20 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menelusuri Peta DNA Ganja

...

  • PORTALSATU
  • 21 April 2018 09:30 WIB

Phillip Hague, kepala hortikultura di Mindful, perusahaan ganja yang berbasis di Denver, membaui akar tanaman untuk mengecek kesehatannya. @Lynn Johnson/National Geographic
Phillip Hague, kepala hortikultura di Mindful, perusahaan ganja yang berbasis di Denver, membaui akar tanaman untuk mengecek kesehatannya. @Lynn Johnson/National Geographic

Tanaman ini sudah ada selama jutaan tahun, dan merupakan salah satu tanaman tertua manusia.

“Ganja tanaman yang sangat menarik dan bernilai,” komentar Nolan Kane, yang mengkhususkan diri di bidang biologi evolusi.

“Tanaman ini sudah ada selama jutaan tahun, dan merupakan salah satu tanaman tertua manusia. Namun ada begitu banyak persoalan mendasar yang harus dijawab. Dari mana asalnya? Bagaimana dan mengapa tanaman ganja berevolusi? Bagaimana semua deretan senyawa ini bisa muncul? Kita bahkan tidak tahu berapa banyak spesies ganja yang ada”, tambah Kane.

Kami tengah berdiri di dalam rumah kaca laboratorium kampus University of Colorado Boulder, memandangi sepuluh tanaman ganja yang belum lama ini diterima Kane untuk tujuan penelitian. Tanaman itu tinggi dan bertangkai kecil bak remaja kurus nan canggung, sama sekali tidak serimbun tanaman memikat yang Hague pamerkan kepada saya. Tanaman ini, seperti hampir semua jenis ganja lainnya, mengandung kadar THC rendah.

Kehadirannya di sini, dalam sekat-sekat laboratorium universitas besar, menyiratkan tahun-tahun penuh polemik untuk memenangkan persetujuan federal dan universitas. Saat ini, Kane diizinkan menumbuhkan galur ganja saja. Bahan penelitiannya yang lain ialah DNA ganja yang disuplai petani Colorado; ia mengajari mereka metode mengekstrak DNA.

Sambil menyentuh salah satu tanaman ganja di sana, Kane mengatakan bahwa ia bingung dengan larangan budidaya ganja komersial yang berlaku di AS. “Tanaman ganja menghasilkan serat dengan mutu yang tak tertandingi,” tegasnya.

“Ganja adalah tanaman biomassa yang produktivitasnya sangat tinggi, mampu mengisi ulang tanah, dan tidak rakus pupuk. Setiap tahun kami mengimpor berton-ton ganja dari Tiongkok dan juga Kanada, namun karena masalah kebijakan federal, kami tak bisa menanamnya secara legal.

Sebagai ahli genetika, Kane mempelajari ganja dari perspektif yang unik—ia menyelidiki DNA-nya. Ia seorang pria pencinta alam yang memetakan genom ganja. Meski urutannya jauh lebih pendek, yaitu sekitar 800 juta nukleotida, baginya tanaman ganja jauh lebih menarik.

Sudah ada satu bagan genom ganja yang masih berantakan, sangat terfragmentasi, dan terpencar menjadi kira-kira 60.000 keping. Tujuan ambisius Kane, yang akan memakan waktu bertahun-tahun lamanya untuk dicapai, ialah merakit fragmen-fragmen ini dalam urutan yang benar.

“Analogi saya seperti ini: ada 60.000 halaman untuk bisa menjadi buku yang bagus, namun masih berserakan di lantai,” paparnya. “Kami belum tahu bagaimana halaman itu bisa disatukan untuk menyusun kisah yang indah.”

