30 May 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketua IKAMIK Unsyiah Sebut Jam Malam Juga Berisiko Penyebaran Covid-19, Mengapa?

...

  • PORTALSATU
  • 03 April 2020 17:10 WIB

Muhammad Daud. Foto: dok./istimewa
Muhammad Daud. Foto: dok./istimewa

BANDA ACEH - Ketua Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (IKAMIK) Unsyiah, Muhammad Daud, SKM., M.Si., menilai pemberlakuan Jam Malam di Aceh bukanlah langkah tepat untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. Sebab, kata Daud, Covid-19 menular dari manusia ke manusia, bukan melalui jalan raya ataupun cuaca.

“Pemberlakuan Jam Malam di Aceh untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 terkesan seperti sedang berburu hantu. Terkesan tingginya penyebaran Covid-19 terjadi pada malam hari. Padahal pemberlakuan Jam Malam justru sangat berisiko penyebaran Covid-19 pada siang hari karena masyarakat akan keluar secara serentak pada siang hari dan saling berinteraksi,” kata Daud dalam keterangannya dikirim kepada portalsatu.com, Jumat, 3 April 2020.

Menurut Daud, jika pemerintah tidak mampu melakukan lockdown, maka langkah yang paling strategis dilakukan adalah memperketat masyarakat menggunakan alat pelindung diri setiap keluar rumah. “Supaya terhindar dari penularan atau sebaliknya mencegah menularkan kepada orang lain, karena Covid-19 menular dari manusia ke manusia, bukan melalui jalan raya ataupun cuaca. Sehingga tidak perlu memberlakukan Jam Malam yang justru akan sia-sia,” ungkapnya.   

Selain pemberlakuan Jam Malam, penutupan jalan dan lorong dengan memasang portal hampir menyeluruh terjadi di Aceh sebagai upaya kontrol terhadap pendatang dari luar ke desa yang dianggap membawa wabah Covid-19. “Belum lagi ada yang melakukan pemalangan jalan dengan menggunakan paku atau menutup mati akses,” kata Daud.

Padahal, menurut Daud, tindakan pemalangan jalan justru berisiko jika terjadinya bencana lainnya, seperti kebakaran. Saat kebakaran, misalnya, pemadam kebakaran akan menghabiskan waktu beberapa saat untuk membuka portal yang ditutup. Seharusnya mereka (pihak pemadam) sudah menanggulangi bencana tersebut.

“Risiko lainnya yang paling parah adalah terjadinya penyebaran Covid-19 terhadap penjaga portal akibat berkumpul ramai-ramai, sementara yang lain dipaksakan menghindari keramaian,” tutur Daud yang selama ini fokus dalam isu bencana dan kesehatan di Aceh.

Daud menambahkan, untuk memantau pendatang dari luar yang dianggap pembawa wabah virus corona tidak perlu menutup akses jalan, cukup melakukan kontrol yang baik melalui kepala lorong masing-masing desa.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.