sakit Arun. Tempat (Dayah) Mattaqu itu menjadi denah pengembangan Rumah Sakit Arun. Cuman Mataqu itu dipinjamkan (pinjam pakai, red) kepada kita untuk sementara sampai menunggu kesiapan gedung dia di Alue Lim. Tapi kita pantau, kita tinjau dengan MPD (Majelis Pendidikan Daerah), dan seluruh unsur, itu sudah siap, sudah diaktifkan, kenapa belum pindah”.

“Dan sudah kita berikan waktu untuk persiapan (pindah) sampai 7 September 2020, tapi belum juga beliau pindah ke sana (Alue Lim). Dan kita sudah surati LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara), LMAN juga sudah menyurati Mataqu untuk pindah. Kita sudah koordinasi juga dengan LMAN, LMAN mengatakan itu sepenuhnya hak Pemerintah Kota Lhokseumawe. Karena tempat yang digunakan oleh Mattaqu itu resmi untuk pengembangan Rumah Sakit Arun,” tutur Suaidi.

Soal Pimpinan Dayah Mataqu meminta kelonggaran waktu atau diberikan solusi alternatif untuk bisa pindah ke tempat lain, Suaidi mengatakan, “Kita sudah beberapa kali memberi kelonggaran. Mungkin kita memberi kesempatan ini (pindah dari eks-SMP 1 Arun) dua bulan, tiga bulan, hampir empat kali, tiga kali, kita beri kesempatan. Pertimbangan kita adalah untuk persiapan-persiapan pindah. Ada kemarin itu kita beri waktu dua bulan untuk persiapan pindah, tapi enggak juga (pindah)”.

“Kita tambah lagi (waktu) karena belum kita pakai. Okelah dalam persiapan kita belum pakai itu untuk pengembangan rumah sakit, karena kita memerlukan pengembangan Rumah Sakit Arun untuk kamar rawat inap yang kurang. Kita beri kesempatan, tapi orang itu sepertinya belum ada persiapan untuk pindah, makanya terpaksa kita surati lagi Mataqu, kita beri limit waktu untuk pindah,” tambah Suaidi. (Wali Kota Lhokseumawe Minta Dayah Mataqu Kosongkan Eks-SMP 1 Arun, Mendadak?)[](nsy)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.