18 January 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menanti Jurus Tandingan Negara Islam OKI soal Yerusalem

...

  • VIVA
  • 13 December 2017 10:40 WIB

Ribuan orang demonstrasi 'Yerusalem Milik Islam' yang diselenggarakan oleh anggota organisasi non pemerintah, di distrik Yenikapi di Istanbul, Turki, 10 Desember 2017. @Anadolu Agency
Ribuan orang demonstrasi 'Yerusalem Milik Islam' yang diselenggarakan oleh anggota organisasi non pemerintah, di distrik Yenikapi di Istanbul, Turki, 10 Desember 2017. @Anadolu Agency

VIVA – Organisasi Kerja Sama Islam melangsungkan Sidang Khusus OKI di Istanbul. Satu-satunya agenda, membahas pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. OKI merapatkan barisan, mendukung Palestina dan mengecam sikap unilateral AS.

Sidang Khusus OKI akan diadakan pada Rabu, 13 Desember 2017. Organisasi yang menaungi 57 negara anggota itu memutuskan perlu melakukan sidang tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota negara sekutunya, Israel. Tak hanya itu, AS sedang
mempersiapkan pemindahan ibu kota dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Saat akan bertolak ke Istanbul, Turki, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa kesempatan itu akan dimanfaatkan negara-negara OKI untuk menolak klaim AS.

“KTT OKI sangat penting dan berlangsung besok, 13 Desember 2017 dan ini adalah kesempatan pertama bagi negara OKI untuk secara bersama dan tegas menolak keputusan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” kata Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma, sebelum bertolak ke Turki, Selasa 12 Desember 2017.

Jokowi melanjutkan, dalam forum tersebut, Indonesia juga akan menyampaikan sikap resmi menolak klaim sepihak yang dilakukan AS yang beberapa hari terakhir memicu protes massa hingga rusuh di sejumlah wilayah.
 
Indonesia juga akan meminta OKI secara bulat, bersama-sama mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Jokowi mengatakan bahwa RI lebih awal sudah berkomunikasi dengan pimpinan negara lain maupun antarmenteri luar negeri. Menteri Luar Negeri Retno Marsudilangsung berkomunikasi dengan menlu dari berbagai negara termasuk negara-negara Uni Eropa. Kemudian Menlu juga melakukan pertemuan di Amman,
Yordania, dengan Menlu Palestina Riyad Al-Maliki.

Sementara Presiden Jokowi juga melakukan komunikasi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang juga menginisiasi segera dilangsungkannya Sidang Khusus OKI di Istanbul.

“Saya berharap kunjungan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi upaya perdamaian dunia khususnya penyelesaian sengketa antara Israel dan Palestina,” kata Jokowi.

OKI merupakan salah satu instrumen yang diharapkan bakal bisa menekan AS dan Israel soal Yerusalem selain PBB yang sudah didesak mengambil sikap. Langkah AS disebut melanggar Resolusi PBB dan kesepakatan selama ini mengenai status quo Yerusalem, kota bersejarah dan asal tiga agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Beranggotakan 57 negara, OKI menaungi negara mayoritas muslim yang bersekutu maupun rival. Arab Saudi dan Iran adalah contoh dua negara rival yang sama-sama rela berada di OKI. Sikap dua negara itu juga terlihat tak sama dalam menyikapi klaim AS. Media Iran memberitakan bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani berencana menghadiri Sidang Khusus OKI tersebut.

Berbeda dengan Arab Saudi, belum ada konfirmasi perwakilan Saudi yang akan hadir di perhelatan itu. Padahal menurut berbagai pihak, kehadiran Saudi justru sangat vital dalam sidang khusus di Istanbul mengingat hubungan Saudi dengan AS selama ini cukup “mesra”.

Agen Perdamaian

Merespons klaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel, OKI menyesalkan sikap Presiden AS. OKI melalui rilis pers menyatakan bahwa pengakuan sepihak tersebut merupakan pelanggaran dalam hal politik, hukum,  termasuk
mengaburkan sejarah. OKI mengingatkan bahwa posisi Yerusalem sebagai Al-Quds Al-Sharif harus menjadi penekanan. OKI juga menyayangkan bahwa AS yang selama ini mengaku mendukung upaya perdamaian justru melahirkan “bencana” baru di Timur Tengah.

