26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mantan Kombatan Jamal dan Filsafatnya yang Diundang Kemenlu ke Jakarta

...

  • Rino
  • 10 December 2018 23:00 WIB

Jamaluddin, S.E., M.M., ekskombatan yang sukses meraih gelar master (dua dari kiri). Foto: portalsatu.com/Istimewa
Jamaluddin, S.E., M.M., ekskombatan yang sukses meraih gelar master (dua dari kiri). Foto: portalsatu.com/Istimewa

BANDA ACEH - Mantankombatan, Jamaluddin, S.E., M.M., yang berhasil memperoleh gelar Magister Manajemen, menjadi speakers presentation dalam seminar internasional 'Oil Palm Course for Peace'.

Dalam kegiatan diinisiasi Kementerian Luar Negeri RI cq. Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan yang digelar di Jakarta, Senin, 10 Desember 2018, ini, Jamal alias Ciep-ciep mempresentasikan tesis miliknya berjudul 'Dari Filsafat Perang ke Filsafat Ekonomi Untuk Menjaga Keutuhan Perdamaian'.

Tesis tersebut menjadi atribusi Jamaluddin terhadap perdamaian dan upaya menjaga perdamaian di Aceh. Eks-GAM ini merumuskan implementasi strategi perdamaian dengan teori tiga K miliknya, yakni komitmen, kompetensi, dan koordinasi.

Komitmen yakni tekad yang bulat untuk mengimplementasikan hasil kesepakatan. Kompeten, di mana implementasi strategi membutuhkan kecakapan untuk melaksanakan semua kesepakatan damai. Dan, koordinasi.

"Dengan koordinasi, semua potensi bisa disinerjikan dengan baik. Melalui koordinasi yang matang, potensi-potensi konflik bisa dihilangkan," jelas ayah Hima Syukriah dan Haura Humairah, kepada portalsatu.com, Senin, 10 Desember 2018, malam. 

Jamal yakin, 3 K tersebut penting diterapkan agar damai di Aceh yang baru berjalan 13 tahun langgeng dan tak mengalami distorsi oleh anasir atau paham lain yang dapat mengganggu perdamaian ke depannya.

"Dalam resolusi konflik, pemusnahan alat perang hanya menjadi jeda dalam sebuah perang. Sadar atau tidak, gerakan ideologi lebih berpotensi untuk bangkit daripada gerakan non-ideologi," jelas pria kelahiran 3 Juni 1982, Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

Jamal menambahkan, terdapat perbedaan filsafat perang dan filsafat ekonomi. Jika dalam filsafat perang seseorang ditekankan untuk mengenali diri sendiri dan musuh, agar 1000 perang bisa dilewati, maka dalam filsafat ekonomi, penguatan intelejensi ekonomi yang ada pada diri sendiri menjadi penting, agar sukses, sekalipun 1000 kali bertani dilewati.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.