18 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Makam Penghulu Meukuta pun Dirawat Kembali

...

  • portalsatu.com
  • 23 April 2018 23:18 WIB

@JAMALUDDIN
@JAMALUDDIN
@JAMALUDDIN
@JAMALUDDIN
@JAMALUDDIN
@JAMALUDDIN

SEMAK belukar telah menutupi batu-batu nisan tinggalan Aceh Darussalam dalam keterabaiannya. Muhajir mengayunkan parang puntung itu untuk membersihkan semak-semak. Nisan-nisan itu pun mulai terlihat kembali. Ia adalah Anggota Masyarakat Peduli sejarah Aceh (Mapesa) yang aktif ikut meuseuraya.

Nisan-nisan tua itu sebagian kecilnya setengah melepuh karena tumbang dan tertimbun tanah, retakan-retakan kecil terjatuh ke tanah ketika diangkat.

Anggota Mapesa lainnya, Akbar, tak lelah terus membabat semak semak belukar itu dengan pedangnya. Dan kini giliran rekannya, Ayi, setelah mengangkat beberapa batu yang terbenam, kini ia mendekat, merebahkan diri di bawah bawah pohon kelapa sambil metap langit di antara celah celah daun kelapa yang ditanam di sekeliling tanah gundukan makam.

Pada Meuseuraya hari Minggu 22 April 2018 itu Mapesa bermeuseuraya di komplek makam Penghulu Meukuta, yang terletak di Duson Lamgut, Gampong Lamceu, Kecamatan Kuta Baro, Aceh besar. Komplek makam itu  berada tak jauh dari simpang Darul Wustha dan harus masuk melalui sebuah pintu gerbang rumah penduduk.

“Di sisi sebelah utara komplek makam berada sebuah masjid Tuha Mukim Lamrabo. Di sisi barat makam ada makam Tgk. Jalaluddin Lamgut dan sumur Tuha dan meriam,” kata Mizwar sambil menunjuk ke utara dan barat ketika menjawab pertanyaan seorang temannya tentang hal makam tersebut.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, hari itu datang lebih awal bersama Hasan, Ayi, Akbar, dan lain-lain.

Mapesa pertama mendapatkan informasi tentang keberadaan makam Penghulu Meukuta tersebut dari Ayi (anggota Mapesa) yang tinggal di Gampong Cot Preh, yakni sebuah gampong yang bertetangga dengan Gampong Lamceu. Dan Ayi mengetahui keberadaan situs makam itu melalui pemberitahuan mayarakat setempat.

Makam itu terletak di atas sebuah gundukam tanah membentang sepanjang lebih kurang 15-20 meter dengan ketinggian sekitar 3 meter dari ketinggian permukaan tanah rata-rata. Keadaan semacam ini hampir bisa djumpai di seluruh sebaran nisan-nisan Aceh Darussalam.

Setelah siang, Masykur Syafruddin, anggota Mapesa yang juga Direktur Pedir Museum, datang bersama empat teman sekampusnya dari Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar – Raniry, Banda Aceh.

Mereka kemudian bermeuseuraya dengan tim Mapesa. Para mahasiwa itu setelah membantu merapikan letak nisan kemudian mengambil potongan ranting kecil dan terus membersihkan tanah-tanah yang masih melekat pada batu nisan, juga membantu apa saja yang dilakukan Mapesa.

Setelah Ashar dua dari empat mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora tersebut mewawancarai Mizuar Mahdi guna mencatat apa saja dari keterangan ketua Mapesa tersebut untuk bahan kajian mereka dalam hal sejarah batu nisan Aceh, untuk kepentingan tugas kuliah.

Pada sorenya ketika kami sedang meuseuraya, dua anak-anak tiba-tiba datang, mereka saling bercanda dengan temannya dan berlari-lari pelan sambil mendekat ke komplek makam Penghulu Meukuta.

“Di sana ada tulisan ayat-ayat suci Alquran, tak apa lihat saja,” kata ketua Mapesa pada bocah-bocah yang baru datang tiba-tiba tersebut yang berdiri dengan mata berkeliling memutar menatap batu-batu nisan dan tim Mapesa yang sedang bermeuseuraya.

Anak-anak itu pun mendekat ke salah satu nisan dan menyentuh-nyentuhnya. Dan sejenak terdiam dan terus memperhatikan ukiran-ukiran indah yang terukir di nisan.

Meuseuraya hari itu diikuti oleh belasan orang yang terdiri dari tim Mapesa, empat mahasiswa, dua penduduk setempat dan dihadiri oleh dua bocah lelaki.

“Nanti ketika pulang kita sempatkan waktu untuk melihat masjid Tuha,” kata Hasan, anggota Mapesa sambil menumbuk-numbuk, memadatkan tanah di sekeliling nisan yang letaknya telah dirapikan.

Ketika kami pulang kami pun menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Masjid Tuha tersebut untuk melihat secara langsung. Sesampai di sana, kami melihat sebuah mesjid Tuha yang berdinding terbuat dari kayu dengan beralas semen dan beratap seng berdiri di sebuah tempat sepi.

Kami pun masuk ke Masjid Tuha tersebut untuk menghilangkan rasa penasaran kami. Masjid ini luasnya sekitar belasan meter, dan ketika kami menatap ke atas di tengah-tengahnya ada atap yang ditinggikan dengan sekelilingnya sedikit terbuka untuk memberikan cahaya ke ruangan bawah, seperti umumnya masjid-mesjid tinggalan Aceh Darussalam.

Di luar, di seberang halaman, tepatnya berada di sisi utara tak jauh dari masjid ada sederetan bangunan gedung sekolah, dan sisi sebelah barat dekat dengan dinding masjid ada satu komplek makam yang terselimuti oleh hutan.

Di dalam masjid itu juga bisa kita temui satu mimbarnya terbuat dari beton yang jika dilihat seperti seakan berbentuk huruf  ‘m’ kecil yang didalamnya di sebelah kanan ada satu mimbar sederhana untuk sang khatib yang terbuat dari beton.

“Di lokasi Masjid Tuha tersebut kini telah dijadikan sebagai sekolah kanak-kanak. Dan fungsinya sebagai masjid telah ditinggalkan,” tiba-tiba teringat kata penduduk setempat ketika ditanya Mizwar saat meusuraya di Makam Penghulu Meukuta tadi.[]

Penulis: Jamaluddin

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.