22 June 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia

10 Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga
''Loen Jak Tupah u Blang Sampoe u Banda''

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 13 March 2018 14:40 WIB

@Cut islamanda/portalsatu.com
@Cut islamanda/portalsatu.com

LHOKSUKON - Selama 10 tahun terakhir ia menjadi tulang punggung keluarga. Dari upah menjadi buruh tani, Nurazizah menghidupi enam anaknya, termasuk suaminya yang sering sakit-sakitan. Uang yang diperolehnya memang jauh dari kata cukup, tapi hanya itulah yang dapat dilakukan.

Wanita berusia 35 tahun itu tinggal di rumah semi panggung warisan orang tuanya di Gampong Matang Ceubrek, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara.

Bagian depan rumah dibangun tinggi atau yang biasa disebut rumah panggung, sementara bagian belakang (dapur) terbuat dari tepas dan pelepah rumbia. Lantainya masih beralas tanah, sedangkan keseluruhan atap rumah terbuat dari pelepah daun rumbia yang mulai bocor.

Nyan keuh lage nyoe udep kamoe. Loen magun ngen kaye ata loen mita di lampoh liket, menyoe na peng loen bloe gah, tapi meuhai that yum jih 30 ribe saboh tabong lhee kilo (Seperti inilah kehidupan kami. Saya memasak menggunakan kayu yang saya cari di kebun belakang, jika ada uang saya beli gas, tapi mahal sekali harganya Rp 30 ribu satu tabung ukuran 3 kilogram),” ujar Nurazizah saat ditemui portalsatu.com di rumahnya beberapa waktu lalu.

Menurut Nurazizah, suaminya, M Jalil, 40 tahun, sudah tidak sanggup kerja berat lagi karena sakit paru-paru. “Bek 'an pubuet hek, geujak manteng ceukang. Bak babah tom jiteubit lage bate nam neuk, tapi hana peng ngen tameuubat u rumoh saket. Kakeuh lage nyan (Jangankan kerja berat, jalan saja sering kaku. Dari mulutnya pernah keluar semacam batu enam buah, tapi tidak ada uang berobat ke rumah sakit. Ya sudah begitu),” ucap wanita berpostur tubuh kecil itu.

Nurazizah memiliki enam anak, satu di antaranya berusia 17 tahun dan putus sekolah, tiga masih sekolah, sedangkan dua lainnya masih balita. Anak pertama hanya lulus SMP. Anak kedua di dayah serata kelas III SMP, anak ketiga kelas VI SD, dan yang keempat kelas III SD.

“Anak pertama tidak mau sekolah lagi karena tidak ada uang. Anak kedua di pesantren, dia bahkan ingin SMA nanti tetap di situ. Anak ketiga setelah lulus SD nanti juga minta masuk pesantren seperti kakaknya. Penghasilan saya hanya Rp80 ribu per hari, dari pagi sampai sore. Itu pun jika sedang musim turun ke sawah, terkadang tidak ada sama sekali,” kata Nurazizah.

Dari penghasilan yang diperoleh menjadi buruh tani, Nurazizah mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Menyoe ka hana buet hinoe, loen jak tupah u blang sampoe u Banda. Loen jak meu duaploh uroe, loen dom bak adek. Adak jioh pih suah tajak, sayang menyoe aneuk mit jieteubit bak dayah. Na loen neuk peutubit, loen neuk peutamong bak dayah nyang hana bayeu, tapi han jitem. Ka mangat di sinan. Jilake sampoe tamat SMA (Jika tidak ada kerja di sini, saya pergi menjadi buruk ke sawah hingga ke Banda Aceh. Saya pergi selama 20 hari, saya menginap di rumah adik. Walau jauh tetap harus pergi, sayang anak jika keluar dari pasantren. Pernah saya ingin mengeluarkannya dan memasukkan ke dayah yang tidak berbayar, tapi dia tidak mau. Sudah nyaman di situ. Dia minta sampai lulus SMA),” ujar Nurazizah. 

Mengenai kondisi rumahnya yang sudah reot, Nurazizah mengatakan, dirinya tidak sempat memikirkan untuk merehab rumahnya karena untuk makan saja sudah sulit. 

Bek 'an tapike rumoh, keu pajoh bu si uroe lhee ge manteng ka susah. Nyan gohlom peng sikula aneuk mit. Adak na jitem bie rumoh saboh le pemerintah. Menyoe keu sikula aneuk sit ka tamita. Alhamdulillah na meurumpok peng beasiswa shit (Jangankan berpikir untuk rumah, untuk makan nasi sehari tiga kali saja sudah susah. Itu belum lagi uang sekolah anak. Andaikan mau dikasih rumah oleh pemerintah. Untuk sekolah anak memang sudah saya cari, Alhamdulillah ada dapat beasiswa juga),” ujar Nurazizah. []

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.