25 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketua Fraksi PA: Ada yang Peucangklak-cangklak Droe Som Identitas

...

  • portalsatu.com
  • 16 June 2017 19:30 WIB

BANDA ACEH - Pendidikan muatan lokal harus segera dimasukkan dalam kurikulum di bawah Dinas Pendidikan Aceh. Hal ini dirasa perlu menjadi catatan semua pihak, baik legislatif maupun eksekutif di Aceh untuk perbaikan mutu pendidikan daerah di masa mendatang.
Demikian disampaikan Ketua Fraksi Partai Aceh, Iskandar Usman Alfarlaky, dalam sidang paripurna LKPJ Gubernur Aceh, yang berlangsung di Kantor DPR Aceh, Kamis, 15 Juni 2017 malam. 

"Langkah ini penting, mengingat perkembangan kurikulum pendidikan di Aceh, hampir tidak ada mata pelajaran yang memperkenalkan atau menjelaskan secara khusus tentang kearifan lokal," kata Iskandar.

Dia turut mengajak semua pihak untuk merawat memori, seberapa besar muatan lokal yang dipelajari saat masih di bangku sekolah dasar tentang Aceh. Menurut Iskandar sedikit sekali siswa-siswi di Aceh yang mempelajari sejarah dan budaya daerahnya sendiri.

"Namun seiring perubahan zaman, realita ini semakin membahayakan bagi generasi penerus di Aceh, mereka akan kehilangan identitas diri atau crisis identity," ujarnya lagi.

Iskandar juga mengajak publik Aceh untuk belajar dari pengalaman sejarah dunia. "Maaf, bagaimana bangsa yahudi besar dan berhasil merebut tanah Palestina, berkuasa dimana- mana. Mereka masuk dan menamankan ideloginya lewat pendidikan tentang siapa mereka dan apa tujuannya," katanya.

"Nah, Sebagai generasi yang masih sadar akan hal ini, setidaknya slogan cinta daerah dan tanyoe ureung Aceh, tidak hanya sebatas pemanis tulisan di kertas atau dimensi lainnya. Ucapan hadih maja adat bak poe teumerehom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak laksamana harus mampu terjabarkan ke generasi Aceh yang akan datang. Atau jangan-jangan mereka akan lupa dari mana asal dan bagaimana sejarahnya," kata putra Pereulak tersebut.

Seharusnya, kata dia, pelajaran muatan lokal tidak boleh dianggap enteng. Pasalnya, di sanalah akan dibangun pemahaman agar generasi muda  tidak akan asing lagi dengan hal-hal yang berbau Aceh. Dia mencontohkan seperti masakan tradisional Aceh kuah pliek, asam keueung, cindoi Aceh, timphan atau pisang salee.

Begitu pula dengan para pahlawan Aceh yang masih terdengar asing di kepala pemuda-pemudi daerah tersebut. "Siapa pahlawan dan bagaimana riwayat endatu kita," kata Iskandar.

Menurutnya jika tanyoe hana tatusoe droe terjadi, maka orang Aceh hanya bisa tercengang dan menyesal. “Mandum atra ka leupah, adak teulah hana le guna,” kata Iskandar. 

Iskandar melanjutkan, upaya lain yang harus didorong adalah soal tarikh atau penanggalan Aceh. Menurutnya penanggalan Aceh juga tidak didapati lagi meski hanya sebagai bahan bacaan saja.

Di sisi lain, kata dia, upaya penyelamatan Bahasa Aceh juga perlu dilakukan oleh Pemerintah dengan menggalakkan bahasa Aceh dan memasukkannya dalam kurikulum sekolah. Dia meminta adanya agenda penerbitan buka bahasa Aceh, sehingga generasi Aceh akan paham bahasa daerah yang sebenarnya.

"Hana meukilidoe lagei ureung hana keunoeng asam sunti,” kata Iskandar.

Dia menyebutkan, fakta yang terjadi sekarang adalah banyak anak Aceh yang lahir di Aceh dari rahim perempuan Aceh tidak bisa, serta enggan berbahasa Aceh. Bahkan, kata dia, "terkesan sebagian ada yang peucangklak-cangklak droe soem identitas droe sebagoe ureung Aceh. Kondisi yang memiriskan ini sudah kita temui dimana- mana."[]

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.