22 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


LBH Banda Aceh Pos Meulaboh Tuding Dalang di Balik Suntik Pencabut Nyawa Masih Buram

...

  • Rino
  • 22 January 2019 21:00 WIB

RSD Cut Nyak Dhien. Foto: dok. Portalsatu/Rino
RSD Cut Nyak Dhien. Foto: dok. Portalsatu/Rino

ACEH BARAT - Dugaan malapraktik berujung kematian seorang pasien di RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Oktober tahun lalu, dinilai masih menyimpan misteri. Masih menjadi tanda tanya, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dalam kasus ini.

Kasus ini mencuat ketika keluarga protes karena pasien atas nama Alfa Reza (11), meninggal dunia setelah disuntik oleh petugas medis. Sebelumnya, korban sempat menjalani perawatan usai dioperasi di ruang anak.

Menurut paman korban, Syahril, keponakannya dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan setelah mengalami luka akibat tertancap dahan kayu di punggung. Korban dilarikan ke IGD, Jumat, 19 Oktober 2018.

Korban dibawa pukul 14.00 WIB, dan ditangani oleh dokter bedah, pukul 17.00 WIB. Setelah dioperasi kondisi pasien membaik. Namun, tak lama setelah disuntik saat berada di ruang anak, pasien tiba-tiba meninggal.

"Saat itu anak kami disuntik. Enggak ada dicoba obat dulu, tapi langsung disuntik beberapa kali dalam rentang waktu yang sangat singkat,” ujar Syahril kepada media, saat itu.

Usai kejadian, Kasi Pelayanan Medis, Muhammad Asmirudin, berjanji pihak rumah akan melakukan investigasi mengenai kasus ini. Saat yang sama, kasus dugaan malapraktik tersebut mulai ditangani pihak kepolisian.

Pada Kamis, 17 Januari 2019, polisi secara resmi menahan dua tenaga honorer rumah sakit. Keduanya, EW (29) dan DA (24), adalah perawat piket yang bertugas di malam kejadian.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa, melalui Kasat Reskrim, Iptu M. Isral, mengatakan, keduanya sudah ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Mereka ditahan selama 20 hari di sel Mapolres Aceh Barat.

Disebut bahwa kedua perawat ini memiliki peran yang berbeda. Berperan sebagai orang yang menyuruh adalah EW. Sedangkan yang menyuntik DA.

Namun, menurut Koordinator Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Meulaboh, Fela Angreni, S.H., fakta EW dan DA berperan sebagai yang menyuruh dan menyuntik, dipandang agak ganjil. Itu mengingat posisi keduanya berstatus honorer.

"Belum sepenuhnya terungkap. Ada beberapa fakta yang belum terungkap yaitu siapa sebenarnya yang menyuruh menyuntik dan yang bertanggung jawab terhadap pasien pada malam kejadian. Petugas medis honorer tidak mungkin punya tanggung jawab penuh terhadap penanganan pasien," tukas Fela, menjawab portalsatu.com, Selasa, 22 Januari 2019, sore.

Menurut Fela, yang bertanggung jawab penuh menangani pasien pada malam kejadian harusnya setingkat dokter, kepala ruang anak atau pihak manajemen rumah sakit. Bukan pegawai honorer yang sifatnya perbantuan, dan kini telah ditahan setelah menjadi tersangka.

Manajemen rumah sakit diminta bertanggung jawab secara hukum atas semua kerugian yang ditimbulkan karena kelalaian tenaga kesehatan di rumah sakit. Ini ditegaskan dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

"Kejadian ini terjadi merupakan bentuk kelalaian dari pihak rumah sakit yang bertanggung jawab dalam hal melakukan pengawasan terhadap pelayanan medis yang diberikan kepada pasien," ketus Fela.

Selain itu, pihaknya mendesak polisi melakukan pengembangan penyidikan untuk mengusut tuntas kemungkinan adanya pihak lain yang bertanggung jawab. Ini, karena kasus Alfa Reza merupakan pidana murni atau delik biasa, bukan delik aduan.

"Sehingga, walaupun adanya perdamaian di antara kedua belah pihak, tidak dapat menghentikan proses hukum, penegakan hukum tetap harus dilanjutkan. Selain itu, kami juga meminta Pemerintah Aceh Barat mengevaluasi dan mengawasi rumah sakit agar ke depan tidak terjadi lagi peristiwa ini," tegas dia.

Ancam mogok

Kedua perawat yang ditahan dalam kasus ini mendapat dukungan moril dari sejawat mereka. Puluhan tenaga medis menggelar unjuk rasa di halaman rumah sakit dan meminta EW dan DA dibebaskan, Senin, 21 Januari 2019.

Mereka mengancam akan melakukan aksi mogok kerja, apabila dua rekan mereka masih ditahan polisi. Di hadapan peserta aksi, kuasa hukum rumah sakit, Agus Herliza berjanji akan mendampingi kedua perawat dalam kasus ini.

"Teman-teman harus bersabar," kata Agus.[] 

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.