Banyak orang yang menantikan hasil akhir dari genom ganja tersebut. “Yah, tekanannya berbeda,” katanya, “karena pekerjaan ini akan berimplikasi besar, dan semua hal yang kami kerjakan di laboratorium ini diawasi oleh banyak pihak. Anda bisa merasakannya, bukan? Semuanya berharap upaya ini akan membuahkan hasil. “

Begitu pemetaannya beres, ahli genetika yang giat ini dapat memanfaatkannya dengan segudang cara, seperti membiakkan  galur yang mengandung lebih banyak kadar senyawa langka yang memiliki manfaat medis. “

Saat Kane menggiring saya mengitari laboratoriumnya, saya melihat keceriaan di wajahnya dan di wajah staf-staf yang masih muda. Tempat ini beraura seperti perusahaan rintisan. “Ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang terbangun sedikit demi sedikit,” katanya, “namun dengan penelitian ganja ini, ilmu pengetahuan tak akan berkembang secara bertahap, tetapi pesat dan dramatis. Transformasi itu akan terjadi, bukan hanya dalam koridor pemahaman kita akan tanaman, melainkan juga akan diri kita—otak, neurologi, dan psikologi manusia.

Transformatif dalam biokimia senyawanya. Transformatif dalam dampaknya pada berbagai industri, termasuk obat-obatan, pertanian, dan bahan bakar hayati. Jangan-jangan pola makan kita pun berubah—biji ganja terbukti sebagai sumber minyak kaya protein yang amat sehat.”

Ganja, dalam istilah Kane, “mengandung berjuta kebaikan.”

Manfaat bagi dunia kesehatan

Beberapa penelitian terkait ganja sudah pernah dilakukan. Hasil yang didapat pun menunjukkan bahwa tanaman yang penuh kontrovesi ini dapat dimanfaatkan bagi dunia kesehatan.

Dalam uji laboratorium, suatu bahan aktif dalam mariyuana, THC, mencegah pembentukan plak yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer.

Suatu substansi yang ditemukan dalam mariyuana kemungkinan dapat menghilangkan plak di otak yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer, menurut sebuah studi baru.

Menulis dalam jurnal Aging and Mechanisms of Disease, para peneliti dari Salk Institute mengatakan bahwa senyawa kimia THC (tetrahidrokanabinol) dan komponen-komponen aktif lainnya dalam mariyuana dapat "mendorong hilangnya protein beta amyloid beracun yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer" dalam syaraf-syaraf yang ditumbuhkan di laboratorium.

Sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa ganja memiliki manfaat medis, beberapa penelitian lain pun juga menunjukkan bahwa ganja tidak memiliki manfaat lebih bagi dunia kesehatan.

Ganja untuk kepentingan medis tidak terbukti dapat membantu dengan sejumlah penyakit, menurut analisis komprehensif pertama mengenai potensi manfaat ganja.

Peneliti menemukan bukti kuat bahwa ganja dapat membantu mengurangi rasa sakit yang kronis dan melemaskan otot yang kaku. Namun tidak ada bukti cukup bahwa ganja dapat membantu sejumlah kondisi, seperti kegelisahan, gangguan tidur, dan sindrom Tourette, sehingga peneliti merekomendasikan studi lebih lanjut untuk menetapkan manfaat ganja untuk membantu penyakit-penyakit tersebut. Peneliti mengevalusi 79 studi yang melibatkan 6.000 pasien.

Analisis ini diterbitkan di Journal of the American Medical Association. Dalam edisi yang sama, sebuah artikel lainnya mengangkat studi yang menemukan bahwa berbagai merek produk makanan dari mariyuana tidak mencantumkan dengan akurat daftar bahan aktifnya. Lebih dari separuh di antara mereka ternyata mengandung ganja dalam kadar lebih rendah dari yang tertera di label, yang berarti konsumen tidak akan merasakan efek ganja di dalamnya.

Para ilmuwan yang terlibat dalam analisis ini mengumpulkan hasil dari studi-studi yang menguji mariyuana dan membandingkannya dengan plasebo, perawatan tanpa ganja dan tanpa perawatan sama sekali - jenis metode yang paling ketat. Kebanyakan studi tidak menemukan bukti yang konklusif akan adanya manfaat ganja, selain efek samping yang umum seperti rasa pusing, mulut yang kering dan rasa kantuk. Peninjuan terhadap riset yang lebih sederhana juga menunjukkan hasil serupa.[] Sumber: nationalgeographic.co.id

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.