20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Memahami Amuk Tsunami dari Kisah Purba di Simeulue

...

  • Rino
  • 10 October 2018 11:00 WIB

ilustrasi. @ist/net
ilustrasi. @ist/net

BANDA ACEH - Kesiapsiagaan menghadapi bencana alam tidak melulu diukur sejauh mana infrastruktur dan tata ruang di suatu wilayah dipersiapkan. Kesiapsiagaan ini harus menjadi sikap dan sifat yang mengakar, membudaya, dan membumi di masyarakat.

Saat gempa dan tsunami menghantam Aceh pada Desember 2004 silam, ratusan ribu orang tewas, dan banyak bangunan luluh lantak. Aceh bak kuburan massal.

Namun, di Simeulue, salah satu wilayah kepulauan di Aceh, yang notabenenya terletak di tengah samudera, punya cerita lain. Dari sekitar 78.000 penduduk di kepulauan itu hanya delapan orang meninggal dunia saat gempa dan tsunami melanda Aceh. Sebagian sumber lain menyebutkan jumlah korban antara empat hingga tujuh orang.

Padahal, Pulau Simeulue terletak hanya sekitar 60 kilometer dari episentrum gempa bermagnitudo 9,1 itu. Lantas, mengapa di Simeulue tidak banyak jatuh korban?

Jawabannya, karena kesiapsiagaan terhadap bencana, khususnya tsunami sudah menjadi local wisdom di masyarakat kabupaten yang wilayahnya terdiri dari delapan kecamatan setelah mekar dari Aceh Barat 1999 ini.

"Orang-orang di Simeulue itu lebih tajam sonarnya daripada ikan-ikan di laut. Mereka bersekutu dengan alam. Membaca tanda-tanda alam setelah gempa," kata Ampuh Devayan, Budayawan Aceh yang juga putra kepulauan Simeulue, kepada portalsatu.com, 9 Oktober 2018.

Beda dengan daerah lain di Aceh, masyarakat di kepulauan Simeulue langsung mengungsi ke gunung dan dataran tinggi sesaat setelah gempa. Mereka telah memprediksi terjadinya tsunami.

Hal inilah yang menyebabkan banyak di antara mereka yang selamat. Adapun korban yang tidak selamat saat itu, kata Ampuh, orang yang sedang sakit atau tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa.

Sementara itu, di beberapa daerah lain di Aceh, orang malah berbondong-bondong menuju tepi pantai untuk memunguti ikan yang sedang menggelepar-gelepar, karena air laut saat itu surut, beberapa saat setelah gempa.

Ampuh melanjutkan, yang mendorong warga di Simeulue menuju ke dataran tinggi serta menghindari laut, karena sudah tertanam wasiat dari orang tua yang selalu berpesan untuk mencari tempat tinggi jika sewaktu-waktu terjadi gempa.

Hal ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami atau dalam bahasa Simeulue dikenal dengan sebutan 'smong'. "Almarhumah Mak ketika masih SD mewasiatkan: 'Mali linon, fesang smong' (kalau ada gempa (pasti) disusul air bah/tsunami)," kenang Ampuh yang saat kejadian itu ikut membawa keluarganya menuju dataran tinggi.

Wasiat tentang 'smong' dalam masyarakat Simeulue sering diceritakan dalam bentuk 'nafi-nafi' (cerita bertutur) oleh nenek atau seorang ibu kepada anaknya. Sering pula dituturkan dalam bentuk 'nanga-nanga' (semacam pantun yang sering dilafalkan oleh anak-anak di Simuelue).

Berikut salah satu bunyi nanga-nanga tersebut:

//Kilek, suluh-suluhmo/Lai’ (bubuk) kedang-kedangmo/Linon uak-uakmu/Smong dumek-dumekmo//

Artinya: //Kilat sebagai suluh (penerang) mu/Petir jadi gendang-gendangmu/Gempa jadi ayunanmu/Tsunami jadi permandianmu//.

Wasiat yang kerap dituturkan secara oral tersebut tidak lepas adanya bencana tsunami yang pernah menghantam kepulauan itu seratus tahun silam.

Peristiwa tsunami pada 1907 itu juga ditorehkan dalam sebuah ensiklopedia dari Hindia Belanda di bawah redaksi D.G. Stibbe yang terbit tahun 1909. Tertulis, pada tahun 1907 seluruh daerah pantai barat pernah dilanda ombak pasang yang cukup dahsyat dan menelan banyak korban.

Saat itu, sejumlah besar kampung benar-benar hilang ditelan ombak besar. Masyarakat Simeulue kemudian menyebut ombak besar itu dengan nama ‘smong’.

Berdasarkan penelusurannya, Ampuh menyebutkan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 14 Januari 1907, sekitar pukul 14.00. 'Smong' 1907 pusatnya berada di Salur, Mukim Bakudo Batu, Kecamatan Teupah Barat, Simeulue.

Nafi-nafi (cerita tutur) mengenai 'smong' yang terjadi pada 1907 ini masih terus diingatkan secara turun-temurun, serta menjadi konvensi tak tertulis bagi masyarakat setempat.

Bukan saja cerita tentang akibat yang ditimbulkan, tetapi juga gejala-gejala alam yang mendahaluluinya atau oleh orang di kepulauan Simeulue dikenal sebagai 'waskita' atau membaca tanda-tanda alam.

Oleh karena itu, kata Ampuh, masyarakat Simeulue adalah masyarakat yang bersekutu dengan alam. "Misal, bila terjadi gempa yang disusul dengan surutnya air laut, itu kemungkinan akan terjadi tsunami. Tanda lain jika usai gempa, hewan berlarian ke arah dataran yang lebih tinggi, semisal gunung atau perbukitan," ungkapnya.

Sehingga, lanjut Ampuh, orang Simeulue cenderung lebih percaya tanda-tanda alam daripada tsunami warning system buatan manusia, yang menurutnya dapat eror sewaktu-waktu.

Menurut Kepala Sekolah Menulis “Panteue” yang kini berdomisili di Banda Aceh ini, kearifan lokal yang ada di masyarakat Simeulue tersebut menjadi sebab minimnya korban jiwa saat tsunami menyapu beberapa wilayah di Aceh pada 2004 silam.[]

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.