25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menerima Kunci Kedai Baru, Ini Persoalan di Pasar Terpadu Lhoksukon

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 14 November 2017 18:40 WIB

Wakil Ketua Pemuda Gampong Pante (kiri) menunjukkan surat yang diterima pedagang. @CUT ISLAMANDA
Wakil Ketua Pemuda Gampong Pante (kiri) menunjukkan surat yang diterima pedagang. @CUT ISLAMANDA

LHOKSUKON – Puluhan pemilik lapak di pasar Kota Lhoksukon, Aceh Utara protes namanya dihilangkan dan diganti untuk orang lain. Padahal, mereka mengaku selalu membayar pajak tahunan Rp 250 ribu.

“Nama saya dihilangkan, padahal saya selalu membayar pajak Rp 250 ribu per tahun. Sekarang ini saya tidak ada lapak jualan lagi. Jika begini ceritanya, saya tidak bisa cari rezeki lagi. Keluarga di rumah juga sedih, karena lapak sudah diambil orang,” ujar M Hadi, 36 tahun, pedagang kelontong di pajak lama Lhoksukon, saat ditemui portalsatu.com, Selasa, 14 November 2017.

Hadi berharap, jangan ada permainan di dinas terkait untuk mengelabui pedagang. “kami tidak tahu apa maksudnya, mengapa pemilik lapak lama ditiadakan namanya untuk lapak baru di pasar terpadu. Jangan ada permainanlah,” ucap Hadi.

Hal senada dikatakan Andi Gunawan, Wakil Ketua Pemuda Gampong Pante, Lhoksukon yang ditemui di lokasi yang sama. “Pemilik kedai/lapak asli dihilangkan namanya, malah dimasukkan nama pemilik baru. Ada permainan jual beli lapak juga berkisar Rp 10 juta hingga Rp 30 juta per kedai satu pintu 3x3 meter. Selain itu, ada juga yang sama sekali tidak ada urusan dengan dagang, malah tercantum namanya sebagai pemilik lapak baru di pasar terpadu,” terang Andi.

Kata Andi, kemarin, Senin, puluhan pedagang di pasar inpres diberikan kunci kedai pasar terpadu. “Kemarin pedagang pasar inpres dikasih kunci kedai baru. Selain itu juga diberikan kertas yang diatasnya tertulis Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Tidak ada tekenan dinas, yang ada hanya nama dan alamat penerima. Mereka yang mendapat kertas itu, semua menerima kunci,” ungkap Andi.

Menurut Andi, selain persoalan nama kepemilikan lapak, belum lengkapnya fasilitas pendukung di pasar terpadu juga menjadi masalah tersendiri.

“Listrik dan air belum ada. Jalan juga masih satu arah, belum ada jalan keluar. Banyak bangunan sudah rusak sebelum ditempati. Demikian juga aliran pembuangan limbah yang tidak jelas, banyak yang tertimbun dengan ruko baru milik pengusaha-pengusaha,” tukas Andi.

Syarifuddin, pedagang kelontong di pasar inpres Lhoksukon membenarkan, para pedagang di pasar inpres sudah menerima kunci kedai dari dinas.

“Iya, kemarin ada dua petugas wanita dari dinas membagikan kunci ke pedagang. Mereka datang dikawal TNI dan Polri. Selain memberikan kunci, saya dan puluhan pedagang lainnya juga diberikan kertas menyerupai sertifikat. Di surat izin pemakaian tempat berjualan itu tertulis nama kami, termasuk saya,” jelas Syarifuddin.

Saat menerima surat tersebut, Syarifuddin mengaku sempat mempertanyakan ke petugas, bagaimana apabila itu bermasalah nantinya. “Kata petugas, itu kebijakan dari dinas. Jika memang ada yang tidak terima, silahkan datang ke Polsek. Kemarin ada juga pemilik lapak lama yang datang ke Polsek, soal ceritanya bagaimana, saya juga kurang paham. Kami, pedagang di pasar inpres besok (Rabu) dipindah lapak ke pasar terpadu. Memang sedikit susah juga, listrik dan air tidak ada di pasar terpadu,” pungkas Syarifuddin yang sudah berjualan 10 tahun di Pasar Inpres Lhoksukon.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.