“OKI menegaskan kembali posisi terkait Al-Quds yang merupakan bagian integral dari wilayah Palestina yang diokupasi pada tahun 1967. Kami juga menekankan tak akan memberikan legitimasi pada penjajahan Israel dan hal tersebut tak bakal mengubah sejarah dan keberadaan identitas lain di wilayah tersebut,” dirilis OKI melalui laman web resminya.

OKI menyatakan, AS secara jelas tak lagi menjadi agen perdamaian sebagaimana hal yang didengungkan selama ini.

Dalam Sidang Khusus OKI akan disikapi kembali posisi negara-negara Islam dalam konflik Palestina-Israel dan krisis di Timur Tengah. OKI mengingatkan bahwa sebenarnya sikap AS tak hanya menjadi ancaman bagi umat Muslim di Timur Tengah namun juga umat beragama lain termasuk Nasrani di Yerusalem dan Palestina.

Sikap Tandingan

Pengakuan AS di satu sisi menambah kepercayaan diri bagi Israel dan di sisi lain memberi tekanan lebih besar bagi Palestina. Tak berselang lama setelah klaim AS, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu segera melakukan perjalanan ke Eropa. Dalam kesempatan tersebut dia bertemu dengan pemimpin Uni Eropa dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Berbicara di Brussels, kota yang sudah 20 tahun tak dikunjungi oleh seorang PM Israel, Netanyahu meminta agar Uni Eropa termasuk negara-negara yang tergabung di dalamnya mengikuti langkah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Saya yakin bahwa semua atau paling tidak sebagian besar negara di Eropa akan memindahkan kedubesnya ke Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bersama-sama mengusahakan keamanan, kemakmuran dan perdamaian,” kata Netanyahu sebagaimana dinukil dari BBC.

Namun rayuan Netanyahu tampaknya belum berhasil tatkala Ketua Komite Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa Uni Eropa tak bisa mengabulkan keinginan tersebut. Uni Eropa akan tetap mengikuti konsensus termasuk status quo Yerusalem dan proses solusi damai atau two state solution yang seharusnya masih dalam proses berjalan.

Netanyahu juga sempat bertemu dengan Presiden Prancis untuk membicarakan hal tersebut. Namun Macron juga bersikap senada dengan Uni Eropa. Bahkan dia mengingatkan bahwa sikap AS dan Israel tersebut akan bisa mengusik kembali kondisi relatif stabil di Timur Tengah.

Pada saat Netanyahu sibuk “safari” ke Eropa, Presiden Palestina Mahmoud Abbas memilih berkunjung ke Kairo bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Abbas melobi Mesir yang juga anggota OKI itu untuk berada di pihak Palestina dalam kasus Yerusalem. Abbas juga menolak memenuhi undangan AS ke Washington termasuk tak mau bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence.

Para penasihat Abbas mengingatkan bahwa pada saat ini yang paling mendesak diajak berbicara adalah negara-negara di Liga Arab dan negara yang pro kepada Palestina.

Terkait pertemuan Presiden Palestina, Gubernur Palestina yang diposisikan untuk Yerusalem, Adnan al-Husayni, mengatakan bahwa pihaknya mendorong agar dalam Sidang Khusus OKI dilakukan pengakuan OKI atas Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Sikap tandingan atas AS itulah yang diharapkan Palestina akan
keluar dan menjadi hasil Sidang Khusus OKI sebagaimana disadur dari Jerusalem Post.

Sejak lama, Palestina memang berencana menjadikan Yerusalem bagian timur sebagai ibu kota negaranya pada masa depan. Husayni menilai bahwa cara tersebut akan menjadi jurus paling ampuh untuk menyeimbangkan klaim sepihak AS atas Yerusalem. Permintaan ini dilaporkan juga sudah disampaikan kepada Presiden Turki agar menjadi opsi yang disampaikan dalam sidang khusus.

Erdogan pada saat ini memiliki posisi cukup strategis di OKI mengingat dia sedang memegang tongkat estafet kepemimpinan bergantian di serikat negara-negara mayoritas Islam, OKI.

“Kami harap OKI akan segera mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Ini akan menjadi jawaban bagi Presiden Trump. Kita semua tahu bahwa Yerusalem adalah ibu kota Palestina dan perlu deklarasi untuk itu. Pengakuan ini akan memberi dampak yang sangat besar,” kata Husayni sebagaimana dikutip dari Hurriyet Daily News.[]?Sumber:viva

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.